Dosen Mahad Aly Hasyim Asy’ari, Anang Firdaus.

Tebuireng.online– Anang Firdaus menjadi salah satu narasumber pada acara Khazanah Manuskrip Pesantren Tebuireng, Selasa (24/5/2022). Ia menjelaskan mendapati temuan menarik soal kajian manuskrip. Yakni, mengenai tradisi penulisan dawuh guru (quotes) oleh murid.

Tradisi penulisan dawuh guru ternyata sudah ada sejak zaman dulu. Dalam sejarah kesarjanaan Islam banyak murid-murid yang mengabadikan pendapat syaikhnya dalam tulisannya. Contoh, kitab Fihi Ma Fihi, sebuah karya Syaikh Jalaluddin Rumi. Seorang tokoh Iran mengungkapkan, ada sebuah pendapat bahwa kitab tersebut ditulis oleh Sultan Walad (anak tertua Jalaluddin Rumi).

Ada lagi, Diwan Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani, salah satu karangan Abdul Qadir Al-Jailani yang baru saja ditahqiq oleh Syaikh Yusuf Zaidan, cendekiawan manuskrip Mesir. Beliau mengungkap bahwa kitab itu sebenarnya tulisan murid-murid Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani tentang kata mutiara (quotes).

“Begitu juga pendapat-pendapat guru Tebuireng beberapa terdokumentasikan oleh sang murid. Salah satu adalah catatan Muhammad Siddiq ibn Markum, Pleret, Cirebon pernah mengaji kepada Kyai Hasyim,” ungkap Dosen Mahad Aly Hasyim Asy’ari Tebuireng itu.

salah satu slide yang dijelaskan dalam acara Khazanah Manuskrip Pesantren Tebuireng.

Ada lagi kitab Al-Baijuri yang kepemilikannya sudah tidak bisa diidentifikasi, di dalamnya ditemukan sebuah nazam gubahan KH. Hasyim Asy’ari. Hal itu sejalan dengan apa yang dikatakan oleh As’ad Syihab mengenai kegemaran Kyai Hasyim menulis syair.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

“Selain memberi makna pada kitab. Para santri juga sangat bagus ketika menuslikan aqwal (dawuh) gurunya,” imbuhnya. Atas hal itu, Anang berharap ada peminatan mengenai kajian manuskrip dawuh guru-guru pesantren.

Pewarta: Yuniar Indra

SebelumnyaOman Fathurrahman Berharap Filologi Jadi Konsentrasi di Tebuireng
BerikutnyaRespons Pengasuh Pesantren Tebuireng Terhadap Khazanah Manuskrip