Anniversary ke-47 Putra Delta, Bahas Dilema Santri Serba Ahli atau Setengah Jadi

23
Suasana acara Bedah Majalah Tebuireng dalam Anniversary ke-47 organisasi Putra Delta (foto: irsyad)

Tebuireng.online— Anniversary ke-47 organisasi Putra Delta dirangkai dengan kegiatan bedah Majalah Tebuireng edisi 99 bertajuk “Santri Serba Ahli atau Setengah Jadi” bersama Dr. KH. Achmad Roziqi, Lc., M.H.I., pada Jumat (15/05/2026) siang di Masjid Ulil Albab Tebuireng. Kegiatan tersebut turut dihadiri Pemimpin Redaksi Majalah Tebuireng, M. Rizki Syahrul Ramadhan.

Baca Juga: IKAPETE Sidoarjo Pererat Silaturahmi melalui Halalbihalal dan Temu Alumni 2026

Ketua Umum Putra Delta, Arya Sultan Satiawan, dalam sambutannya menyampaikan bahwa Putra Delta bukan sekadar organisasi untuk mencari pengalaman, tetapi juga telah menjadi rumah kedua bagi para anggotanya.

“Putra Delta bukan hanya tempat mencari pengalaman, tetapi juga menjadi rumah kedua bagi kami semua,” ujarnya.

Sementara itu, Pemred Majalah Tebuireng, M. Rizki Syahrul Ramadhan atau yang akrab disapa Ustadz Syahrul, mengapresiasi panitia anniversary yang memilih Majalah Tebuireng sebagai bagian dari rangkaian kegiatan tersebut.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

“Panitia sengaja menghubungi kami untuk meminta rekomendasi tema yang cocok sebagai bekal santri. Kami merekomendasikan edisi 99 ini karena di dalamnya santri diajak melihat kembali sebenarnya dididik untuk menjadi apa. Apakah menjadi santri serba ahli atau justru setengah jadi,” ungkapnya.

Sambutan dari Wakil Kepala Pondok Putra Tebuireng, Ustadz Mahmudz dalam acara Anniversary Putra Delta (foto: irsyad)

Baca Juga: Jalan Sehat dan Pengajian Umum, Halal bi Halal Ala Putra Delta

Menurutnya, pesantren diharapkan mampu melahirkan santri yang memiliki keahlian dan kedalaman ilmu, bukan sekadar mengetahui banyak hal tanpa penguasaan yang jelas.

Wakil Kepala Pondok Putra Tebuireng, Ustadz Mahmudz, yang hadir mewakili Kepala Pondok Putra Ustadz Habib, juga menyampaikan ketertarikannya terhadap tema yang diangkat dalam diskusi tersebut.

“Kami berharap santri menjadi ahli, yang penting tidak merasa ahli dan tidak merasa sudah jadi,” tuturnya.

Acara kemudian dilanjutkan dengan diskusi bedah majalah yang dipandu oleh Ustadz Farhansyah Putra selaku distributor Majalah Tebuireng. Dalam pengantarnya, ia mengaitkan tema diskusi dengan pesan Imam Al-Ghazali dalam kitab Minhajul Abidin tentang pentingnya mempelajari ilmu sesuai kebutuhan hidup yang akan dihadapi.

Baca Juga: Mencetak Pemimpin Berakhlak, Tebuireng Gelar Pelantikan Pengurus ORDA Se-Jatim

Menjawab pertanyaan moderator mengenai bekal utama santri setelah kembali ke masyarakat, Ustadz Roziqi menekankan bahwa modal pertama yang harus dimiliki santri bukan hanya ilmu, melainkan akhlak yang baik.

“Ketika pulang ke masyarakat, yang pertama dilihat bukan jurusan atau gelar kita, tetapi bagaimana cara kita berinteraksi dan berakhlak,” jelasnya.

Ia juga menegaskan pentingnya mengenali potensi diri dan mendalami bidang yang benar-benar dikuasai. Menurutnya, seseorang tidak mungkin dapat memberikan sesuatu yang tidak dimilikinya.

“Kalau ingin ahli di suatu bidang, maka belajarlah dengan serius. Lihat kemampuan diri melalui proses belajar dan hasil evaluasi. Dari situ kita bisa mengetahui di mana letak keunggulan kita,” ungkapnya.

Baca Juga: Halal Bi Halal Temu Santri dan Alumni IKAPETE Sidoarjo

Dalam kesempatan itu, Ustadz Roziqi turut membagikan pengalamannya saat menentukan jurusan kuliah di Universitas Al-Azhar Mesir. Ia memilih bidang syariah setelah melihat kemampuan dan minatnya melalui proses belajar yang dijalani secara sungguh-sungguh.

Di akhir diskusi, moderator Ustadz Farhan menyimpulkan bahwa santri perlu mengintegrasikan ilmu agama dan ilmu umum dengan keseriusan belajar sesuai bidang yang diminati.

“Kalau ingin alim di ilmu agama maka ngajinya harus serius. Kalau ingin kuliah di luar negeri maka program bahasanya juga harus serius. Jangan sampai ilmu yang dipelajari hanya setengah-setengah,” pungkasnya.



Pewarta: Albii
Editor: Rara Zarary