
Hari Santri mengingatkan kita pada sejarah panjang perjuangan kaum pesantren dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Kemerdekaan yang kita nikmati hari ini tidak lahir begitu saja, melainkan merupakan buah dari perjuangan dan pengorbanan para pahlawan, ulama, serta santri yang turut mengangkat senjata dan mengorbankan jiwa demi tegaknya bangsa ini.
Peringatan Hari Santri 2025 menjadi momentum yang sarat makna bagi bangsa Indonesia. Di tengah suasana kebanggaan atas kontribusi santri bagi negeri, kita juga dihadapkan pada duka yang mendalam atas musibah yang terjadi di Pesantren Al-Khoziny Sidoarjo yang merenggut 67 jiwa. Tragedi tersebut tidak hanya menjadi duka keluarga besar pesantren, tetapi juga duka seluruh masyarakat Indonesia.
Baca Juga: Resolusi Jihad dan Spirit Kebangsaan untuk Generasi Bangsa
Sebagai wujud kepedulian dan solidaritas, Pesantren Tebuireng telah melakukan silaturahim sekaligus menyalurkan bantuan kepada keluarga dan komunitas pesantren yang terdampak. Langkah ini menjadi pengingat bahwa semangat persaudaraan dan gotong royong merupakan nilai yang terus hidup dalam tradisi pesantren. Duka Al-Khoziny adalah duka kita bersama.
Di sisi lain, Hari Santri juga mengingatkan kita pada sejarah panjang perjuangan kaum pesantren dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Kemerdekaan yang kita nikmati hari ini tidak lahir begitu saja, melainkan merupakan buah dari perjuangan dan pengorbanan para pahlawan, ulama, serta santri yang turut mengangkat senjata dan mengorbankan jiwa demi tegaknya bangsa ini.
Salah satu tokoh sentral dalam sejarah tersebut adalah KH. Muhammad Hasyim Asy’ari, pendiri Pesantren Tebuireng yang telah dianugerahi gelar Pahlawan Nasional. Peran beliau dalam perjuangan bangsa tidak dapat dipisahkan dari lahirnya Fatwa Resolusi Jihad pada 22 Oktober 1945. Fatwa tersebut menjadi landasan moral dan spiritual bagi rakyat Indonesia dalam mempertahankan kemerdekaan dari ancaman tentara Sekutu dan NICA.
Baca Juga: Warisan Adab Melahirkan Generasi Unggul
Dari peristiwa sejarah itulah lahir kesadaran bahwa pesantren bukan hanya lembaga pendidikan keagamaan, tetapi juga benteng perjuangan bangsa. Kiai dan santri telah membuktikan diri sebagai bagian penting dari sejarah Indonesia. Karena itulah, tanggal 22 Oktober kemudian ditetapkan sebagai Hari Santri untuk mengenang jasa dan kontribusi mereka.
Sebagai pesantren yang didirikan oleh Hadratussyaikh KH. Muhammad Hasyim Asy’ari, Tebuireng memiliki posisi istimewa dalam perjalanan sejarah tersebut. Sejak berdiri hingga hari ini, Tebuireng tidak hanya mencetak ulama, tetapi juga melahirkan tokoh-tokoh bangsa yang berkontribusi dalam perjuangan kemerdekaan maupun pembangunan nasional.
Keistimewaan Tebuireng terletak pada kemampuannya memadukan tradisi dan modernitas. Kajian kitab kuning tetap menjadi fondasi utama pendidikan, namun pada saat yang sama pesantren membuka diri terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan berbagai disiplin ilmu modern. Melalui pendekatan ini, Tebuireng berupaya melahirkan generasi yang tidak hanya mendalam dalam ilmu agama, tetapi juga mampu menjawab tantangan zaman.
Dalam satu dekade terakhir, peran pesantren semakin mendapatkan pengakuan dari negara. Berbagai kebijakan, seperti lahirnya Undang-Undang Pesantren dan Dana Abadi Pesantren, menjadi bukti bahwa pesantren dipandang sebagai salah satu pilar penting pembangunan nasional. Pengakuan tersebut juga tercermin dalam proses pengusulan KH. Muhammad Yusuf Hasyim sebagai Pahlawan Nasional, sebagai penghormatan atas jasa dan pengabdiannya dalam membela agama, bangsa, dan negara.
Baca Juga: Fitrah Manusia dan Tantangan Menjaga Persatuan
Tema Hari Santri 2025, “Mengawal Indonesia Merdeka Menuju Peradaban Dunia”, menegaskan bahwa santri memiliki peran strategis dalam menghadapi masa depan. Santri tidak boleh hanya menjadi penonton dalam arus perubahan global, tetapi harus tampil sebagai pelaku yang membawa nilai-nilai Islam rahmatan lil ‘alamin ke tengah masyarakat dunia.
Komitmen tersebut terus diwujudkan oleh Pesantren Tebuireng melalui berbagai inovasi pendidikan tanpa meninggalkan jati diri pesantren. Nilai-nilai kreatif, amal saleh, dan hikmah tetap menjadi prinsip utama dalam membentuk karakter santri yang berilmu, berakhlak, dan siap berkontribusi di tingkat nasional maupun internasional.
Di tengah perkembangan zaman, masih terdapat sebagian pihak yang memandang pesantren sebagai lembaga yang feodal dan tertutup terhadap perubahan. Relasi antara kiai dan santri kerap disalahpahami sebagai bentuk kepatuhan tanpa ruang berpikir kritis. Padahal, penghormatan santri kepada guru merupakan bagian dari tradisi adab dan etika keilmuan yang telah diwariskan selama berabad-abad.
Justru melalui pendidikan adab itulah pesantren mampu melahirkan generasi yang memiliki keseimbangan antara kecerdasan intelektual, kedalaman spiritual, dan kematangan moral. Tradisi ini menjadi kekuatan utama pesantren dalam membangun sumber daya manusia yang berkarakter dan berdaya saing.
Karena itu, Hari Santri 2025 hendaknya menjadi momentum untuk meneguhkan kembali jati diri santri. Menjadi santri bukan hanya soal menguasai ilmu agama, tetapi juga mengembangkan akhlak mulia, menguasai teknologi, memahami perkembangan sains, serta mampu memberikan solusi atas berbagai persoalan masyarakat.
Baca Juga: Menjaga Ukhuwah dan Merawat Tradisi
Sebagaimana pesan para ulama, tradisi pesantren harus tetap dirawat, namun inovasi juga harus dirangkul. Santri perlu terus belajar, beradaptasi, dan berkontribusi bagi kemajuan bangsa. Dengan bekal ilmu, akhlak, dan semangat pengabdian, santri Indonesia dapat menjadi bagian penting dalam mewujudkan peradaban dunia yang damai, adil, dan bermartabat.
Hari Santri bukan sekadar peringatan tahunan, melainkan ajakan untuk melanjutkan perjuangan para pendahulu. Dari pesantren, lahir generasi yang menjaga nilai, merawat kebangsaan, dan menatap masa depan dengan optimisme. Bersama santri, Indonesia melangkah menuju peradaban dunia yang lebih berkeadaban.
*Pidato ini disampaikan saat upacara Hari Santri 2025 di Pesantren Tebuireng.

















