
Tebuireng.online— Pengasuh Pesantren Tebuireng, KH. Abdul Hakim Machfudz membuka kegiatan Pameran Pagelaran Sains SMP Sains Tebuireng yang digelar pada Sabtu (31/1/2026). Dalam sambutannya, Gus Kikin menyampaikan rasa syukur sekaligus apresiasi atas perkembangan kualitas pameran sains yang dinilai terus meningkat setiap tahun.
“Alhamdulillah kita berada di pameran pagelaran sains, dan setiap tahun kualitasnya meningkat, sampai matang,” ungkap Gus Kikin di awal sambutan.
Baca Juga: 40 Produk Inovasi Karya Siswa SMP Sains Tebuireng Dipamerkan! Angkat Isu Lingkungan dan Kesehatan
Di tengah cuaca yang cukup panas saat acara berlangsung, Gus Kikin sempat bergurau kepada para siswa dan hadirin. “Mungkin ke depannya nanti mampu membuat sesuatu untuk mendinginkan ruangan ini,” celetuknya, yang disambut tawa ringan para peserta.
Lebih lanjut, Gus Kikin menegaskan bahwa pendidikan di Pesantren Tebuireng memiliki karakter khas, yakni memadukan agama dan sains. Menurutnya, keduanya tidak boleh dipertentangkan.
“Di seluruh Pesantren Tebuireng kita berbasis agama. Di sini agama ada, sains juga ada,” tegasnya.
Ketua PWNU Jatim itu menjelaskan, bahwa sejatinya sains berangkat dari Al-Qur’an. Gus Kikin mencontohkan bagaimana perkembangan ilmu pengetahuan membuktikan hal-hal yang sebelumnya telah disebutkan dalam Al-Qur’an.
“Sebetulnya sains itu berangkatnya dari Al-Qur’an. Zaman dulu orang-orang tidak tahu bahwa bumi itu bulat. Setelah mampu mengembangkan teknologi dan membuat pesawat luar angkasa, baru tahu kalau bumi itu bulat. Di Al-Qur’an pun sudah disebutkan, baik secara langsung maupun tidak langsung,” jelasnya.
Menurutnya, untuk melahirkan teknologi baru dibutuhkan proses riset dan penelitian yang serius. Karena itu, pendidikan sains harus terus dikembangkan, namun tetap berpijak pada nilai-nilai agama.
Baca Juga: Pameran SMP Sains Tebuireng Segera Digelar, Siap Unjuk 40 Inovasi dan Pentas Sains!
“Memang ada yang butuh riset-riset dan penelitian untuk bisa menjadikan teknologi baru. Tapi di Tebuireng, pendidikan agama harus tetap dipertahankan. Fondasi agamanya harus kuat, tapi juga menguasai teknologi,” lanjutnya.

Cicit Hadratussyaikh itu menegaskan, bahwa lulusan Tebuireng tidak hanya dituntut cakap secara akademik, tetapi juga memiliki karakter dan akhlak yang kuat. “Lulusan dari sini harus bisa menguasai itu semua dan tetap menjadi lulusan Tebuireng dengan akhlaknya,” ujarnya.
Dalam sambutan tersebut, Gus Kikin juga mengingatkan kembali hadis dialog antara Malaikat Jibril dan Rasulullah SAW. Ia mengisahkan bagaimana Malaikat Jibril bertanya tentang Islam, iman, dan ihsan.
“Malaikat Jibril bertanya, ‘Ya Muhammad, ceritakan kepadaku mengenai Islam.’ Kemudian Rasulullah menyampaikan rukun Islam dan dibenarkan oleh Malaikat Jibril,” tuturnya.
Baca Juga: Lewat Pameran Sains, Siswa SMP Sains Unjuk Puluhan Karya Inovatif
Ia melanjutkan, Malaikat Jibril kemudian bertanya tentang iman. “Ya Muhammad, ceritakan kepadaku mengenai iman. Lalu Rasulullah menyampaikan rukun iman dan kembali dibenarkan oleh Malaikat Jibril,” katanya.
Pertanyaan terakhir, lanjut Gus Kikin, adalah tentang ihsan. “Malaikat Jibril bertanya, ‘Ya Muhammad, ceritakan kepadaku mengenai ihsan.’ Rasulullah menjawab, ‘Hendaklah engkau beribadah seakan-akan engkau melihat Allah. Jika engkau tidak bisa melihat-Nya, sesungguhnya Allah melihatmu,’” jelasnya.
Dari hadis tersebut, Gus Kikin menekankan pentingnya kesadaran bahwa setiap perilaku manusia selalu dalam pengawasan Allah. “Kalau sedang beribadah, yakinlah Allah itu melihat,” ujarnya.
Ia pun berpesan kepada siswa SMP Sains Tebuireng agar nilai ihsan dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari, terutama saat salat. “Pesan saya untuk anak-anak SMP Sains, dipraktikkan saat salat. Konsentrasi, karena kita sedang berhadapan dengan Allah,” pesannya.
Gus Kikin juga menyinggung pertanyaan Malaikat Jibril tentang waktu kiamat. “Ketika Jibril bertanya kapan kiamat, Rasulullah menjawab bahwa Malaikat Jibril lebih tahu daripada Rasulullah,” ungkapnya.
Baca Juga: Pameran dan Pagelaran Sains, Ini Apresiasi Kepala Sekolah dan Pengasuh

Di akhir sambutan, Gus Kikin kembali mengingatkan para santri agar tidak lalai terhadap kewajiban agama, khususnya salat. “Saat bermain atau pergi ke mana pun, jangan sampai lalai dalam salat. Kita harus sadar kalau Allah melihat perilaku kita,” tegasnya.
Ia menambahkan bahwa rusaknya perilaku manusia menjadi salah satu sebab rusaknya kehidupan. Karena itu, santri harus selalu menjaga sikap dan tidak bertindak sembrono. “Kita harus paham bahwa kita sedang diawasi oleh Allah, sehingga tidak main-main dalam kegiatan sehari-hari,” ujarnya.
Baca Juga: Keterlibatan SMP Sains di Jombang Eco Creative
Menutup sambutan, Gus Kikin menegaskan peran lulusan Tebuireng di tengah masyarakat. “Di sini kalian belajar sains. Lulusan Tebuireng harus mampu terjun ke masyarakat dan menjadi tokoh. Zaman dulu terbukti banyak alumni Tebuireng yang menonjol di masyarakat,” katanya.
Menurut Yai Kikin, kunci keberhasilan tersebut adalah kemampuan membaur dengan masyarakat tanpa meninggalkan nilai agama. “Kuncinya adalah membaur di masyarakat, dilandasi agama, dan hatinya selalu nyambung kepada Allah,” pungkasnya.
Pewarta: Albii
Editor: Rara Zarary


















