Realitas Pahit Lulusan Muda

60
Ilustrasi lulusan muda (sumber: omongomongmedia)

Setiap tahun, Indonesia melahirkan jutaan lulusan baru dari SMA, perguruan tinggi, hingga lembaga pendidikan vokasi. BPS mencatat bahwa lulusan muda berusia 20–24 tahun mendominasi angka pengangguran terbuka. Data itu mengonfirmasi apa yang banyak dirasakan mahasiswa tingkat akhir: bahwa euforia wisuda sering kali hanya bertahan sekejap sebelum digantikan kecemasan tentang masa depan. Pertanyaan yang mengemuka kemudian bukan lagi “kapan wisuda?”, tetapi “setelah lulus, aku harus bagaimana?”

Dalam kultur masyarakat Indonesia, transisi menuju kedewasaan sering dipenuhi ekspektasi sosial dan keluarga. Banyak orang tua yang melihat kelulusan sebagai penanda bahwa anak siap mandiri secara ekonomi. Tidak sedikit yang menganggap bahwa setelah menyelesaikan pendidikan, anak seharusnya segera “menghasilkan”, bahkan sebagian beranggapan kewajiban membiayai anak sudah selesai.

Di sisi lain, ada pula keluarga yang memandang pendidikan sebagai amanah yang harus ditunaikan tanpa menuntut balasan langsung. Namun tekanan sosial tetap hadir dalam beragam bentuk—mulai dari pertanyaan soal pekerjaan hingga dorongan untuk cepat menikah. Realitas dunia kerja membuat tekanan itu semakin kuat. Lapangan kerja tumbuh lebih lambat daripada jumlah lulusan. Satu lowongan dapat diperebutkan ratusan pelamar, dan persyaratan kompetensi meningkat dari tahun ke tahun.

Baca Juga: Dilema Lulusan D3: Ekstensi atau Kerja?

Dunia kerja kini menuntut keterampilan digital, kemampuan berpikir kritis, serta pengalaman yang tidak selalu dapat diperoleh di bangku kuliah. Alhasil, lulusan muda berada dalam posisi dilematis: dianggap cukup dewasa untuk mandiri, tetapi belum sepenuhnya memiliki kapasitas yang dipersyaratkan dunia profesional. Kondisi inilah yang membuat sebagian anak merasa menjadi beban keluarga setelah lulus. Mereka mulai menghitung biaya hidup yang masih ditanggung orang tua dan merasa bersalah ketika belum dapat berkontribusi secara finansial.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Situasi ini memunculkan rasa rendah diri sekaligus kecemasan, terutama ketika melihat teman sebaya yang tampak lebih cepat “berhasil”. Namun, di sisi lain, orang tua pun menghadapi pergulatannya sendiri. Ada yang merasa tetap berkewajiban menopang anak hingga benar-benar stabil, tetapi ada pula yang berharap anak segera mandiri setelah menamatkan pendidikan. Bahkan sebagian keluarga menganggap bekerja atau menikah adalah dua opsi paling cepat “mengamankan masa depan”, padahal keduanya bukan solusi instan. Menikah misalnya, tidak otomatis menyelesaikan persoalan finansial; ia justru membuka babak baru tanggung jawab ekonomi dan emosional.

Jika kita menengok pendidikan modern, para pakar menyebut masa usia 21–27 tahun sebagai fase “emerging adulthood”, sebuah periode pencarian identitas dan pembentukan fondasi karier. Pada fase ini, ketidakstabilan adalah normal. Banyak orang baru menemukan jalannya pada usia akhir 20-an atau awal 30-an. Karena itu, mengharapkan seseorang sudah mapan segera setelah lulus bukanlah sesuatu yang realistis. Lalu bagaimana seorang lulusan muda dapat menjalani fase ini secara sehat?

Pertama, komunikasi dengan keluarga harus dibangun secara terbuka. Banyak konflik terjadi bukan karena anak tidak berusaha, tetapi karena orang tua tidak tahu apa yang sedang diperjuangkan anaknya. Dengan menjelaskan rencana, target, dan progres kecil sekalipun, orang tua dapat melihat bahwa proses sedang berjalan. Kedua, lulusan muda perlu menyusun langkah konkret. Peta jalan karier tidak harus sempurna, namun harus ada arah. Misalnya tiga bulan memperkuat keterampilan tertentu, dua bulan mencari pengalaman magang, hingga mencoba peluang usaha kecil. Orang tua biasanya tidak mempermasalahkan lamanya proses, selama melihat adanya kesungguhan dan gerak.

Baca Juga: Salah Kaprah Anggapan Sarjana Harus Jadi Guru, Bagaimana Nasib Profesi Lain?

Ketiga, kemandirian tidak harus selalu berupa uang. Membantu pekerjaan rumah, mengurangi beban orang tua, menjaga disiplin diri, dan mengelola emosi adalah bagian dari proses menjadi dewasa. Kemandirian emosional dan tanggung jawab personal adalah fondasi yang sama pentingnya dengan kemandirian finansial. Terakhir, lulusan muda perlu menghargai proses yang sedang dijalani. Tidak ada standar waktu universal untuk sukses. Tidak semua orang kaya di usia 25. Tidak semua orang menikah dalam waktu cepat. Dan tidak semua orang menemukan pekerjaan impian sejak awal. Yang terpenting adalah komitmen untuk terus belajar, mencari peluang, dan bertumbuh tanpa mengorbankan kesehatan mental.

Pada akhirnya, pertanyaan “setelah lulus, kita beban atau harapan?” bukan soal siapa membebani siapa, melainkan bagaimana keluarga dan anak berjalan bersama dalam masa transisi menuju kedewasaan. Anak yang sedang berproses bukanlah beban, selama ia terus berusaha. Dan orang tua yang mendukung bukan sekadar penopang, tetapi bagian dari perjalanan panjang membangun generasi yang tangguh. Karena kedewasaan bukan ditentukan oleh cepatnya seseorang mapan, tetapi oleh keberanian mengambil tanggung jawab atas hidup yang sedang dibangun.



Editor: Rara Zarary
Penulis: Albii