Buku terbitan Pustaka Tebuireng

Dalam dunia literasi, terdapat istilah yang tak asing di pena penulis dan lisan pembaca. Sastra merupakan manifestasi tertinggi seorang penulis ketika menuangkan kata-kata ke atas kertas. Karena kalimat yang tertulis di atas kertas, bukan sekadar kata-kata hampa tanpa makna. Bak sebuah pisau, kata-kata dapat menjadi pisau senjata yang mengoyak dan membunuh berbagai ideologi, pun dapat menjadi alat yang bermanfaat, membangun berbagai pengetahuan untuk kemajuan peradaban.

Permainan kata-kata itulah disebut dengan sastra. Panuti Sudjiman mengungkapkan bahwa sastra sebagai karya lisan atau tulisan yang memiliki berbagai ciri keunggulan seperti keorisinilan, keartistikan, keindahan dalam isi, dan ungkapannya. The power of words, karena kata-kata mempunyai nyawa.

Bukankah kita perhatikan bahwa kitab suci Al-Quran merupakan kitab yang memiliki nilai sastra yang sangat tinggi. Diungkap dalam sejarah, bahwa masyarakat Arab kala itu memiliki kemampuan sastra yang sangat luar biasa. Sastra Arab itu memiliki tingkat kerumitan yang tinggi. Maka Al-Quran turun dengan sastra yang tak tertandingi, bahkan sastrawan terkenal di jazirah Arab.

Meski sulit ada banyak ahli sastra yang lahir bukan dari bangsa Arab. Salah satunya adalah KH. Abdul Karim Hasyim, putra KH. M. Hasyim Asy’ari pendiri Nahdlatul Ulama dan Pesantren Tebuireng. Hal ini dapat diketahui melalui biografi beliau yang disusun menjadi sebuah karya.

“Di mata murid-muridnya Kiai Karim dikenal dengan sosok kiai yang sangat mumpuni dalam berbagai ilmu, di samping almarhum pandai dalam beberapa fan ilmu seperti fiqh, Arab, dan lain beliau juga dikenal sebagai kiai yang cukup besar hummahnya dalam menggeluti sastra terutama sastra Arab bukan hanya fasih dalam mengucapkan tapi juga sangat ulet dalam memahami kandungan makna sastra Arab tersebut disamping itu beliau juga banyak mengahafal banyak sastra, Maqolah dan puisi-puisi berbahasa Arab.” (hal. 44)

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Buku biografi ini ditulis berdasarkan data kualitatif, artinya data yang diperoleh berbentuk selain angka atau bilangan. Data-data mengenai tokoh didapat melalui wawancara dan dokumentasi mengenai tokoh.

Dalam buku ini tokoh tidak hanya disorot dari kiprahnya dalam dunia sastra arab saja. Penulis menyajikan tokoh dengan berbagai kiprah yang pernah dijalani, seperti tenaga pendidik dan politikus. “Pada saat pak Harto menjadi presiden dan mendirikan partai Golkar pada tahun 1970-1971, almarhum KH Abdul Karim Hasyim termasuk salah seorang ulama yang direkrut untuk menjadi angggota DPR RI dari partai Golkar.” (hal. 57)

Dalam buku ini, sayangnya penulis tidak menyajikan karya-karya tokoh secara spesifik. Buku ini hanya memaparkan bukti bahwa tokoh adalah seorang yang pandai dalam sastra arab, namun tidak ditunjukkan karya-karya tokoh yang sudah dituliskan dalam bentuk buku atau kitab yang terkodifikasi.

Di sisi lain, buku biografi ini dapat dibilang cukup kreatif. Meski biografi tokoh ditulis secara singkat, namun di bagian akhir buku ini, disusun bab khusus yang menampung testimoni dan sepenggal kenangan dalam bentuk cerita atau pun puisi dari orang-orang yang pernah bercengkrama dengan tokoh.

Setidaknya, melalui buku biografi ini menambah wawasan umat, bahwa siapa saja, bisa menjadi apa saja. Bukan orang yang lahir dari darah Arab, namun dapat menguasai sastra Arab.


Judul Buku      : Kiai Sastrawan yang Tak Dikenal, Biografi Almarhum KH. Abdul Karim Hasyim
Penerbit           : Pustaka Tebuireng
Penulis             : Muhammad Subkhi dan Ahmad Sholihin
ISBN               : 978-602-8805-11-7
Halaman          : xxxvi, 122
Peresensi         : Al Fahrizal

SebelumnyaSering Lupa? Pahami Seni Melatih Daya Ingat
BerikutnyaPeace Train Indonesia, Merawat Kebinekaan Seperti Gus Dur