Relationship Goals dalam Perspektif Islam

78
Ilustrasi pasangan (sumber: nidaulquran)

Di era media sosial saat ini, istilah “Relationship Goals” telah mengalami pergeseran makna. Target ideal sebuah hubungan seringkali diukur dari aspek estetika semata: foto prewed yang mewah, traveling ke Eropa, hingga hadiah-hadiah mahal yang dipamerkan. Hubungan yang tampak sempurna di layar seringkali menjadi standar kebahagiaan, padahal fondasi spiritual dan karakter yang kokoh tak pernah tersentuh. Standar ini mudah goyah, sebab keindahan fisik dan materi adalah hal yang paling cepat pudar. Lantas, adakah standar hubungan yang abadi dan memberikan ketenangan batin?

Baca Juga: Anjuran dalam Memilih Pasangan Hidup

Untuk menemukan standar “Relationship Goals” yang sejati, kita perlu kembali kepada ajaran para ulama yang fokus pada pembentukan karakter. Salah satunya adalah Abu Zakariya Muhyiddin bin Syaraf An-Nawawi Ad-Dimasyqi atau lebih dikenal sebagai Imam Nawawi, melalui kitab agungnya, Riyadh as-Salihin. Kitab ini adalah panduan etik dan moral yang bersumber dari hadis Nabi SAW. Menurut Imam Nawawi, “Relationship Goals” sejati bukanlah tujuan materi, melainkan tujuan karakter dan spiritual bersama. Hubungan yang ideal adalah hubungan yang membawa pasangan semakin dekat kepada Allah (mahabbah fillah).

Imam Nawawi secara implisit menempatkan keindahan perlakuan (husnul khuluq) sebagai pilar utama “Relationship Goals“. Beliau menekankan bahwa kemuliaan seorang suami terletak pada bagaimana ia memperlakukan istrinya, dan sebaliknya. Standar ini sesuai dengan titah Al-Qur’an:

وَعَاشِرُوْهُنَّ بِالْمَعْرُوْفِۚ

dan pergaulilah mereka (istri-istri itu) dengan cara yang patut (makruf).” (QS. An-Nisa [4]: 19).

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Baca Juga: Menemukan Pasangan Hidup yang Tepat

Kutipan ini mengajarkan bahwa inti dari hubungan yang sukses adalah Mu’asyarah bil Ma’ruf—pergaulan dengan cara yang baik, penuh keadilan, dan kasih sayang. Kerelaan untuk tidak selalu menuntut dan kesediaan untuk berkorban menjadi ciri utama dari hubungan yang makruf ini.

Tidak ada hubungan yang selalu berjalan mulus tanpa ujian. Setiap pasangan pasti pernah menghadapi kegagalan, baik dalam urusan karier, masalah keuangan, maupun konflik dalam rumah tangga. Pada titik inilah nasihat ulama Nusantara, Syekh Muhammad Nawawi al-Bantani, menjadi pelengkap yang menenangkan bagi ajaran Imam Nawawi.

Meski Nashaihul Ibad lebih banyak membahas adab ibadah dan nasihat spiritual, hikmah di dalamnya sangat relevan untuk menjaga keteguhan hati pasangan ketika hidup terasa gelap dan berat. Syekh Nawawi al-Bantani mengingatkan bahwa saat keadaan terasa buntu dan penuh kegelapan, yang perlu dilakukan bukanlah putus asa, melainkan menunggu pertolongan Allah dengan penuh harap. Beliau mengutip sebuah hikmah:

اِذَا اَظْلَمَ عَلَيْكَ اَوْسَادَ فَاِنْتِظَارُ النُّوْرِ مِنْهُ عِبَادَةٌ

Jika kegelapan menyelimuti hidupmu, maka menantikan cahaya dari Allah adalah bagian dari ibadah.”

Baca Juga: Meraih Surga Bersama Pasangan

Pesan ini mengajarkan bahwa bertahan, berharap, dan tetap percaya kepada Allah di masa sulit bukanlah sikap lemah, melainkan bentuk ibadah yang menumbuhkan kekuatan batin dan menjaga keutuhan hubungan.

Dalam konteks hubungan, nasihat dari Nashaihul Ibad ini berarti bahwa ketika rumah tangga dilanda masalah (kegelapan), sikap menunggu solusi atau titik terang bersama-sama adalah sebuah ibadah relationship goals sejati bukan tentang menghindari masalah, melainkan tentang bagaimana pasangan memperlakukan setiap kesulitan sebagai ladang pahala yang harus dilalui dengan ridha, kesabaran, dan keyakinan teguh bahwa Allah akan memberikan jalan keluar. Hubungan yang mulia adalah yang menjadikan badai ujian sebagai saksi bisu kekuatan iman mereka.

Maka, mari kita geser standar Relationship Goals kita. Standar sejati bukanlah foto indah di media sosial, melainkan keindahan hati dan perlakuan yang tidak pernah pudar oleh waktu. Standar R-Goals menurut Imam Nawawi adalah ketika pasangan kita adalah orang yang paling lembut dan baik akhlaknya bagi kita, menjadikan hubungan kita sebagai jalan tercepat menuju ridha Allah. Bukankah ketenangan dan kedamaian batin jauh lebih mahal dari sekadar like dan follower?



Penulis: Silmi Adawiya, Mahasiswa S3 UIN Malang