
Tebuireng.online– Pameran dan Pagelaran Sains SMP Sains Tebuireng memasuki hari kedua pelaksanaan pada Ahad (01/02/2026). Mengusung tema besar “Science Breakthroughs: Architecting the Nation’s Future”, ajang tahunan ini menjadi panggung bagi para siswa untuk menyelaraskan kreativitas teatrikal dengan aplikasi ilmu pengetahuan yang mereka pelajari di kelas.
Pada hari kedua, sejumlah kelas dari tingkat VII dan VIII menampilkan drama edukatif yang mengangkat isu-isu krusial seperti kerusakan lingkungan, fenomena meteorologi, hingga kesadaran kesehatan. Menariknya, setiap penampilan disertai dengan penjelasan ilmiah dan praktikum sederhana di atas panggung.
Penampilan dari kelas VII-B bertajuk “Luka Sang Penjaga Hutan” menjadi salah satu sorotan. Drama ini menggambarkan dampak masif penebangan hutan secara ilegal yang memicu banjir dan tanah longsor. Tak sekadar berakting, para siswa juga menghadirkan praktikum penjernihan air keruh sebagai solusi sains untuk menjaga ketersediaan air bersih pascabencana.
Isu serupa juga diangkat oleh kelas VIII-C melalui drama “The Biggest Impact When Sumatra Flooded”. Dalam pementasan ini, siswa mendemonstrasikan percobaan daya serap air menggunakan tiga medium tanah yang berbeda. Praktikum ini memberikan visualisasi nyata kepada penonton bahwa tanah dengan vegetasi atau tanaman memiliki kemampuan meresap air hujan jauh lebih baik dibandingkan tanah gundul, sehingga efektif mencegah luapan air ke permukaan.
Selain isu lingkungan, fenomena alam di ketinggian menjadi tema unik yang dibawakan kelas VII-D. Melalui drama musikal bertema pendakian Gunung Rinjani, para siswa menjelaskan karakteristik berbagai jenis awan, termasuk awan cumulonimbus yang berpotensi memicu badai. Pesan utamanya adalah pentingnya memahami tanda-tanda alam guna meningkatkan kewaspadaan terhadap cuaca ekstrem.
Sementara itu, kelas VII-A melalui judul “0,6 Derajat di Atas Awan” mengulas risiko medis di gunung, yakni hipotermia. Mereka mempraktikkan simulasi perbedaan suhu menggunakan es batu dan kain untuk mengedukasi penonton tentang pentingnya menjaga suhu tubuh saat berada di lingkungan dingin ekstrem.
Aspek kesehatan masyarakat turut mewarnai pagelaran melalui aksi kelas VIII-E. Muhammad Sean Dewandaru, salah satu siswa, menjelaskan bahwa kelasnya membawakan drama komedi tentang penyakit diare. Edukasi dikemas secara kreatif melalui adegan “pertarungan” antara virus dan oralit di dalam perut akibat kebiasaan makan yang tidak higienis.
“Rasanya seru dan menyenangkan. Pameran tahun ini terasa lebih meriah dibandingkan tahun lalu,” ungkap Sean yang mengaku telah rutin berlatih selama sepekan terakhir.
Melalui perpaduan seni peran, musik, dan demonstrasi sains ini, SMP Sains Tebuireng berupaya menanamkan nilai kepedulian lingkungan dan kesadaran kesehatan sejak dini. Kegiatan ini tidak hanya menjadi sarana hiburan, tetapi juga instrumen edukasi efektif bagi para santri, pihak pesantren, hingga wali santri yang hadir.
Pewarta : Helfi Livia Putri
Editor: Sutan


















