
Kemerdekaan yang kita nikmati hari ini adalah buah dari perjuangan dan pengorbanan para pahlawan dan ulama. Salah satunya adalah Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari, yang diakui sebagai Pahlawan Nasional karena peran besarnya dalam perjuangan kemerdekaan dan pembentukan karakter bangsa. Kisah perjuangan beliau diabadikan oleh Muhammad Asad Syahab dalam karyanya yang mencatat peran penting para ulama dalam sejarah kemerdekaan Indonesia.
Demikian pula peringatan Hari Santri pada 22 Oktober ini juga memiliki akar sejarah yang dalam, yaitu Fatwa dan Resolusi Jihad 1945 oleh Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari. Fatwa ini berhasil menggerakkan perlawanan dalam mempertahankan kemerdekaan melawan tentara sekutu dan NICA. Dari fakta sejarah ini kita memahami bahwa diantara para Pahlawan yang berjasa untuk negeri ini adalah kaum Pesantren, Kiai dan Santri. Hadratussyaikh sebagai tokoh dibalik Fatwa Jihad ini, disamping sosok Mujahid, Beliau juga adalah Muassis Pondok Pesantren Tebuireng.
Baca Juga: Menjaga Warisan Sanad
Hadirin yang dirahmati oleh Allah SWT.
Pesantren Tebuireng, sejak berdiri hingga kini, tidak hanya sebagai pencetak ulama, tetapi juga pelopor dalam memadukan pendidikan tradisional dan modern. Karakteristik khas Tebuireng adalah pendekatan pendidikannya yang mempertahankan kajian kitab kuning sambil membuka diri pada ilmu pengetahuan umum, mencetak santri yang tidak hanya ahli dalam ilmu agama tetapi juga siap menghadapi tantangan zaman. Dari pesantren inilah lahir tokoh-tokoh nasional yang berperan besar dalam perjuangan kemerdekaan dan pembangunan bangsa.
Sepanjang sejarah, pesantren telah membuktikan perannya sebagai pusat pendidikan yang melahirkan tokoh-tokoh bangsa berilmu dan berakhlak. Dalam sepuluh tahun peringatan Hari Santri, peran ini semakin kuat dan diakui negara melalui berbagai kebijakan, seperti UU Pesantren dan Dana Abadi Pesantren. Pengakuan terhadap kontribusi pesantren juga tampak dalam proses pengusulan KH. M. Yusuf Hasyim-putra Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari sebagai Pahlawan Nasional, sebagai bentuk penghormatan atas jasa dan perjuangannya dalam membela agama, bangsa, dan negara.
Dengan mengusung tema “Mengawal Indonesia Merdeka Menuju Peradaban Dunia,” Hari Santri 2025 menegaskan peran santri sebagai penggerak kemajuan, bukan sekadar penonton. Santri didorong untuk membawa nilai Islam rahmatan lil ‘alamin dalam membangun peradaban global. Upaya Pesantren Tebuireng dalam membentuk santri yang berilmu, berakhlak dan siap menghadapi tantangan zaman diwujudkan melalui keterbukaan terhadap berbagai inovasi dalam kurikulum, tanpa meninggalkan jati diri dan budaya khas pesantren Tebuireng yang terangkum dalam nilai-nilai BERKAH (Berilmu, Etika, Religius, Kreatif, Amal Shalih, dan Hikmah), prinsip dasar dalam membentuk karakter santri Tebuireng.
Baca Juga: Perjalanan NU, Dari Ukhuwah Menuju Kemajuan dan Peranannya di Masyarakat
Hadirin yang berbahagia
Akhir-akhir ini muncul pandangan negatif yang menilai pesantren sebagai lembaga feodal dan tertutup terhadap perubahan. Relasi kiai dan santri sering disalahartikan sebagai kepatuhan buta tanpa ruang berpikir kritis. Padahal, sikap hormat santri kepada gurunya adalah wujud adab dan tata nilai keilmuan, bukan feodalisme. Justru melalui adab inilah pesantren membentuk generasi berilmu, berakhlak, dan berdaya bagi kemajuan umat.
Oleh karena itu, pesan saya kepada seluruh santri Tebuireng adalah:
Pertama, jadilah santri yang berilmu, berakhlak, dan berdaya. Karena, segala amal apapun jika tidak disertai dengan akhlakh mulia maka tidak akan diterima oleh Allah Swt. Sebagaimana yang disebutkan dalam kitab Adabul Alim wal Muta’allim:
إِنَّ جَمِيعَ الأعمال الدينية قلبية كانت أو بدنية قولية أو فعلية لا يُعتبر شيءٌ مِنْهَا إِلَّا إِنْ كَانَ مُحَفَّوْفًا بالمحاسن الأدبية والمحامد الصفاتية والمكارم الخلقية
Kedua, rawatlah tradisi pesantren, namun sekaligus peluklah inovasi dan kuasailah teknologi serta sains. Tunjukkanlah bahwa santri mampu menjadi solusi dan berkontribusi di kancah global, mengikuti jejak para pendahulu dari pesantren-pesantren terkemuka seperti Tebuireng. Hal ini sesuai dengan pepatah yang menyebutkan:
المحافظة على القديم الصالح والأخذ بالجديد الأصلح
Mari kita bersama-sama mengawal Indonesia menuju peradaban dunia yang damai dan berkeadaban.
Selamat Hari Santri 2025. Mengawal Indonesia Merdeka, Menuju Peradaban Dunia!
*Amanat ini disampaikan dalam acara Apel Hari Santri Nasional dan Resolusi Jihad, di lapangan Pesantren Tebuireng, Rabu 22 Oktober 2025.
**Ditranskip: Rara Zarary


















