
Ramadan tahun ini datang dengan langkah yang pelan, seolah tahu ada hati yang belum sepenuhnya siap menerimanya. Di rumah itu, meja makan kayu jati masih berdiri di tempat yang sama, sedikit tergores di sudutnya, bekas sendok yang dulu diketukkan Ibu saat memanggil kami sahur. Tidak ada yang berubah dari letaknya. Yang berubah adalah rasa.
Tahun lalu, Ramadan selalu dimulai dengan suara yang khas. Bukan suara alarm ponsel, melainkan bunyi piring dan gelas yang sengaja dibenturkan pelan oleh Ibu di dapur. “Sahuuur… bangun… sudah hampir imsak!” serunya, setengah berteriak, setengah memohon. Aroma bawang goreng dan nasi hangat lebih ampuh dari apa pun untuk menarik kami keluar dari selimut.
Aku masih ingat bagaimana Ibu berjalan dari kamar ke kamar, mengetuk pintu sambil terus mengomel. “Kalian ini, kalau tidak dibangunkan tiga kali tidak akan bangun. Nanti menyesal kalau tidak sahur!” katanya. Kami sering menjawab dengan gumaman tak jelas, pura-pura bangun, lalu tertidur lagi. Sampai akhirnya Ibu benar-benar menarik selimut kami.
Di meja makan, selalu ada menu berbeda. Kadang sayur bening dengan ikan goreng, kadang ayam kecap, kadang hanya telur dadar tebal yang dibagi menjadi empat bagian sama rata. “Biar sederhana, yang penting penuh berkah,” ucapnya setiap kali kami memuji masakannya.
Saat berbuka, suasananya lebih meriah. Ibu sudah sibuk sejak sore. Kolak pisang mengepul di panci kecil, es buah berwarna-warni memenuhi teko besar, dan gorengan tersusun rapi di atas piring. “Buka puasa jangan berlebihan, ya,” katanya, meski ia sendiri selalu memastikan semua menu tersedia. Aneh, nasihat itu justru terasa paling manis ketika kami tahu ia sudah lelah seharian.
Ramadan tahun lalu adalah Ramadan terakhir bersama Ibu.
Kini, Ramadan datang tanpa suara piring yang dibenturkan. Tidak ada langkah kaki yang tergesa dari dapur ke kamar. Tidak ada omelan yang terdengar lebih seperti doa.
Yang membangunkan kami adalah alarm ponsel yang berbunyi kaku. Ayah yang kini berdiri di ambang pintu kamar hanya mengetuk pelan. “Bangun, Nak. Sudah jam tiga,” katanya singkat. Suaranya tidak sekeras Ibu, tidak juga sepanjang Ibu. Ada jeda yang panjang di antara kata-katanya, seolah setiap kalimat harus melewati dada yang berat.
Aku bangun lebih dulu. Dapur terasa asing meski dindingnya sama. Aku berdiri beberapa detik, memandangi rak bumbu yang dulu begitu hafal disentuh tangan Ibu. Kini, aku yang membuka laci, mengeluarkan wajan, menyalakan kompor.
“Masak apa?” tanya adikku, Lala, dengan mata masih setengah terpejam.
“Apa saja yang ada,” jawabku pelan.
Aku menggoreng telur. Hanya itu yang terpikir. Tidak ada ayam kecap, tidak ada sayur bening, tidak ada sambal terasi yang aromanya memenuhi rumah. Hanya telur dadar tipis dan nasi hangat. Saat membalik telur di wajan, aku teringat bagaimana Ibu selalu membuatnya tebal dan empuk. Entah bagaimana caranya, telur buatannya terasa lebih istimewa.
Kami duduk di meja yang sama. Kursi Ibu kosong. Biasanya ia duduk paling ujung, dekat dapur, agar mudah bangkit jika ada yang kurang. Kini kursi itu tetap ada, tapi tak lagi ditempati.
Ayah memimpin doa sahur dengan suara lirih. Ada getar yang tidak bisa ia sembunyikan. Kami mengamini dengan mata yang terasa panas. Tidak ada yang berani memulai percakapan panjang. Suara sendok beradu dengan piring terdengar lebih nyaring dari biasanya.
“Telurnya enak,” kata Ayah akhirnya, mencoba tersenyum kepadaku.
Aku tahu itu bukan sekadar pujian. Itu adalah bentuk dukungan. Sebuah pengakuan bahwa peran sedang berganti, meski hati belum sepenuhnya siap.
***
Hari-hari berikutnya berjalan dengan pola baru. Aku mulai belajar merencanakan menu berbuka. Sore hari sepulang kerja, aku mampir ke pasar kecil di ujung gang. Membeli pisang untuk kolak, santan, sedikit gula merah. Pedagang itu sempat bertanya, “Biasanya Ibunya yang belanja, ya?” Aku hanya tersenyum dan mengangguk singkat.
Di dapur, aku mencoba membuat kolak seperti resep yang pernah Ibu ajarkan. “Jangan terlalu banyak air, nanti hambar,” suaranya terngiang di kepalaku. Aku mencicipi kuahnya. Kurang manis. Aku tambahkan gula. Terlalu manis. Aku tertawa kecil sendiri. Ternyata benar, memasak bukan hanya soal takaran, tapi soal rasa yang diturunkan dengan sabar.
Ketika adzan magrib berkumandang, kami duduk mengelilingi meja yang sama. Ada kolak, ada tempe goreng, ada sambal sederhana. Tidak semewah dulu, tapi kami berusaha.
Lala memandangi kolak itu lama. “Mirip buatan Ibu,” katanya pelan.
Aku tahu itu tidak sepenuhnya benar. Tapi kalimat itu cukup membuat dadaku sesak sekaligus hangat.
Ramadan bukan hanya tentang menahan lapar. Ramadan adalah tentang menahan rindu. Rindu pada suara Ibu yang marah-marah karena kami belum bangun padahal imsak hampir tiba. Rindu pada tangannya yang cekatan menyiapkan menu berbeda setiap hari. Rindu pada caranya memastikan tidak ada satu pun dari kami yang merasa kurang.
Kini, peran itu berganti. Aku yang membangunkan Lala dengan mengetuk pintu lebih keras. “Bangun, nanti imsak!” seruku, meniru nada Ibu. Lala menggerutu, persis seperti dulu aku melakukannya. Kami saling berpandangan dan tertawa kecil. Di sela tawa itu, ada genangan air mata yang tidak jatuh.
Ayah pun berubah. Ia yang dulu lebih banyak diam saat sahur, kini berusaha bercerita tentang masa kecilnya. Tentang bagaimana nenek membangunkannya dengan lampu minyak dan suara kentongan. Ia bercerita panjang, mungkin agar kami tidak terlalu larut dalam sepi.
Suasana rumah memang berbeda. Tidak ada lagi aroma masakan yang otomatis membangunkan tidur. Tidak ada lagi omelan panjang yang terdengar seperti musik latar Ramadan. Namun ada sesuatu yang tumbuh pelan-pelan: kesadaran bahwa keluarga bukan hanya tentang siapa yang memasak atau siapa yang membangunkan.
Keluarga adalah tentang saling menggantikan ketika satu peran kosong.
Di malam ke-20 Ramadan, aku duduk sendiri di meja makan setelah yang lain tidur. Aku mengusap permukaan kayu yang mulai kusam. Meja ini telah menjadi saksi tawa, tangis, dan doa. Tahun lalu, Ibu masih duduk di sini, menyuruh kami menambah makan. Tahun ini, kami belajar menambah kesabaran.
Aku menatap kursi kosong itu dan berbisik dalam hati, “Kami baik-baik saja, Bu. Kami belajar.”
Ramadan tahun ini tidak seramai dulu, tidak semeriah dulu. Menu tidak selalu berbeda, rasa tidak selalu sempurna. Namun ada keteguhan yang tumbuh. Ada kedewasaan yang terpaksa datang lebih cepat.
Meja makan itu memang sama. Dinding rumah masih sama. Bahkan jam dinding yang sering terlambat lima menit pun masih tergantung di tempatnya. Tapi suasana telah berubah. Peran telah berganti. Anak yang dulu dibangunkan kini menjadi yang membangunkan. Ayah yang dulu diam kini belajar bercerita. Adik yang dulu manja kini membantu mencuci piring tanpa disuruh.
Di setiap sahur serta berbuka, meski tanpa suara Ibu, kami merasakan satu hal yang tidak pernah benar-benar hilang, kehangatan.
Ramadan mengajarkan kami bahwa kehilangan tidak selalu berarti berakhir. Kadang ia hanya mengubah bentuknya. Dari suara yang terdengar menjadi kenangan yang menguatkan. Dari tangan yang memasak menjadi tangan yang belajar memasak.
Di meja yang sama, dengan rasa yang berbeda, kami tetap berdoa. Semoga setiap suap sahur dan teguk berbuka menjadi jembatan doa untuknya. Dan semoga suatu hari nanti, ketika kami membangunkan anak-anak kami sendiri, ada sedikit cara Ibu yang ikut hidup kembali di rumah ini.
Penulis: Ummu Masrurah
Editor: Rara Zarary


















