8 Kriteria Menjadi Pelajar Ideal Menurut KH. Hasyim Asy’ari

13
Hadratussyaikh KH M Hasyim Asy’ari
Sudah seharusnya seorang terpelajar (siswa/santri) idealnya adalah mereka yang berupaya mencapai prestasi akademis namun juga pengembangan moral dan spiritual agar menjadi anggota masyarakat yang berwawasan luas dan berkontribusi.

Kita mengetahui bersama bahwa pendidikan sebagai suatu bentuk kegiatan manusia dalam kehidupannya, menempatkan tujuan sebagai sesuatu yang hendak dicapai, baik tujuan yang dirumuskan itu bersifat abstrak sampai pada rumusan-rumusan yang dibentuk secara khusus untuk memudahkan pencapaian tujuan yang lebih tinggi. Begitu juga dikarenakan pendidikan merupakan bimbingan tehadap perkembangan manusia ke arah cita-cita tertentu, maka yang merupakan masalah pokok bagi pendidikan ialah memilih arah atau tujuan yang ingin dicapai.

Baca Juga: Kiai Hasyim Asy’ari: Memuliakan Guru, Kunci Keberhasilan Murid

Tentang tujuan ini, dalam UU RI No. 20 pasal 3 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, secara jelas menyebutkan bahwa tujuan pendidikan nasional, yaitu: Berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Di Indonesia sendiri, terdapat sosok yang dikenal luas sebagai bapak Pendidikan serta meletakan hal-hal dasar dalam nilai Pendidikan di Indonesia, yakni Ki Hajar Dewantara. Tetapi, di dunia Pendidikan Lembaga pondok pesantren, terdapat satu sosok ulama yang tidak hanya alim dalam urusan ilmu agama saja, seperti spiritual dan lain sebagainya. Tapi ia juga turut merumuskan bagaimana pendidikan yang ideal, ia adalah KH. Muhammad Hasyim Asy’ari.

Beliau  merupakan salah satu dari sekian ulama yang ikut memberikan sumbangan pemikiran yang mengarahkan pelajar dalam melaksanakan aktivitas belajarnya dengan menggunakan konsep pendidikan Islam, yang akhirnya kelak mencetak generasi Muslim yang memiliki pengetahuan dan keahlian yang dilandasi oleh nilai-nilai etika Islam. Pemikiran mengenai pendidikan beliau tuangkan dalam  karya tulisnya yaitu kitab Adab al ‘Alim wa al-Muta’allim.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Baca Juga: Manifesto Kemanusiaan Hadratussyaikh

Dalam kitab Adabul ‘Alim wal Muta’allim KH. Hasyim Asy’ari menyatakan bahwa sudah seharusnya seorang terpelajar (siswa/santri) idealnya adalah mereka yang berupaya mencapai prestasi akademis namun juga pengembangan moral dan spiritual agar menjadi anggota masyarakat yang berwawasan luas dan berkontribusi. Beliau menyatakan bahwa ilmu pendidikan bertujuan untuk pembentukan pribadi yang berakhlak mulia.

Berikut ini adalah cara yang harus ditempuh oleh seorang siswa atau santri saat menuntut ilmu kepada seorang guru, agar tidak hanya berhasil dalam kesuksesan akademik saja, tetapi kesuksesan secara spiritual dan moral adab. Beberapa karakteristik yang dianggap penting oleh KH. M. Hasyim Asy’ari bagi seorang pelajar adalah:

  1. Ikhlas Dan Taqwa

Ikhlas menurut KH. M. Hasyim Asy’ari mengacu pada kesucian niat dalam melakukan segala perbuatan hanya untuk mencari ridha Allah SWT, tanpa mencari pengakuan atau pujian dari manusia. Dalam konteks belajar, ikhlas mengacu pada motivasi pelajar yang belajar demi mencari kebenaran, pengetahuan, dan keridhaan Allah, bukan untuk kebanggaan, status sosial, atau keuntungan material.

Ikhlas merupakan pondasi dari semua amalan, karena Allah SWT tidak akan menerima perbuatan yang tidak dilandasi keikhlasan. Taqwa menurut beliau merupakan kesadaran dan ketakutan kepada Allah yang mengarahkan seseorang untuk menaati pperintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Taqwa mengandung dimensi yang mendalam, dimana seseorang selalu waspada terhadap Allah dalam segala tindakan, termasuk dalam proses menuntut ilmu.

2. Semangat Belajar dan Mencari Ilmu

KH. M. Hasyim Asy’ari menegaskan bahwa menuntut ilmu merupakan kewajiban yang harus dilaksanakan dengan penuh kesungguhan dan semangat. Tujuan pendidikan dan perolehan ilmu menurut KH. M. Hasyim Asy’ari mencakup pembinaan akhlak dan spiritual di samping pembinaan skolastik.

Seseorang perlu melakukan pendekatan pembelajaran dengan ketekunan dan kesabaran, memiliki tekad yang kuat, dan tujuan yang tulus untuk mempertahankan kegembiraan mereka dalam belajar dan memperoleh informasi. Selain itu, menghormati guru dan sumber ilmu, serta menerapkan ilmu yang diperoleh dengan cara yang etis dan bertanggung jawab adalah bagian penting dari proses belajar dalam islam.

3. Kesungguhan Dalam Belajar

Menurut pandangan KH. M. Hasyim Asy’ari, kesungguhan dalam belajar mencakup dedikasi penuh terhadap proses pembelajaran, yang didasarkan pada prinsip-prinsip islam dan nilai-nilai etis. Beliau mengajarkan bahwa menuntut ilmu adalah sebuah ibadah dan harus dilakukan dengan penuh keseriusan dan komitmen. Kesungguhan dalam belajar adalah sikap yang harus dibangun dan dipelihara sepanjang waktu. Memperoleh pengetahuan bukanlah satusatunya tujuan; membangun keterampilan seumur hidup juga sama pentingnya, seperti kemampuan untuk belajar secara mandiri, berfikir kritis, dan beradaptasi dengan perubahan. Kesungguhan adalah pondasi bagi keberhasilan akademik dan profesional.

  1. Ketaatan dan Disiplin

Ketaatan dan disiplin menurut KH. M. Hasyim Asy’ari merupakan dua pilar penting dan saling terkait dalam kehidupan pribadi dan profesional seseorang, termasuk dalam konteks pendidikan dan pembelajaran. Beliau juga berpendapat bahwa ketaatan dan disiplin mencerminkan rasa hormat terhadap ilmu dan para pembimbingnya. Disiplin adalah kemampuan untuk mengendalikan diri dan perilaku, yang memungkinkan seseorang untuk tetap fokus pada tujuan dan tanggung jawab mereka.

Baca Juga: 13 Adab Murid Terhadap Pelajarannya Menurut Kiai Hasyim Asy’ari

Ini termasuk kemampuan untuk menunda kepuasan langsung demi hasil yang lebih besar di masa depan. Disiplin diri dalam belajar mencakup menjaga jadwal belajar yang konsisten, menghindari gangguan, dan mempertahankan etos kerja yang kuat. Ketaatan dan disiplin menurut Hasyim Asy’ari merupakan landasan keberhasilan akademis dan pertumbuhan karakter yang kuat, yang keduanya diperlukan untuk menjadi anggota masyarakat yang bertanggung jawab dan menjadi mahasiswa yang sukses.

  1. Kerendahan Hati dan Kesederhanaan

Kerendahan hati adalah sikap mengakui batasan dan kekurangan diri sendiri. Hal ini memerlukan kesadaran bahwa tidak ada yang sempurna dan selalu ada ruang untuk perbaikan. Dalam konteks pembelajaran, kerendahan hati mendorong pelajar untuk terbuka terhadap pengetahuan baru, menerima umpan balik dan kritik, serta menghadapi kontribusi orang lain. Kerendahan hati juga mencegah seseorang menjadi sombong atau arogan atas pencapaian atau kemampuan mereka. Kesederhanaan berkaitan dengan gaya hidup yang tidak berlebihan dan memilih hidup tanpa kebutuhan akan kekayaan atau kemewahan yang tidak perlu. Dalam belajar, kesederhanaan bisa berarti fokus pada apa yang penting, menghindari gangguan, dan tidak terlalu memuji diri sendiri atau pencapaian pribadi.

  1. Kesabaran dan Ketekunan

Kesabaran adalah kemampuan untuk menahan diri, tetap tenang, dan bertahan dalam menghadapi kesulitan atau keterlambatan tanpa menjadi marah atau frustasi. Ini melibatkan penerimaan situasi yang sulit atau mengecewakan dengan sikap yang tenang dan tanpa keluhan. Dalam pendidikan, kesabaran bisa berarti menerima bahwa pembelajaran membutuhkan waktu dan pemahaman mendalam sering kali datang setelah berulang kali mencoba dan berlatih. Ketekunan adalah kegigihan dalam melakukan sesuatu meskipun ada kesulitan atau penundaan dalam mencapai kesuksesan. Ini adalah komitmen untuk tidak menyerah, bahkan ketika dihadapkan pada rintangan atau kegagalan.

  1. Kepedulian Terhadap Sesama

Kepedulian terhadap sesama adalah nilai kemanusiaan yang mendasar yang menekankan pentingnya empati, belas kasih, dan tindakan untuk membantu orang lain. Nilai ini merupakan inti dari banyak ajaran agama, termasuk islam dan berbagai filosofi etis diseluruh dunia.[1] Kepedulian ini termanifestasi dalam berbagai bentuk, dari tindakan kecil sehari-hari hingga upaya besar untuk memperbaiki kondisi sosial dan kesejahteraan masyarakat.

  1. Kehormatan Terhadap Ilmu

Menurut KH. M. Hasyim Asy’ari, menghormati ilmu berarti menyikapinya dengan penuh tanggung jawab dan beretika serta mengintegrasikan ilmu tersebut dalam kehidupan yang sesuai dengannilai-nilai islam. Ilmu dianggap sebagai cahaya yang menerangi jalan kehidupan dan sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. oleh karena itu menghormati ilmu adalah bagian dari ibadah dan cara untuk menghormati ciptaan Allah. Umat islam dianjurkan menuntut ilmu dari buaian hingga liang lahat, menunjukkan bahwa betapa pentingnya kehormatan terhadap ilmu dalam agama ini.

Baca Juga: Peran Doa Guru terhadap Murid