Guru Besar Filologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Oman Fathurrahman.

Tebuireng.online– Oman Fathurrahman, Guru Besar Filologi Fakultas Adab dan Humaniora Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, menjadi keynote speaker pada acara Khazanah Manuskrip Pesantren Tebuireng, Selasa (24/5/2022).

Acara tersebut merupakan kolaborasi antar tiga lembaga, yaitu DREAMSEA (Digital Repository of Endangered and Affected Manuscripts in Southeast Asia), Ma’had Aly Hasyim Asy’adi, dan Turats Tebuireng.

Pria yang menjabat sebagai Staf Ahli Menteri Agama Bidang Manajemen Komunikasi dan Informasi tersebut mengimani bahwa, “Tebuireng punya reputasi yang tidak diragukan lagi kontribusinya untuk Indonesia. Dan agenda ini adalah bentuk rangsangan bagi para santri agar menengok kembali warisan keilmuan para ulama pendahulunya,” ungkapnya.

Oman menyadari bahwa dalam waktu lama warisan ulama sempat terabaikan. Ia mengaku 25 tahun lalu belum pernah mengenal kajian manuskrip. Karena memang pengkajinya masih minim, dan rata-rata pengkajinya dari Barat. Itulah latar belakang DREAMSEA. Makanya lembaga ini bertujuan untuk menggali kembali warisan tersebut.

suasana Perpustakaan Tebuireng dalam pelaksanaan acara Khazanah Manuskrip Pesantren Tebuireng yang juga dilakukan secara online melalui zoom meeting.

Selain itu program DREAMSEA ini bertujuan agar para peneliti lebih mudah mengakses manuskrip-manuskrip warisan ulama. 64.818 halaman manuskrip yang sudah direpositori oleh DREAMSEA. Angka itu diyakini masih akan bertambah terus selama para pengkaji manuskrip terus mendalaminya. Apalagi ini untuk kajian hadis, temuan manuskrip hadis di Indonesia masih langka. Sementara ini kebanyakan ulama nusantara mengkaji perihal fikih dan tasawuf.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

“Yang paling pokok, digitalisasi manuskrip itu sangat urgen. Karena jika tidak demikian maka warisan keilmuan ulama Nusantara akan lenyap ditelan zaman. Alhasil, pentingnya digitalisasi manuskrip adalah sebuah kewajiban,” tegasnya.

Pewarta: Yuniar Indra

SebelumnyaKetika Dua Ulama Besar Berbeda Pandangan Soal Kentongan
BerikutnyaMenarik Diungkap! Tradisi Penulisan Quotes Guru di Pesantren Tebuireng