Santri Mu’allimin Borong Tiga Medali di Ajang ALEPO UMM

122
Santri Mua’allimin meraih prestasi tingkat nasional (dok. istimewa)

Tebuireng.online— Kerja keras, ketekunan, dan disiplin belajar santri Unit Madrasah Mu’allimin Hasyim Asy’ari Tebuireng, kembali membuahkan prestasi gemilang yang membanggakan. Melalui ajang ALEPO (AI-Arabiyyah Festival Expo) tingkat nasional yang diselenggarakan di Universitas Muhammadiyah Malang, tiga santri Mu’allimin berhasil membawa pulang tiga medali dari cabang lomba bahasa Arab yang berbeda.

Santri berprestasi tersebut yakni Hamdan Ajir kelas V yang meraih Medali Perunggu pada cabang Olimpiade Bahasa Arab, Faris Assariy kelas V yang meraih Medali Perunggu pada cabang Musabaqoh Qiroatil Kutub, serta Idris Al Fatih kelas IV yang berhasil meraih Medali Perak pada cabang Musabaqoh Qiroatil Kutub. Capaian ini menjadi bukti nyata kesungguhan santri dalam mengembangkan kemampuan akademik, khususnya di bidang bahasa Arab.

Baca Juga: Diikuti 400 Santri, Madrasah Mu’allimin Tebuireng Peringati Isra Mikraj 1447 H

Pembina Mu’allimin, Ustadz Shobirin, menjelaskan bahwa ALEPO merupakan ajang lomba bahasa Arab berskala nasional yang digelar oleh Program Studi Bahasa Arab Universitas Muhammadiyah Malang.

“ALEPO adalah salah satu event lomba yang diadakan oleh Program Studi Bahasa Arab Universitas Muhammadiyah Malang. Terdapat beberapa cabang lomba, di antaranya Olimpiade Bahasa Arab, Qiroatul Kutub, Ghina’ Araby, dan Khitobah,” jelasnya.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

ALEPO dilaksanakan pada tanggal 30–31 Januari 2026 dan bertempat di Gedung Kuliah Bersama (GKB) IV Universitas Muhammadiyah Malang. Menurut Ustadz Shobirin, ajang ini memiliki peran yang sangat penting dalam pengembangan kemampuan bahasa Arab santri.

“Selain penting untuk menguji keterampilan dalam menguasai bahasa Arab santri, ajang lomba ini juga penting untuk memberikan motivasi bagi santri agar lebih semangat lagi dalam mendalami bahasa Arab,” ujarnya.

Baca Juga: Madrasah Mua’llimin Hasyim Asy’ari Tebuireng

Ia menambahkan bahwa mekanisme perlombaan diawali dengan proses pendaftaran, kemudian lomba dilaksanakan secara langsung di lokasi perlombaan untuk dinilai secara langsung oleh dewan juri yang kompeten di bidangnya.

Salah satu peraih medali, Hamdan Ajir, mengungkapkan tantangan yang ia hadapi selama mengikuti Olimpiade Bahasa Arab. “Tantangan utamanya bagi saya adalah waktu yang kami gunakan untuk belajar, karena kami harus menyiapkan di luar jam kegiatan wajib madrasah, sehingga di sela-sela waktu itu kami harus menyiapkan secara maksimal agar bisa mendapatkan perunggu,” tuturnya.

Hamdan juga menjelaskan cara dirinya mempersiapkan diri sebelum mengikuti ALEPO. “Kami menggunakan sela-sela waktu yang ada untuk mempelajari materi-materi yang telah disiapkan oleh Tim Lomba Mu’allimin,” katanya.

Sementara itu, Faris Assariy yang juga meraih medali pada cabang Musabaqoh Qiroatil Kutub mengaku memiliki pengalaman yang sangat berkesan selama mengikuti lomba. “Sangat mengesankan, karena kami belum banyak mengikuti lomba-lomba. Kami ini kader-kader dari mas-mas kami sebelumnya, dan Alhamdulillah bisa mendapatkan perunggu dan perak,” ungkapnya dengan penuh rasa syukur.

Baca Juga: Di Hadapan Santri Muallimin KH. Nur Muhammad Habibillah Ungkap 2 Dimensi Kehidupan

Menurut Faris, kunci utama dalam membaca dan memahami kitab berbahasa Arab adalah ketekunan dan kesabaran. “Kuncinya adalah tekun, karena bahasa Arab mempunyai tata bahasa yang indah, sehingga perlu ketekunan untuk bisa sedikit demi sedikit memahaminya,” jelasnya.

Adapun Idris Al Fatih yang masih duduk di kelas IV dan berhasil meraih Medali Perak mengaku sangat bersyukur atas capaian yang diraihnya. “Sangat senang sekali, karena kami adalah generasi penerus dari mas-mas sebelumnya yang sudah sering menjuarai lomba baca kitab. Ketika kami dikirim, Alhamdulillah bisa mendapatkan medali, walaupun belum sampai ke medali emas,” ujarnya.

Ia juga menyampaikan motivasi terbesarnya dalam mengikuti lomba Qiroatil Kutub tingkat nasional tersebut. “Motivasi kami adalah menjadikan lomba ini sebagai ajang mencari prestasi dan pengalaman. Jadi kalau kami belum menang, setidaknya kami mendapatkan pengalaman berharga,” pungkasnya.



Pewarta: Albii
Editor: Rara Zarary