Oleh: Qurratul Adawiyah*

Hj. Lily Chodijah Wahid atau yang akrab dipanggil Lily Wahid adalah adik kandung Gus Dur. Beliau lahir pada tanggal 4 Maret 1948 anak kelima dari pasangan suami istri KH. A. Wahid Hasyim dengan Ibu Nyai Solichah A. Wahid Hasyim. Usianya baru lima tahun ketika sang ayah pergi wafat meninggalkannya. Setelah itu beliau bersama empat kakaknya, beliau diasuh oleh ibunya yang sedang mengandung. Ibu dan kakaknya berjasa besar dalam menanamkan ajaran agama padanya. Setiap hari beliau dan kakak-kakaknya diajari ibunya membaca al-Quran dan pelajaran agama lainnya. Terkadang KH. Bisri Syansuri yang merupakan kakek dari pihak ibunya datang berkunjung dan mengajari mereka membaca al-Quran, yang mana beliau sangat memperhatikan tajwid dalam melafalkan bacaan-bacaan al-Quran.

Beliau adalah pribadi yang mempunyai kegemaran membaca dan seni. Bukan hanya pelajaran yang dibacanya. Malah yang lebih banyak dibaca justru komik-komik silat. “Kalau sudah membaca komik sambil makan kuaci di pojok rumah, sudah tidak ingat apa-apa seharian,” begitu katanya mengenang saat-saat itu. Di bidang seni, beliau juga menyukai lagu dan musik. Uniknya, di masa itu beliau bersama kakak-kakaknya sudah berkacamata, padahal belum banyak anak-anak yang berkaca mata. Mereka juga suka menonton film di bioskop. Berhubung malu karena semuanya memakai kacamata maka sebelum pergi, mereka mengundi dengan tangan untuk menentukan siapa yang harus melepaskan kacamata.

Beliau dikaruniai tiga anak dari suaminya yang wafat tahun 1987. Pertama, Nurul Fatchiati (Nungki) yang bekerja di Kompas dan kini ditempatkan di Yogyakarta. Kedua, Riri, menetap di Gresik dan menjadi karyawan BUMN di kota ini. Yang terakhir Maria Adviani (Vivi), lulusan Institut Pertanian Bogor. Kini mereka semua telah dewasa. Kepada anak-anaknya beliau berharap agar mereka dapat melanjutkan cara-cara yang ditempuhnya ketika mendidik mereka dulu.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Riwayat Pendidikan dan Organisasi

Pendidikan ibu Nyai Lily Chodijah Wahid sama seperti sekolah kakak-kakaknya yaitu di SD Perwari. Sejak di bangku sekolah dasar hingga sekolah menengah, relatif tidak ada kesulitan dalam proses belajar. Sekolahnya lancar-lancar saja. Nilai-nilainya pun selalu bagus. Salah satu faktornya beliau suka membaca. Selain itu, masa-masa sekolah beliau tidak hanya digunakan untuk belajar melainkan beliau juga suka beroraganisasi karena sifatnya yang senang bergaul dan kumpul-kumpul. Keaktifannya tersebut tentu tak lepas dari pengaruh sosok ibu yang juga aktif. Ketika duduk di bangku SMA, beliau telah aktif di IPPNU dan KAPPI. Beliau menjabat sebagai ketua 1. Beliau juga yang memindahkan IPPNU dari Yogyakarta ke Jakarta. Dengan keberanian dan kepercayaan diri yang luar biasa di usia 18 tahun, beliau tampil di panggung bersama Husni Thamrin, tokoh muda penggerak massa yang sangat terkenal di masa peralihan.

Seandainya beliau tidak dilarang oleh ibunya, mungkin beliau menjadi anggota DPR termuda di tahun 1967 karena perannya yang menonjol, sehingga beliau diusulkan oleh HM Subchan ZE untuk menjadi anggota DPR mewakili IPPNU padahal usianya baru 18 tahun. Namun ibunya tak mengehendaki, dengan alasan pada waktu itu lima keluarganya termasuk sang ibu sendiri telah menjadi anggota DPR. Apa kata orang nanti? Katanya. Meskipun pada saat itu beliau sangat kecewa, tetapi belakangan ini beliau bersyukur dan berpikir bahwa Allah justru menyelamatkannya. Kerena menurut beliau kalau tidak gagal saat itu, beliau akan menjadi bagian dari Orde Baru  yang tentu akan mengikuti pola pikir mereka.

Beliau juga sosok perempuan yang cerdas, berkat kecerdasannya setelah tamat SMA beliau diterima di Fakultas Kedokteran UI. Namun hanya bertahan sampai tingkat III. Keinginnanya menjadi dokter tidak terpenuhi karena keburu menikah dengan Najamuddin Rosyidi pada tahun 1970 yang masih terhitung pamannya, sehingga pada saat itu kuliahnya terpaksa berhenti dan harus mengikuti suaminya yang tugasnya berpindah-pindah yang profesinya sebagai tentara.

Beliau sosok yang teguh pendirian yang merupakan cirinya sejak muda. Apa yang diyakininya benar, itulah yang dipertahankan. Beliau juga sosok yang tidak mau menerima uang dari sumber yang tidak jelas dan selalu ingin berbagi dalam hal-hal yang berkaitan dengan materi-materi duniawi. Dan beliau juga berusaha melakukan yang sama dalam hal-hal yang menyangkut masalah-masalah akhirat yang memberikan kepuasan tersendiri di dalam jiwa. Semoga kita semua bisa mengikuti dan meneladani kiprah-kiprah beliau yang luar biasa ini.


Sumber buku: Sama tapi berbeda karya Ali Yahya


*Mahasantri Ma’had Aly Hasyim Asy’ari

SebelumnyaIkuti International Bilingual Day dan Rebut Hadiah Senilai 200 Juta!
BerikutnyaRamadan Berbagi Bersama Anak Yatim