Tuhan Itu Adil Tapi Bukan Di Mata Orang yang Tidak Berpikir

1
Sebuah ilustrasi manusia saat beribadah (sumber: istimewa)

Penulis: M. Syukron Ni’am*

“Tuhan itu tidak adil.” Kalimat putus asa ini mungkin sering sekali kita ucapkan, kita dengar dari orang lain, atau sekadar terbesit sejenak di dalam pikiran kita. Ironisnya, kalimat gugatan semacam ini nyaris tidak akan pernah keluar dari mulut kita dalam kondisi yang menguntungkan. Kalimat ini biasanya baru meledak ketika kita sedang berada di titik terendah atau dalam kondisi yang serba terpuruk.

Contoh sederhananya sering kita temui dalam dinamika hubungan sosial sehari-hari, misalnya saat seseorang sedang memperjuangkan cintanya. Seseorang bisa saja berusaha mati-matian memberikan apa pun yang ia miliki kepada orang yang disukainya. Jika diminta uang, ia berikan. Jika diminta barang mewah seperti ponsel keluaran terbaru, ia belikan. Bahkan, andaikata orang tersebut meminta gunung sekalipun, ia mungkin akan berusaha memberikannya.

Baca Juga: Perlunya Keadilan dan Taubat Ekologis

Namun, pada akhirnya kenyataan pahit sering kali terjadi: orang yang diperjuangkan justru menjatuhkan pilihan hatinya kepada orang lain yang tidak berkorban apa-apa, hanya karena orang tersebut memiliki wajah yang menawan. Sementara itu, pihak yang sudah berkorban tersingkirkan hanya karena dianggap kurang menarik secara fisik—sebuah ketetapan rupa yang sejak awal tidak bisa ia pilih atau ubah.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Realita sosial yang bertumpu pada penampilan ini tidak hanya terjadi di ruang publik secara umum, tetapi terkadang juga menyusup ke ranah pendidikan keagamaan, seperti di pondok pesantren. Di lingkungan yang seharusnya penuh dengan nilai kesetaraan, terkadang masih ada kecenderungan di mana orang yang memiliki paras menawan lebih diunggulkan, diperhatikan, atau dimaklumi kesalahannya dibandingkan mereka yang berparas biasa saja. Parahnya lagi, standar fisik ini sering kali memicu kasus perundungan (bullying) terhadap mereka yang dianggap memiliki paras kurang ideal.

Lalu, apakah fenomena ketimpangan perlakuan ini membuktikan bahwa Tuhan benar-benar tidak adil? Tentu saja tidak. Tuhan adalah Zat Yang Maha Adil (Al-‘Adl), yang menempatkan segala sesuatu pada keseimbangan yang paling sempurna. Menghakimi Tuhan sebagai Zat yang tidak adil hanya dari kejadian yang tampak di permukaan adalah sebuah kesimpulan yang sempit. Anggapan bahwa Tuhan tidak adil sebenarnya hanya muncul di mata mereka yang enggan untuk berpikir lebih dalam dan menelaah hikmah di balik setiap ciptaan-Nya.

Baca Juga: Kerancuan Filsafat Ilahiyyah (Ketuhanan) Perspektif Imam Ghazali

Sudah sering kita gaungkan dalam Asmaul Husna yang kita hafal sejak kecil bahwa Allah adalah Al-‘Adl. Di dalam karya agung-Nya, Al-Qur’an, Allah SWT juga berfirman dengan sangat tegas:

﴿إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَظۡلِمُ مِثۡقَالَ ذَرَّةٖۖ وَإِن تَكُ حَسَنَةٗ يُضَٰعِفۡهَا وَيُؤۡتِ مِن لَّدُنۡهُ أَجۡرًا عَظِيمٗا ٤٠﴾

Artinya: “Sungguh, Allah tidak akan menzalimi seseorang walaupun sebesar zarrah, dan jika ada kebajikan (sekecil zarrah), niscaya Allah akan melipatgandakannya dan memberikan pahala yang besar dari sisi-Nya.” (QS. An-Nisa: 40).

Tuhan sendiri telah menyatakan bahwa Dia tidak akan menzalimi hamba-Nya sedikit pun. Lalu, dari sudut pandang mana kita berani mengatakan bahwa Tuhan tidak adil? Sebagai bentuk pembelaan terhadap keadilan Tuhan atas masalah fisik ini, ada dua konsep utama yang bisa kita jadikan pijakan berpikir.

Pertama, Tuhan menciptakan relativitas keindahan. Di balik apa yang sering manusia keluhkan sebagai ketidakadilan fisik, Tuhan sebenarnya memberikan penyeimbang berupa relativitas pandangan. Artinya, ketampanan atau kecantikan bukanlah sebuah rumusan matematika yang pasti. Tidak semua orang yang menurut kita tampan atau cantik, akan dinilai sama oleh orang lain.

Seseorang mungkin dianggap primadona di suatu desa dan dipuja oleh banyak orang dari berbagai kalangan, namun di tempat lain, pesonanya mungkin dianggap biasa saja. Begitu pula dengan tokoh-tokoh dalam sejarah maupun kisah fiksi yang tersohor akan parasnya; daya tarik mereka tetap memiliki ruang untuk dinilai secara berbeda oleh setiap mata yang memandang. Karena Tuhan menciptakan sudut pandang keindahan secara subjektif, bukan mutlak menyeluruh, maka tidak ada monopoli kecantikan di dunia ini. Inilah bentuk keadilan Tuhan yang jarang disadari.

Baca Juga: Produksi Realitas Digital dan Kebutuhan Psikologis yang Tak Terpenuhi

Kedua, Tuhan memberikan keseimbangan melalui distribusi karunia atau keistimewaan yang berbeda-beda bagi setiap individu. Sangat tidak mungkin bagi Tuhan untuk menumpuk semua keistimewaan pada satu orang hamba sehingga ia menjadi sosok yang seratus persen sempurna. Meskipun seseorang diberi ketampanan atau kecantikan fisik yang luar biasa, bisa jadi ia tidak dikaruniai kelapangan harta, kecerdasan akademis, atau bakat dalam bidang tertentu seperti menulis, mendesain, atau berbisnis.

Sebaliknya, mereka yang fisiknya sering diremehkan, justru sering kali dibekali oleh Tuhan dengan bakat luar biasa, keuletan, dan kecerdasan yang tidak dimiliki oleh orang-orang berparas menawan. Kehidupan ini layaknya sebuah timbangan dengan dua sisi. Setiap kekurangan yang dititipkan pada diri kita pasti diiringi dengan kelebihan yang berfungsi sebagai penyeimbang.

Oleh karena itu, apakah kamu masih tetap ingin mengatakan bahwa Tuhan itu tidak adil? Mulai saat ini, mari kita ubah pola pikir kita. Selami dan pikirkan secara matang setiap ketetapan-Nya, lalu buang jauh-jauh anggapan bahwa Tuhan berlaku zalim. Lebih penting lagi, jauhilah segala bentuk perundungan fisik.

Baca Juga: Memahami Konsep Ketuhanan dalam Ayat-ayat Al-Quran

Di balik kekurangan seseorang yang sering menjadi sasaran ejekan, pasti tersimpan sebuah karunia besar yang sedang menunggu untuk bersinar. Dan bukan tidak mungkin, suatu saat nanti, kelebihan luar biasa itulah yang akan mengangkat derajat mereka jauh lebih tinggi, hingga membuat orang-orang yang dulu merundungnya harus menunduk penuh hormat.