Ngalap Barokah: Suka Cita Lebaran di Pesantren

(dua dari kanan: jilbab merah) Ika Nurul Sannah, dan beberapa santri Pondok Pesantren Putri Walisongo Jombang yang menikmati lebaran di pondok pesantren.

Momen Idul Fitri menjadi suasana istimewa ditengah hiruk pikuk para insan yang bermaaf-maafan, mensucikan hati dan lisan dari salah dan khilaf dimasa lampau. Berkumpul dengan sanak keluarga menjadi hal yang istimewa bagi para perantau. Namun, berbeda dengan saudara kita, salah satu mahasiswa Pascasarjana Universitas Hasyim Asy’ari Tebuireng (Unhasy) yang juga nyantri di Pondok Pesantren Putri Walisongo Jombang. Sebut saja Ika Nurul Sannah, santri yang lebih memilih berlebaran di pondok. Bersama Ibu Nyai dan Pak Yai serta kerabatnya. Tentu hal ini tidak mudah bagi yang menjalankan. Dimana jauh dari keluarga disaat hari raya.

Berikut wawancara tim tebuireng online bersama saudari Ika Nurul Sannah Mahasiswa Pascasarjana Unhasy prodi Pendidikan Agama Islam, yang memilih menikmati lebaran di pesantren:

1. Perkenalkan diri Anda, nama lengkap, asal, tempat tinggal (Pondok Pesantren)

Assalamu’alaikumwr.wb. Saya Ika Nurul Sannah asal Lampung, santri Pondok Pesantren Putri Walisongo Cukir, Jombang.

2. Apa yang melatarbelakangi Anda berlebaran di Pondok?

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Alasan saya berlebaran di pondok, karena kalau liburan hari raya plus libur semester seperti ini pasti sangat sedikit santri yang masih ada di pondok, jadi saya pengen ngalah nggak pulang buat bantu-bantu di ndalem Mbah Nyai. Saya ingin tenaga saya lebih bermanfaat untuk beliau, menjamu tamu-tamu beliau yang super banyak kalau hari raya dan menemani beliau. Intinya ngalap barokah lah.

3. Bagaimana suasana lebaran di pondok?

Suasananya sepi. Lebaran ini sepi banget, karena cuma tinggal 9 orang, itu juga bakal berkurang di lebaran ke-3. Kalau tahun kemarin masih lumayan, ada belasan orang.

4. Bagaimana perbedaan lebaran di pondok dan di rumah bagi Anda?

Kalau ngomongin bedanya jelas beda lah ya. Saya cuma pengen menguak culture lebaran yang berbeda antara di sini dan di kampung halaman. Yang saya rasakan, masyarakat Tebuireng dan sekitarnya masih kental dengan rasa ta’dzim pada tokoh-tokoh agama, jadi mereka mengutamakan sowan-sowan lebaran ke rumah para kyai dan meminta doa. Ada kedekatan spiritual antara masyarakat dengan para kyai. Mereka mengadukan keluh kesah hidup mereka dan meminta solusi pada kyai.

🤔  Songkok Hitam untuk Alif

5. Bagaimana perasaan Anda lebaran jauh dari keluarga?

Hmmm, sedih sih pastinya. Seberapa pun mencoba tegar, waktu telpon orang tua buat minta maaf, pasti berderai air mata. Tapi yang terpenting dan paling penting, ketidakpulangan saya lebaran ini sudah mendapat izin dan ridho orang tua. Mereka bisa memahami apa tujuan saya dan it’s OK, lebaran di pondok gak jadi masalah buat keluarga di rumah.

6. Kesan Anda menikmati lebaran di pondok?

Senang, bisa bantu-bantu ndalem, terus bisa sowan pengasuh dan guru-guru di hari pertama. Walaupun sepi tapi tetep seneng aja kalo di pondok. Entah ada apanya ya di pondok, nyaman aja.

7. Pesan Anda saat berlebaran di pondok?

Pesan saya saat berlebaran di pondok dan buat yang pengen lebaran di pondok: 1. Harus berani melawan takut, karena pondok emang sepi banget. Hehehee… 2. Lakukan hal-hal yang bermanfaat di pondok, jangan cuma dihabiskan buat tidur sepanjang hari. Contohnya: tadarus Qur’an, hafalan atau bantu-bantu yang bisa kita bantu. Lakukan semua yang baik, karena kebaikan itu pasti akan kembali pada diri kita.

Itulah suka cita yang dirasakan oleh Ika Nurul Sannah selama melalui Ramadan dan lebaran di pondok pesantren.

Pewarta: Umdatul Fadhilah