Riset sebagai Ruh Pendidikan Sains, Pesan Mendalam Prof. Maskuri di Pameran SMP Sains Tebuireng

43
Prof. Maskuri saat memberikan orasi ilmiah di hadapan santri dan walisantri SMP Sains Tebuireng (foto: Albii)

Tebuireng.online— Orasi ilmiah yang disampaikan oleh Prof. Dr. H. Maskuri, M.Si. menjadi salah satu momen penting dan berkesan dalam Pameran dan Pagelaran Sains SMP Sains Tebuireng yang digelar pada Sabtu (31/1/2026). Dalam kesempatan tersebut, ia menyampaikan apresiasi mendalam selaku Ketua Dewan Pemikir dan Pengembang Lembaga Pendidikan Formal dan Nonformal Pesantren Tebuireng, sekaligus menegaskan kembali pentingnya riset sebagai ruh utama dan fondasi dasar pendidikan sains.

Dalam orasinya, Prof. Maskuri mengawali dengan pesan reflektif yang menyentuh tentang makna kehidupan. “Kalau mendoakan orang itu jangan hanya umur panjang saja, tapi umur panjang yang selalu memberikan manfaat dan keberkahan untuk diri dan masyarakat di sekitar kita, itu kunci utama ketika kita hidup,” ujarnya di hadapan hadirin.

Baca Juga: Sambutan Dzurriyah hingga Mudir Warnai Pagelaran di SMP Sains Tebuireng

Ia kemudian membagikan pengalaman pribadinya bersama KH. Salahuddin Wahid. “Saya merasa beliau memberikan surprise amanah ketika beliau di penghujung hidupnya meminta saya meneruskan menulis buku ensiklopedia Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari,” tuturnya. Amanah tersebut, lanjutnya, berhasil diselesaikan dalam kurun waktu sekitar satu hingga dua tahun melalui proses yang panjang, serius, dan penuh rasa tanggung jawab.

“Dalam benak saya ini berat, menulis itu tidak mudah, ngomong mudah tapi menulis itu lebih berat, apalagi menulis tentang seluk-beluk KH. Hasyim Asy’ari, baik terkait dengan biografi, value, atau harakahnya beliau semasa hidup ini butuh sebuah riset penelitian yang lebih mendalam dan melibatkan banyak unsur, dan itu harus bisa dipertanggungjawabkan,” jelasnya secara rinci.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Ia menambahkan bahwa proses tersebut juga membutuhkan dukungan pembiayaan, namun terasa lebih ringan karena amanah itu datang langsung dari cucu Hadratussyaikh. “Alhamdulillah selesai 2022, tapi selesai beliau sudah wafat,” kenangnya dengan nada haru.

Baca Juga: Edukasi Lingkungan Lewat Drama, Siswa SMP Sains Tebuireng Unjuk Praktikum Sains

Salah satu stand para santri saat memamerkan produk hasil kreativitas mereka (foto: albii)

Dalam konteks pendidikan, Prof. Maskuri menegaskan bahwa SMP Sains Tebuireng harus benar-benar menjadikan riset sebagai keunggulan utama dan identitas lembaga. “Kalau SMP Sains ini tidak memiliki keunggulan di bidang riset, nggak usah dinamakan sains,” tegasnya.

Ia mengapresiasi konsep pembelajaran berbasis riset yang telah dijalankan dan menyatakan kegembiraannya saat melihat langsung produk-produk karya siswa yang dipamerkan di berbagai stan pameran. “Saya pengen produk yang dihasilkan anak-anak ini harus dipublikasikan secara nasional internasional yang bisa sebagai rujukan ilmuwan nasional internasional,” katanya dengan penuh optimisme.

Baca Juga: 40 Produk Inovasi Karya Siswa SMP Sains Tebuireng Dipamerkan! Angkat Isu Lingkungan dan Kesehatan

Menurutnya, seseorang yang ahli di bidang riset akan terus berpikir, berkembang, dan menghasilkan karya. “Dampaknya di masa depan, orang yang ahli tersebut di samping dia menjadi produsen, konsumen, ilmu itu sangat mahal dalam konteks pembangunan bangsa, ini saya alami sendiri,” ujarnya.

Ketua Umum Presidium Nasional IKAPETE (Ikatan Alumni Pesantren Tebuireng) itu juga mengajak para wali santri untuk terus mendukung putra-putrinya dalam kegiatan riset.

“Dukung terus ya ibu bapak putra putrinya untuk riset, riset, riset,” pesannya, sembari berharap para siswa melanjutkan pendidikan di lingkungan yang juga berbasis riset dan penelitian.

Prof. Maskuri juga mencontohkan penelitian sederhana yang telah dilakukan oleh siswa. “Kemarin pas saya datang ke sini ada pohon juwet yang diteliti dan menghasilkan sebuah hasil penelitian, dan harapan saya diekspos melalui jurnal,” ungkapnya sebagai bentuk apresiasi sekaligus dorongan.

Lebih jauh, ia menegaskan bahwa ilmu pengetahuan dan teknologi tidak hanya bermuara pada aktivitas pembelajaran di dalam kelas. “Ilmu pengetahuan dan teknologi itu bukan sekadar bermuara dari belajar di kelas, bukan sekadar melakukan diskusi, tetapi muaranya sekali lagi dari riset,” jelasnya.

Baca Juga: Buka Pameran di SMP Sains Tebuireng, Gus Kikin Tegaskan Sains Tak Boleh Dipisahkan dari Agama

Orang yang pernah menjabat Rektor Unisma ini, juga menolak tegas adanya dikotomi antara ilmu agama dan ilmu umum. Menurutnya, seluruh ilmu bersumber mutlak dari Allah dan dapat saling terintegrasi melalui kajian Al-Qur’an, alam semesta, dan manusia.

“Kita ini diminta untuk berpikir, berpikir dan berpikir, dan berpikir ini untuk pengembangan ilmu dan teknologi adalah berbasis pada riset,” tegasnya kembali. Oleh karena itu, ia mendorong agar seluruh mata pelajaran di SMP Sains Tebuireng dirancang dan dilaksanakan berbasis riset.

“Riset, riset, dan riset, kalau sudah riset disitulah momentumnya untuk mem-publish SMP Sains ini menjadi terdepan dalam konteks Islam di Indonesia untuk kalangan SMP,” ujarnya dengan penuh keyakinan.

Menutup orasinya, Prof. Maskuri menyampaikan harapan besar terhadap para siswa SMP Sains Tebuireng. “Yang jelas kita ingin anak-anak kita menjadi pemimpin di tengah-tengah masyarakat, pemimpin dalam bidang riset, dalam bidang literasi, dalam karya, dan dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi,” pungkasnya.



Pewarta: Albii
Editor: Rara Zarary