Nuh dan Keturunan Umat Manusia

Ilustrasi gambar: www.google.com

Oleh: Luluatul Mabruroh*

Siapa yang tak tau tentang kisah Nuh dengan perahunya yang menyelamatkan segenap manusia beriman saat banjir besar datang sebagai ‘adzab dari Allah kepada kaum Nuh yang tidak mau beriman kepada Nuh, termasuk istri dan putra Nuh sendiri, Kan’an. Namun sedikit yang tau bahwa Nuh juga dikenal sebagai Adam kedua karena melanjutkan keturunan dan spesies bangsa setelah penghuni bumi digilas oleh air bah.

Nuh berasal dari bahasa Suryani yang memiliki makna diam. Julukan ini didapat setelah air bah menjadi surut kemudian bumi didiami lagi oleh bangsa manusia dari garis keturunan Nuh. Sejarawan Mujird Din menuturkan bahwa Nuh lahir pada tahun ke 1642 setelah turun Adam kurang lebih 3949 SM. Sedangkan menurut Sami bin Abdullah Al-Maghlouth dalam Atlas Sejarah Para nabi dan Rasul, periode Nuh antara tahun 3993-3043 SM.

Dalam buku Sang Penyeru, Sejarah Periode Para Rasul dan Bani Israel disebutkan bahwa dalam catatan kuno banyak diilustrasikan terjadinya peristiwa banjir hebat. Dalam Babat tanah jawa digambarkan bahwa pada saat terjadinya banjir besar menyebabkan kepulauan Nusantara yang saat itu masih menyatu dengan daratan Asia dan Australia terputus dari kedua daratan tersebut, termasuk dari Malaka.

Gambaran serupa juga didapat dalam sejarah Sumeria, legenda-legenda Yunani, Shatpatra, Epik Mahabrata, cerita-cerita Cina dan beberapa legenda di Wels di British Isles, di dalam Nordic Edda dalam legenda Lituana dan lain-lain.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Berdasarkan bukti-bukti Arkeolog mengarahkan bahwa lokasi banjir terbatas pada daratan Mesopotamia dan meluas di wilayah sekitarnya dan kemungkinan banjir tersebut hanya bersifat regional saat penduduk bumi masih terbatas di kawasan Mesopotamia di sepanjang kawasan sungai Tigris dan Eufrat.

🤔  Tidur ala Rasulullah

Banjir besar menyebabkan punahnya penduduk bumi sehingga Nuh masih mengurus bangsa manusia sekitar tiga abad setengah, kemudian ia menyuruh ketiga putranya: Yafits, Sam dan Ham untuk berpencar. Yafits pergi ke arah utara, dan Ham pergi ke arah selatan sedangkan Sam menetap di Baitulmaqdis untuk meneruskan merawat garis kenabian dan mengurus wilayah Syam.

Kira-kira mendekati milenium ke-3 SM, Nuh wafat lalu dimakamkan di Kark Nuh Libanon, versi lain menyatakan bahwa Nuh dimakamkan di makam Ahmar. Sedangkan keturunan Nuh Yafits yang pergi ke Utara memiliki 7 puta dan menurunkan bangsa Turki, Tartar, Rusia, Yunani, Kaitami, Romawi, Cina, Ya’juj-Ma’juj, Asban, Prancis dan Ad-Dailam.

Sam yang mengurus wilayah tengah memiliki 5 puta dan menurunkan bangsa Ibrani. Armenia, Israel, Arab, Jaromiqoh, Kurdi, Nabatea, Suryani dan Persia. Sedangkan Ham yang pergi ke arah selatan memiliki 4 putra yang menurukan bangsa India, Pakistan, Sudan, Negro, Gibsy, Kan’an dan Abisinia. Wallahu A’lam.

*Santri Pondok Pesantren Putri Walisongo Jombang.