
Pagi itu, halaman Pondok Pesantren Ashabul Kahfi terasa ramai dan riuh. Bukan karena ada acara besar, melainkan oleh satu perkara sepele yang hampir setiap hari menjadi rebutan, gazebo.
Gazebo di tengah taman itu memang hanya satu. Namun, ia selalu menjadi tempat paling nyaman di pondok. Anginnya sejuk, letaknya strategis, dekat dengan kantin dan cukup jauh dari pengawas maupun pengurus. Tak heran, setiap kali waktu istirahat tiba, para santri akan berlarian seolah mengikuti lomba maraton menuju satu titik yang sama: gazebo kesayangan itu.
“Cepat, cepat! Taruh buku dulu biar dianggap sudah ada yang menempati!” seru Lail, santri dari Komplek MM, sambil meletakkan tasnya di sudut gazebo.
Belum sempat ia duduk, datanglah beberapa santri dari Komplek MS Al Firdaus dengan piring nasi di tangan.
“Eh, ini tempat kami juga, loh, Mbak. Kan belum ada orang yang duduk,” protes salah satu dari mereka.
“Loh, ini sudah ada tasku. Berarti tempat ini punyaku,” balas Lail sengit.
Perdebatan kecil pun meletus. Beberapa santri menonton sambil tertawa, sebagian lain bersorak seperti penonton pertandingan bola.
Keesokan harinya, karena jengkel terusir dari gazebo, anak-anak Komplek MM membuat sebuah tulisan besar dengan spidol hitam di papan kayu:
“GAZEBO INI KHUSUS UNTUK KOMPLEK MM.
YANG LAIN DILARANG MENEMPATI!
JIKA MELANGGAR, AKAN DIDENDA Rp50.000.”
Tulisan itu ditempel di tiang gazebo menggunakan selotip bening bermotif kucing, lengkap dengan emotikon wajah marah di ujung kalimat.
Sontak, seluruh pondok gempar. Santri dari komplek lain merasa tersinggung.
“Egois banget. Kayak punya sendiri saja. Memangnya mereka donatur?” gerutu seorang santri.
Yang lain berseloroh, “Kalau begitu, kita tulis juga di taman belakang: khusus Komplek MS.”
Situasi semakin memanas hingga akhirnya pengurus pondok turun tangan. Karena suasana terlanjur ramai, diputuskanlah untuk membahas masalah ini langsung di hadapan kiai setelah pengajian malam.
Malam itu, aula pondok dipenuhi santri. Lampu-lampu kuning redup memantulkan bayangan di dinding. Semua duduk bersila, menunggu kehadiran kiai. Hening menyelimuti ruangan.
Ketika kiai masuk, suasana seketika menjadi tenang. Suaranya lembut, namun tegas.
“Ada yang melapor kepada saya,” ujar beliau pelan. “Katanya ada tulisan yang menyatakan gazebo hanya milik satu komplek. Apa benar begitu?”
Beberapa santri menunduk. Lail, yang duduk di barisan tengah, meremas ujung sarungnya.
Kiai tersenyum kecil, lalu berkata, “Anak-anakku, kalian hidup di pondok. Pondok bukan hanya tempat mengaji kitab, tapi juga tempat mengaji adab. Termasuk adab dalam berbagi.”
Beliau berhenti sejenak, menatap satu per satu wajah di hadapannya.
“Nduk, gazebo itu tidak dibangun oleh satu komplek, dan bukan untuk satu komplek saja. Ia dibangun dari uang kas pondok, artinya milik bersama. Menuliskan larangan seperti itu bukan bentuk menjaga, melainkan menutup pintu persaudaraan.”
Suasana kian sunyi. Hanya suara jangkrik yang terdengar dari luar aula.
“Coba bayangkan,” lanjut kiai lembut, “jika Allah bersikap seperti kalian: udara hanya untuk orang kaya, cahaya matahari hanya untuk santri dari komplek tertentu. Apakah kalian mau?”
Lail menunduk dalam-dalam. Hatinya terasa disiram air dingin. Ia tak pernah menyangka, ego kecilnya bisa berdampak besar—bukan hanya bagi orang lain, tetapi juga di hadapan Allah.
Kiai menutup nasihatnya dengan kalimat yang lama terngiang di benak para santri.
“Kebersamaan diuji bukan saat senang, melainkan saat harus berbagi. Jika kalian rela berbagi tempat, Allah akan melapangkan hati dan rezeki kalian. Namun jika kalian kikir dan sulit berbagi, yakinlah, yang sempit bukan hanya tempatnya, tetapi juga hatinya.”
Sejak malam itu, tulisan di gazebo dicopot. Sebagai gantinya, Lail menulis ulang dengan spidol hitam:
“GAZEBO MILIK BERSAMA.
SIAPA PUN YANG DUDUK DI SINI
HARUS SIAP BERBAGI APA PUN YANG DIBAWA.”
Tulisan itu dilengkapi gambar wajah tersenyum. Entah mengapa, sejak saat itu gazebo terasa lebih hangat. Santri dari berbagai komplek duduk bersama di sana: makan, bercanda, bercerita, bahkan belajar bersama. Tak ada lagi rebutan, tak ada lagi tulisan bernada marah. Yang ada hanyalah tawa dan kebersamaan di tempat sederhana itu.
Dari peristiwa itu, Lail memahami bahwa hal kecil seperti berbagi tempat dapat menunjukkan betapa lapang hati seseorang. Sebab hidup di pondok bukan hanya tentang menghafal ayat, melainkan juga mengamalkan maknanya: kebersamaan, keikhlasan, dan menahan ego diri. Karena sejatinya, keberkahan tidak tumbuh dari kepemilikan, melainkan dari kerelaan untuk berbagi dalam setiap keadaan.
Penulis: Wan Nurlaila Putri
Editor: Rara Zarary


















