MINHA Raih Nominasi Penghargaan Nasional sebagai Museum Komunikatif 2025

82
Penerimaan penganugerahan nominasi Museum Komunikatif 2025 (doc. minha)

Tebuireng.online— Museum Islam Indonesia Hasyim Asy’ari (MINHA) mencatat prestasi membanggakan di tingkat nasional. Ahad 23 November 2025, museum yang terletak di kompleks Pesantren Tebuireng, Jombang, ini menerima Piagam Penghargaan kategori Museum Komunikatif dalam ajang bergengsi Indonesia Museum Award 2025, yang diselenggarakan oleh Komunitas Jelajah di Jakarta.

Penghargaan tersebut diberikan kepada museum yang dinilai mampu menghadirkan komunikasi publik yang efektif, edukatif, serta inovatif dalam menyampaikan sejarah kepada masyarakat luas.

Baca Juga: Meriahkan Haul ke-15 Gus Dur, MINHA Gelar Festival Islam Nusantara

Penanggung Jawab Unit Museum MINHA, Mujiburrohman S.Pd M.Pd, menyampaikan bahwa penghargaan ini merupakan capaian penting bagi museum yang sejak awal berdiri berkomitmen menjadi ruang pembelajaran sejarah Islam Indonesia yang inklusif.

“Penghargaan ini menjadi bentuk apresiasi atas komitmen kami dalam menghadirkan museum yang tidak hanya menyimpan koleksi, tetapi juga menyampaikan cerita, nilai, dan pesan sejarah dengan cara yang mudah dipahami pengunjung,” ujarnya.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Ia menambahkan bahwa penghargaan ini menjadi motivasi baru bagi seluruh tim. “Kami menerimanya sebagai dorongan untuk terus berinovasi agar museum semakin relevan dan dekat dengan masyarakat.”

Piagam Penghargaan Museum Islam Indonesia KH Hasyim Asy’ari sebagai Museum Komunikatif 2025

Salah satu alasan MINHA berhasil meraih penghargaan tersebut adalah serangkaian inovasi komunikasi dan edukasi yang telah diterapkan dalam dua tahun terakhir. Museum menghadirkan pemandu digital dengan narasi audiovisual, konten edukasi berbasis multimedia, serta narasi koleksi yang dibuat ringkas dan jelas.

Baca Juga: Museum Keliling Koleksi Kepresidenan di MINHA Tebuireng

“Kami berusaha menyajikan sejarah dalam format yang lebih segar dan mudah diakses,” jelas Mujiburrohman. Selain itu, program pemanduan tur tematik dan pengembangan konten media sosial yang menarik menjadi bagian penting yang membuat MINHA semakin dikenal luas, terutama oleh generasi muda.

Meski demikian, proses membangun museum yang komunikatif bukanlah perkara mudah. Museum mengakui bahwa tantangan terbesar adalah bagaimana menyederhanakan sejarah yang kompleks agar dapat dipahami oleh berbagai kalangan tanpa menghilangkan substansi pentingnya.

“Setiap pengunjung punya gaya belajar berbeda. Tugas kami adalah menghadirkan informasi yang bisa diterima semua, baik melalui visual, estetika, maupun narasi,” jelasnya. Tantangan tersebut justru mendorong MINHA untuk terus meningkatkan kualitas penyampaian informasinya.

Dalam hal ini, Humasy dan Kemitraan Museum MINHA, Ari Setiawan, M.Pd, juga menyebut bahwa inovasi internal, sejumlah program unggulan dan kolaborasi juga sangat berpengaruh terhadap raihan penghargaan ini. MINHA aktif mengadakan Program Publik, peringatan Hari Santri Nasional, Bulan Gus Dur, serta pameran temporer yang menghadirkan berbagai tema sejarah dan kebudayaan. Museum juga bekerja sama dengan sekolah, pesantren, perguruan tinggi, hingga komunitas seni-budaya.

“Kolaborasi konten digital bersama berbagai institusi juga membuat jangkauan edukasi kami semakin luas, bahkan hingga lintas daerah,” ujar alumni Pesantren Tebuireng itu.

Foto bersama penerima Penganugerahan Museum Komunikatif 2025

Menanggapi masa depan museum setelah menerima penghargaan ini, pihaknya menyatakan bahwa pihaknya akan terus memperkuat kualitas layanan edukasi dan memperluas jejaring kerja sama. Museum kini tengah menyiapkan pembaruan besar konsep kuratorial untuk tahun mendatang.

Baca Juga: Inayah Wahid Refleksikan Perjuangan Kiai Hasyim Lewat MINHA

“Kami sedang menyiapkan konsep berbasis experience learning dan teknologi interaktif agar pengunjung tidak hanya melihat, tetapi juga mengalami cerita sejarah secara langsung,” ungkapnya. Ia menambahkan bahwa museum juga berencana menghadirkan ruang imersif yang dapat membawa pengunjung merasakan atmosfer sejarah melalui audiovisual yang lebih mendalam.

Untuk menarik generasi Z yang memiliki ketertarikan kuat pada visual dan interaktivitas, museum merancang strategi khusus, mulai dari storytelling digital, sudut interaktif, konten visual dinamis, hingga area foto berkonsep naratif.

“Kami ingin menjadikan museum sebagai ruang belajar yang menyenangkan dan tidak membosankan,” katanya. Ke depan, MINHA juga ingin meningkatkan teknologi informasi, seperti kiosk digital, tur audio multibahasa, dan aksesibilitas bagi pengunjung berkebutuhan khusus.

Di akhir wawancara, pihak museum menyampaikan pesan penting kepada masyarakat tentang urgensi pelestarian sejarah. “Mengunjungi museum bukan sekadar melihat koleksi, tetapi perjalanan mengenal siapa diri kita sebagai bangsa,” tegasnya. Mewakili pihak Museum, Ari Setiawan berharap masyarakat semakin menyadari bahwa melestarikan museum berarti menjaga ingatan kolektif bangsa dan memperkuat karakter generasi masa depan.



Editor: Rara Zarary

Pewarta: Albii