Tebuireng.online- Peace Train Indonesia, beserta Persekutuan Gereja Indonesia (PGI) menggelar ziarah bersama di komplek pemakaman masyayikh Pesantren Tebuireng pada Minggu (31/07/2022). Foto: istimewa

Tebuireng.online- Peace Train Indonesia, beserta Persekutuan Gereja Indonesia (PGI) menggelar ziarah bersama di komplek pemakaman masyayikh Pesantren Tebuireng pada Minggu (31/07/2022). Kegiatan ziarah tersebut merupakan program rutinan tahunan dari Peace Train Indonesia angkatan ke-14, yang mana pesertanya terdiri dari para pemuda-pemudi dari seluruh daerah di Indonesia dan juga dari latar belakang umat beragama yang berbeda.

Pendeta Gomar Gultom, selaku pimpinan rombongan, menjelaskan bahwa para pemuda-pemudi yang mengikuti rombongan ini berasal dari berbagai agama yang berbeda. “Ada yang dari agama Kristen, Islam, Hindu, Budha dan Konghucu bahkan dari agama lokal seperti Agama Baha’i serta Agama Sikh juga ikut dalam rombongan ini,” ungkap Ketua Umum dari Persekutuan Gereja Indonesia (PGI) tersebut.  Ia juga menjelaskan bahwa kegiatan rombongan berziarah ke makam Gus Dur, ingin berdoa bersama agar seluruh spirit dan perjuangan Gus Dur bisa diwarisi oleh angkatan-angkatan muda.

Bagi Pendeta Gomar Gultom, sosok Gus Dur adalah sosok sang pemikir besar untuk bangsa kita. Waktu yang dihabiskan oleh Gus Dur ialah selalu belajar dan menimba ilmu tanpa henti. “Kita ketahui bersama, Gus Dur adalah salah seorang pemikir besar untuk bangsa kita, ia orang yang tidak berhenti menimba ilmu, selalu membaca buku,” imbuhnya.

Tidak berhenti di situ saja, ia juga menjelaskan bahwa Gus Dur adalah sosok pemimpin yang sangat yang berani melawan arus. Di tangan Gus Dur, undang-undang yang berbau deskriminatif dapat diubah oleh beliau.

“Di tangan Gus Dur undang-undang berbau deskriminatif berhasil dihapuskan. Seperti contohnya pelarangan agama Konghucu yang dulunya dilarang di Indonesia, saat ini dapat diterima atas jasa seorang Gus Dur,” ungkapnya.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Setelah mengirim doa dan tabur bunga di makam Gus Dur, para rombongan melanjutkan dengan silaturahmi ke Ndalem Ibu Nyai Farida Salahuddin Wahid, selaku istri dari almarhum KH. Salahuddin Wahid, adik dari Gus Dur.


Pewarta: Dimas

SebelumnyaReview Buku Kiai Sastrawan yang Tak Dikenal
BerikutnyaMerdeka Belajar! Rektor Unhasy Lepas Ratusan Mahasiswa Kuliah di Luar Kampus