
Kekuatan pesantren sesungguhnya tidak hanya terletak pada sistem pendidikannya, tetapi juga pada budaya guyub dan kebersamaan yang hidup di dalamnya. Pesantren mengajarkan bahwa manusia tidak bisa hidup sendiri. Santri belajar hidup bersama, makan bersama, belajar bersama, bahkan menghadapi kesulitan bersama.
Usia 68 tahun bagi sebuah organisasi bukanlah usia yang singkat. Itu menandakan ketahanan, pengalaman panjang, dan kemampuan bertahan melintasi berbagai generasi. Karena itu, keberadaan OPIM hingga hari ini layak disebut sebagai sesuatu yang luar biasa. Bahkan, boleh jadi sebagian besar anggota yang hadir saat ini usianya justru lebih muda dibanding usia organisasi itu sendiri. Hal tersebut menunjukkan bahwa OPIM bukan sekadar wadah formal alumni, melainkan ruang kebersamaan yang terus hidup dan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Baca Juga: Santri, Ulama, dan Kemerdekaan
Momentum halal bihalal yang mempertemukan keluarga besar alumni Tebuireng sesungguhnya memiliki makna yang jauh lebih dalam dibanding sekadar tradisi tahunan pasca-Idulfitri. Pertemuan seperti ini adalah ruang bermuajahah, ruang bertemu muka, saling menyapa, dan menghidupkan kembali kedekatan hati yang mungkin selama ini terpisah oleh jarak dan kesibukan hidup masing-masing.
Di tengah kehidupan modern yang semakin individualistis, tradisi berkumpul dan bersilaturahim justru menjadi sesuatu yang semakin mahal nilainya. Banyak orang hari ini hidup dalam kesibukan yang nyaris tanpa jeda. Teknologi memang membuat komunikasi semakin mudah, tetapi tidak selalu membuat hubungan antarmanusia semakin dekat. Karena itu, pertemuan seperti halal bihalal menjadi penting sebagai ruang untuk merawat kembali ukhuwah dan rasa kekeluargaan.
Tradisi halal bihalal sendiri lahir dari kesadaran bahwa hubungan manusia dengan sesama manusia tidak dapat selesai hanya dengan ibadah personal kepada Allah Swt. Ramadan memang menjadi bulan yang penuh dengan limpahan rahmat dan ampunan. Sepuluh hari pertama dipenuhi rahmat, sepuluh hari kedua dipenuhi maghfirah, dan sepuluh hari terakhir menjadi momentum pembebasan dari api neraka. Bahkan di dalamnya terdapat malam Lailatul Qadar yang nilainya lebih baik daripada seribu bulan.
Namun demikian, ampunan Allah terhadap dosa seorang hamba tidak otomatis menyelesaikan persoalan antarmanusia. Kesalahan kepada sesama tetap membutuhkan keikhlasan untuk saling memaafkan. Karena itulah halal bihalal menjadi tradisi yang sangat penting. Ia bukan sekadar budaya sosial, tetapi juga memiliki dimensi spiritual yang sangat mendalam.
Baca Juga: Harlah ke-102 NU, Bekerja Bersama Umat untuk Indonesia Maslahat
Makna kembali fitri sesungguhnya adalah kembali kepada sifat dasar manusia yang cenderung kepada kebaikan. Dalam diri manusia terdapat fitrah yang mendorongnya untuk berbuat baik, hidup rukun, dan menjaga hubungan dengan sesama. Hal tersebut berbeda dengan hawa nafsu yang sering kali membuat manusia bertindak sesuka hati dan mementingkan diri sendiri. Karena itu, setelah menjalani Ramadan dan saling memaafkan di bulan Syawal, manusia diharapkan benar-benar kembali menjadi pribadi yang bersih lahir dan batin. Dengan hati yang bersih, hubungan sosial pun menjadi lebih sehat dan penuh keberkahan.
Dalam tradisi pesantren dan Nahdlatul Ulama, silaturahim memang memiliki posisi yang sangat penting. Hubungan antarsantri, antarkiai, dan antaralumni tidak dibangun semata-mata karena kepentingan organisasi, melainkan karena adanya ikatan ruhani dan rasa persaudaraan yang kuat. Bahkan, banyak hubungan antarpesantren dahulu diperkuat melalui hubungan kekeluargaan dan besanan antar keluarga kiai.
Tradisi semacam itu mungkin mulai jarang ditemukan pada masa sekarang. Generasi muda memiliki kebebasan menentukan jalan hidupnya sendiri. Namun yang paling penting bukan bentuk hubungan itu, melainkan semangat ukhuwah yang melatarbelakanginya. Nilai kebersamaan itulah yang perlu terus dijaga.
Kekuatan pesantren sesungguhnya tidak hanya terletak pada sistem pendidikannya, tetapi juga pada budaya guyub dan kebersamaan yang hidup di dalamnya. Pesantren mengajarkan bahwa manusia tidak bisa hidup sendiri. Santri belajar hidup bersama, makan bersama, belajar bersama, bahkan menghadapi kesulitan bersama. Dari situ tumbuh rasa persaudaraan yang kuat dan bertahan hingga puluhan tahun setelah mereka meninggalkan pesantren. Karena itulah organisasi alumni seperti IKAPETE dan OPIM memiliki peran penting dalam menjaga kesinambungan ukhuwah tersebut. Organisasi ini bukan hanya tempat berkumpul secara administratif, melainkan ruang untuk menjaga hubungan emosional dan spiritual antarsesama alumni.
Baca Juga: Resolusi Jihad, Menyambung Juang Merengkuh Masa Depan
Menariknya, semangat kebersamaan pesantren sejak dahulu memang memiliki cakupan yang luas. Santri Tebuireng dahulu tidak selalu mondok di tempat yang sama dengan tempat mengajinya. Ada yang mondok di Cukir tetapi mengaji di Tebuireng, ada yang tinggal di Seblak namun tetap menjadi bagian dari komunitas besar Tebuireng. Semua menyatu dalam semangat kebersamaan tanpa sekat-sekat yang kaku.
Semangat inilah yang seharusnya terus dihidupkan kembali hari ini. Jangan sampai hubungan antarsesama alumni justru semakin menyempit karena perbedaan tempat mondok, organisasi, atau latar belakang tertentu. Sebab, semakin besar ruang kebersamaan yang dibangun, maka semakin besar pula peluang hadirnya keberkahan dan ridha Allah Swt.
Dalam konteks yang lebih luas, budaya guyub seperti ini menjadi kekuatan penting bangsa Indonesia. Ketika banyak negara di dunia Islam mengalami konflik berkepanjangan, masyarakat Indonesia masih diberikan nikmat berupa kedamaian sosial yang relatif terjaga. Di negeri ini, umat Islam masih bisa berkumpul dengan tenang, menggelar pengajian, tahlilan, maulidan, dan berbagai tradisi keagamaan lainnya tanpa rasa takut.
Padahal Indonesia juga pernah mengalami masa penjajahan yang panjang. Namun menariknya, tradisi-tradisi Islam Nusantara tetap bertahan hingga hari ini. Tradisi ziarah kubur tetap hidup, tahlilan tetap berjalan, dan maulidan tetap dirayakan. Hal itu tidak terjadi begitu saja, melainkan karena para ulama dan masyayikh dahulu terus mendampingi masyarakat dan menjaga tradisi agar tidak rusak oleh perubahan zaman maupun tekanan politik.
Peran ulama pesantren dalam sejarah Indonesia memang sangat besar. Nahdlatul Ulama sendiri lahir dari kegelisahan para ulama pesantren terhadap situasi dunia Islam internasional. Berdirinya NU pada tahun 1926 tidak bisa dilepaskan dari upaya para ulama Nusantara merespons perubahan kekuasaan di Hijaz setelah Abdul Aziz Ibnu Saud berkuasa.
Baca Juga: Amanah Besar Mendidik Santri Baru di Pesantren Tebuireng
Ketika muncul kekhawatiran bahwa jamaah haji dari seluruh dunia akan dipaksa mengikuti paham tertentu, para ulama Indonesia bergerak membentuk Komite Hijaz dan mengirim delegasi ke Makkah. Dari sinilah kemudian lahir Nahdlatul Ulama sebagai organisasi yang mewadahi perjuangan para ulama pesantren. Artinya, sejak awal para pendiri NU sudah memiliki pandangan yang luas dan berpikir dalam skala internasional. Mereka tidak hanya memikirkan persoalan lokal, tetapi juga menjaga tradisi dan kepentingan umat Islam secara global.
Namun di balik keluasan pandangan tersebut, satu hal yang paling dijaga oleh para muassis NU adalah ukhuwah dan silaturahim. Mereka sadar bahwa kekuatan umat tidak hanya terletak pada ilmu atau jumlah pengikut, melainkan pada persatuan hati dan kekuatan persaudaraan. Karena itu, menjaga ukhuwah hari ini menjadi tugas penting seluruh generasi penerus pesantren. Apalagi zaman sekarang sebenarnya jauh lebih mudah dibanding masa lalu. Dulu bepergian antarkota membutuhkan perjuangan panjang dengan kereta yang penuh sesak dan perjalanan yang melelahkan. Sekarang semuanya jauh lebih mudah dengan jalan tol, kendaraan yang nyaman, dan teknologi komunikasi yang semakin canggih.
Kemudahan itu seharusnya membuat manusia semakin mudah menjaga silaturahim, bukan justru semakin menjauh satu sama lain. Sebab, hakikat silaturahim tidak terletak pada seberapa sering bertemu, melainkan pada kesungguhan menjaga hubungan dan rasa persaudaraan. Pada akhirnya, seluruh tradisi halal bihalal, silaturahim alumni, dan budaya guyub yang diwariskan pesantren bermuara pada satu tujuan utama, yakni mencari ridha Allah Swt. Ketika persaudaraan dijaga, maka rahmat Allah akan lebih mudah turun kepada masyarakat.
Oleh karena itu tradisi baik seperti ini harus terus dirawat. Keguyuban harus dijaga, ukhuwah harus diperkuat, dan hubungan antarsesama harus terus dipererat. Sebab, di tengah dunia yang semakin mudah terpecah oleh perbedaan kepentingan dan pandangan, persaudaraan adalah kekuatan terbesar yang dimiliki umat. Selama budaya silaturahim itu tetap hidup, selama manusia masih mau berkumpul, saling memaafkan, dan menjaga kebersamaan, maka harapan untuk menjaga warisan perjuangan para ulama akan selalu tetap ada.
Baca Juga: Menjaga Warisan Sanad
Sambutan ini disampaikan saat Halal bi Halal Ikapete Bondowoso 30 Maret 2026
Ditranskip oleh: Albii
Editor: Rara Zarary

















