Menjaga Tradisi di Tengah Arus Modernisasi

7
Pengasuh Pesantren Tebuireng, KH Abdul Hakim Mahfudz

Modernisasi telah membawa perubahan yang begitu cepat dalam kehidupan manusia. Kemajuan teknologi, arus informasi tanpa batas, hingga perubahan pola hidup menjadi tantangan yang tidak bisa dihindari. Di balik berbagai kemudahan yang ditawarkan, modernisasi juga menghadirkan persoalan baru, mulai dari penyalahgunaan narkotika, krisis moral, hingga lunturnya nilai-nilai karakter generasi muda.

Baca Juga: Hari Santri dan Tantangan Membangun Peradaban Dunia

Kondisi tersebut menjadi perhatian serius Nahdlatul Ulama (NU) dan Badan Narkotika Nasional (BNN). Berangkat dari keprihatinan yang sama, keduanya menggelar Seminar Nasional Sinergi NU dan BNN: Menanamkan Nilai Ekonomi Produktif dan Hidup Sehat Sejak Dini di Lantai 3 Gedung Yusuf Hasyim, Pondok Pesantren Tebuireng, pada 17 Oktober 2025 lalu. Seminar tersebut bukan sekadar forum diskusi, melainkan ikhtiar bersama untuk menjawab tantangan zaman melalui kolaborasi antara pemerintah dan pesantren.

Pesantren tidak bisa lagi hanya menjadi tempat transmisi ilmu agama, tetapi juga harus mampu membimbing generasi muda menghadapi kompleksitas kehidupan modern. Saat ini Pesantren Tebuireng membina lebih dari 6.100 santri di Jombang. Selain itu, terdapat sekitar 20 cabang pesantren yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia. Jumlah tersebut menunjukkan besarnya tanggung jawab pesantren dalam menyiapkan generasi masa depan yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kokoh secara moral dan spiritual.

Tanggung jawab itu semakin besar ketika dikaitkan dengan amanah sebagai Ketua PWNU Jawa Timur. Organisasi ini membawahi 45 Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU), sekitar 656 Majelis Wakil Cabang (MWC) di tingkat kecamatan, serta lebih dari 6.000 pengurus ranting di tingkat desa dan kelurahan yang terhubung hingga majelis taklim di tingkat akar rumput.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Baca Juga: Menjaga Ukhuwah dan Merawat Tradisi

Jaringan yang luas tersebut dinilai menjadi kekuatan besar apabila disinergikan dengan program-program BNN dalam membangun masyarakat yang sehat dan produktif.

Menjaga Tradisi, Mengambil Kebaikan Modernitas

Dalam menghadapi derasnya perubahan zaman, pesantren tetap berpegang pada prinsip yang telah lama menjadi pegangan Nahdlatul Ulama, yaitu: Al-muhafazhah ‘ala al-qadim ash-shalih wal akhdzu bil jadid al-ashlah, menjaga tradisi lama yang baik dan mengambil hal-hal baru yang lebih baik.

Prinsip ini menjadi fondasi pendidikan di Pesantren Tebuireng. Modernisasi bukan sesuatu yang harus ditolak, tetapi juga tidak diterima secara mentah. Setiap perkembangan zaman harus disaring dengan nilai-nilai Islam yang bersumber dari Al-Qur’an, hadis, serta tradisi keilmuan para ulama yang sanadnya tersambung hingga Rasulullah saw.

Di tengah derasnya perubahan sosial, masyarakat sering dihadapkan pada banyak pilihan yang tampak sama-sama menarik. Namun tidak semua membawa kebaikan. Oleh karena itu, pesantren menekankan pentingnya penguasaan ilmu agama sebagai kompas moral. Ilmu menjadi penuntun agar seseorang mampu menentukan jalan yang benar ketika dihadapkan pada berbagai persimpangan kehidupan.

Dalam kesempatan tersebut juga disinggung munculnya berbagai persepsi keliru terhadap tradisi pesantren yang belakangan ramai diperbincangkan di media sosial.

Baca Juga: Pergeseran Otoritas Keilmuan dan Tantangan Mentradisikan Islam

Sebagian orang menilai praktik penghormatan santri kepada kiai sebagai bentuk penindasan atau warisan budaya feodal. Padahal, menurutnya, substansi pendidikan pesantren bukanlah merendahkan martabat santri. Yang dibangun adalah sikap tawadhu, yaitu kemampuan menurunkan ego agar hati menjadi lebih terbuka menerima ilmu.

Tradisi penghormatan kepada guru merupakan bagian dari proses pendidikan karakter yang telah diwariskan selama berabad-abad dalam dunia pesantren. Sikap tersebut diyakini mempermudah hubungan batin antara murid dan guru sehingga proses transfer ilmu berlangsung lebih baik. Sehingga tradisi pesantren tidak dapat dipahami hanya dari potongan gambar atau video yang beredar di media sosial tanpa mengetahui nilai pendidikan yang melatarbelakanginya.

Kolaborasi untuk Generasi Indonesia Emas

Adanya seminar bersama BNN dipandang sebagai ruang penting untuk menyamakan persepsi antara pesantren dan pemerintah dalam menghadapi dampak negatif modernisasi. BNN memiliki pengalaman dalam upaya pencegahan penyalahgunaan narkotika serta pembangunan pola hidup sehat, sementara pesantren memiliki kekuatan dalam pembinaan karakter, spiritualitas, dan akhlak generasi muda.

Kolaborasi keduanya diharapkan mampu melahirkan program-program yang menjangkau masyarakat hingga tingkat desa melalui jaringan NU yang tersebar di seluruh Jawa Timur. Dengan demikian, pencegahan berbagai persoalan sosial tidak hanya dilakukan melalui pendekatan hukum, tetapi juga melalui pendidikan, pembinaan karakter, dan penguatan nilai-nilai keagamaan.

Baca Juga: 8 Kriteria Menjadi Pelajar Ideal Menurut KH. Hasyim Asy’ari

Adapun seluruh ikhtiar ini bermuara pada satu tujuan besar, yaitu menyiapkan generasi penerus bangsa yang unggul menuju Indonesia Emas 2045. Generasi yang diharapkan bukan hanya memiliki kecakapan akademik dan keterampilan menghadapi era modern, tetapi juga memiliki keteguhan iman, akhlak mulia, serta kemampuan menyaring berbagai pengaruh negatif perkembangan zaman.

Melalui sinergi antara NU, pesantren, dan BNN, modernisasi tidak lagi dipandang sebagai ancaman, melainkan sebagai peluang yang dapat dimanfaatkan untuk membangun sumber daya manusia Indonesia yang sehat, produktif, berkarakter, dan tetap berpegang teguh pada nilai-nilai Islam.