Manakib KH Abdul Manan Dipomenggolo (1), Ulama Pelopor dari Pacitan

1024
Komplek Makam KH. Abdul Manan Dipomenggolo di Desa Semanten Pacitan.

Oleh: Zaenal Faizin*

Tidak banyak catatan riwayat hidup dan perjuangan KH. Abdul Manan Dipomenggolo yang berhasil dikumpulkan. Padahal sebenarnya KH. Abdul Manan Dipomenggolo mempunyai banyak kapasitas peran, yaitu sebagai ulama, sebagai pendiri Pondok Tremas Pacitan, dan peretas jejaring ulama nusantara.

Dokumentasi yang beredar dan dimiliki oleh keluarga besar Pondok Tremas Pacitan dan Pondok Kikil hanya berupa riwayat singkat perjalanan KH. Abdul Manan Dipomenggolo ketika menimba ilmu di Pesantren Tegalsari Ponorogo, di bawah asuhan Kiai Hasan Besari, dan perananya dalam merintis berdirinya Pondok Tremas Pacitan dan Pondok Kikil.

Sungguh sangat disayangkan, tokoh sehebat KH. Abdul Manan Dipomenggolo riwayatnya terlewatkan begitu saja. Padahal bila diteliti lebih dalam, ketokohan dan peran KH. Abdul Manan Dipomenggolo sangat luar biasa. Sulit dibayangkan, KH. Abdul Manan Dipomenggolo merintis pesantren pada sejak zaman kolonial Belanda hingga kini masih tetap istikamah sebagai pusat peradaban keilmuan.

Yang menjadi pertanyaan, sebenarnya tirakat apa yang pernah dilakukan oleh KH. Abdul Manan Dipomenggolo sehingga pesantren yang didirikan masih kokoh berdiri, keturunanya menjadi orang-orang hebat, dan dapat menjadi peretas jejaring ulama nusantara. Ini yang harus terus direnungkan dan digali oleh generasi yang akan datang.

KH. Abdul Manan Dipomenggolo sebagai Ulama

KH. Muhammad Habib, dalam bukunya Mengenal Pondok Tremas dan Perkembanganya, menulis bahwa riwayat KH. Abdul Manan Dipomenggolo diketahui saat beliau menimba ilmu di Pesantren Tegalsari Ponorogo, kira-kira dimulai pada 1820-an. KH. Abdul Manan Dipomenggolo yang mempunyai nama kecil Raden Bagus Darso adalah putra dari Raden Ngabehi Dipomenggolo.

Secara nasab, KH Abdul Manan Dipomenggolo berasal dari keluarga salah satu ningrat. Hal ini bisa ditelusuri lebih jauh keatas dari silsilah yang dimiliki oleh keluarga besar Pondok Tremas Pacitan dan Pondok Kikil sebagai dzuriyyah atau keturunan langsung KH Abdul Manan Dipomenggolo.

Ningrat adalah suatu gelar yang diberikan kepada seseorang atau golongan tertentu yang merupakan pewaris tahta kerajaan di jawa. Ningrat merupakan istilah lain dari “darah biru” yaitu seseorang yang masih memiliki hubungan saudara dengan seorang raja jawa. Salah satu ciri ningrat adalah terlihatnya sikap ksatria dan keberanian, serta kegagahan dalam diri seorang pria, dan nampaknya adab halus dan keanggunan, bagi seorang wanita. contoh macam nama gelar orang ningrat salah satunya adalah sebutan Raden. Nah, KH Abdul Manan Dipomenggolo, oleh masyarakat Pacitan dikenal dengan sebutan Raden Bagus Darso.

Raden Bagus Darso merupakan putera dari salah seorang tokoh yang sangat dihormati di daerah Semanten Pacitan. Ayahnya bernama Raden Ngabehi Dipomenggolo. Tidak diketahui pasti tanggal, bulan, dan tahun berapa Raden Bagus Darso dilahirkan, namun diperkirakan Raden Bagus Darso dilahirkan pada tahun 1800-an. Minimnya data tentang tanggal lahir Raden Bagus Darso membuat Ibunda Raden Bagus Darso tidak diketahui pasti siapa namanya. Namun yang jelas Raden Bagus Darso dilahirkan dari keluarga darah biru yang agamis.

Sementara itu Raden Ngabehi Dipomenggolo merupakan putera dari Kiai Ageng Setroyudo. Bila ditelusuri ke atas lagi, nasabnya akan sampai kepada Kiai Ampok Boyo, kemudian kepada Raden Joko Puring, hingga terakhir kepada Brawijaya ke V. Inilah kenapa pada nama Bagus Darso diawali dengan kata “Raden”, yang dapat dipersepsikan bahwa Raden Bagus Darso berasal dari keluarga yang memiliki nasab yang baik dan dari keluarga terpandang kala itu.

Namun belum diketahui secara pasti ikhwal, kapan dan siapa yang menyusun catatan tentang nasab KH. Abdul Manan Dipomenggolo itu. Namun catatan ini kemungkinan besar sudah ditashih oleh para sesepuh terdahulu, dan keberadaanya telah diakui oleh keluarga.

Seperti kebanyakan remaja kala itu, Raden Bagus Darso sejak kecil mendapatkan pedidikan dari ayahnya sendiri. Beliau dididik dan dikader oleh ayahnya agar kelak dapat menjadi tokoh yang berguna untuk agama dan masyarakatnya, maka Raden Ngabehi Dipomenggolo kemudian mengirim Raden Bagus Darso untuk nyantri kepada salah seorang ulama besar yang keilmuanya diakui oleh zamannya, yakni KH. Hasan Besari di Pesantren Tegalsari, Jetis Ponorogo, Jawa Timur.

Pesantren Tegalsari adalah salah satu pesantren bersejarah di Indonesia. Pesantren ini terletak di Desa Tegalsari, Kecamatan Jetis, Kabupaten Ponorogo pada abad ke-18 sampai abad ke-19. Pesantren ini didirikan oleh Kiai Ageng Hasan Besari. Pesantren ini memiliki ribuan santri berasal dari seluruh tanah Jawa dan sekitarnya. Di antara santri-santrinya yang terkenal adalah Pakubuwono II penguasa Kerajaan Kartasura, Raden Ngabehi Ronggowarsito seorang pujangga Jawa yang masyhur dan tokoh Pergerakan Nasional H.O.S. Cokroaminoto.

Raden Bagus Darso nyantri kepada KH. Hasan Besari selama beberapa tahun lamanya. Selama menjadi santri, Raden Bagus Darso berteman dan kerap berdiskusi dengan Ronggowarsito, yang kelak kemudian dikenal sebagai pujangga itu.

Di bawah asuhan Kiai Hasan Besari, Raden Bagus Darso kerap mendapatkan perhatian dan bimbingan khusus dari kiainya itu. Hal ini sangat beralasan karena Raden Bagus Darso merupakan putera dari salah seorang tokoh yang sangat dihormati di daerah Wengker Selatan (sekarang Pacitan). Selain itu, Raden Bagus Darso ketika nyantri juga termasuk santri yang sangat tekun, khususnya tekun dalam mempelajari ilmu agama Islam. Raden Bagus Darso dikenal suka melakun riyadhah atau lelaku khusus, namun hal ini belum diketahui jelas, amalan apa yang sering dilakukan oleh Raden Bagus Darso sehingga kelak beliau menjadi seorang ulama yang hebat.

  Ridwan Kamil Sampaikan Kuliah Umum di Pesantren Tebuireng

Perhatian yang diberikan oleh KH. Hasan Besari kepada Raden Bagus Darso bermula saat suatu malam yang dingin, di mana waktu itu para santri Pondok Tegalsari sedang tidur pulas. Sebagaimana biasanya KH. Hasan Besari keluar untuk sekedar menjenguk anak-anak didiknya yang sedang tidur di asrama maupun di serambi masjid.

Pada waktu beliau memeriksa serambi masjid yang penuh ditiduri oleh para santri itu, tiba-tiba pandangan kiai tertumbuk pada suatu pemandangan aneh berupa cahaya yang bersinar, dalam hati beliau bertanya, apakah gerangan cahaya aneh itu. Kalau cahaya kunang tentu tidak demikian, apalagi cahaya api tentu tidak mungkin, sebab cahaya ini mempunyai kelainan. Kemudian dengan hati-hati, agar tidak sampai para santri yang sedang tidur, kiai mendekati cahaya aneh itu. Makin dekat dengan cahaya aneh tersebut keheranan kiai bertambah, sebab cahaya itu semakin menunjukkan tanda-tanda yang aneh. Dan kemudian apa yang disaksikan kiai adalah suatu pemandangan yang sungguh luar biasa, sebab cahaya itu keluar dari ubun-ubun salah satu santrinya.

Kemudian diperiksanya siapakah sesungguhnya santri yang mendapat anugerah itu.Tetapi kegelapan malam dan pandangan mata yang sudah kabur terbawa usia lanjut menyebabkan usaha beliau gagal. Namun KH. Hasan Besari tidak kehilangan akal, dengan hati-hati sekali ujung ikat kepala santri itu diikat sebagai tanda untuk mengetahui besok pagi kalau hari sudah mulai terang.

Esoknya sehabis sembahyang Subuh, para santri yang tidur di serambi masjid disuruh menghadap beliau. Setelah mereka menghadap, dipandangnya satu demi satu santri tersebut dengan tidak lupa memperhatikan ikat kepala masing-masing. Di sinilah beliau mengetahui bahwa sinar aneh yang semalam keluar dari ubun-ubun salah satu santrinya berasal dari salah satu santri muda pantai selatan (Pacitan) yang tidak lain adalah Raden Bagus Darso. Dan semenjak itu perhatian KH Hasan Besari dalam mendidik Bagus Darso semakin bertambah, sebab beliau merasa mendapat amanat untuk mendidik seorang anak yang kelak kemudian hari akan menjadi pemuka dan pemimpin umat.

Kemungkinan besar, nama Raden Bagus Darso yang kemudian hari berganti nama menjadi KH. Abdul Manan merupakan pemberian langsung dari KH. Hasan Besari sendiri sebagai wujud cinta KH Hasan Besari kepada santrinya itu. Setelah lama mengembara ilmu agama pada KH. Hasan Besari, Raden Bagus Darso kemudian pulang ke tanah kelahiranya di Semanten Pacitan dan mendirikan pesantren di sana pada tahun 1830 M. Dan sejak saat itu, Raden Bagus Darso dikenal dengan nama KH. Abdul Manan Dipomenggolo.

Pada awalnya pondok yang didirikan di Semanten merupakan pesantren yang kecil yang santrinya hanya berasal dari lingkungan Desa Semanten dan Pacitan. Berkat kerja keras, doa, dan kealiman dan keikhlasannya, maka lambat laut jumlah santrinya meningkat dengan pesat.

Usaha pertama kali yang dilakukan untuk membangun tempat pengajian sudah barang tentu mendirikan sebuah masjid (terletak agak ke sebelah timur dari masjid yang sekarang). Dan setelah santri-santri dari jauh yang sebagian berasal dari bekas santri-santrinya di Semanten mulai berdatangan, maka dibangunlah sebuah asrama pondok di sebelah selatan masjid. Sudah barang tentu keadaan masjid dan asrama pondok pada waktu itu masih sangat sederhana sekali, atapnya masih menggunakan daun ilalang dan kerangka lainnya masih banyak yang menggunakan bahan dari bambu.

Kemudian tidak lama setelah itu, KH. Abdul Manan Dipomenggolo menikah dengan puteri Demang Tremas yang bernama Raden Ngabehi Honggowijoyo. Lagi-lagi tidak ada catatan, siapa nama isteri dari KH. Abdul Manan Dipomenggolo tersebut. Setelah menikah itulah, KH. Abdul Manan Dipomenggolo diberi sebidang tanah oleh mertuanya untuk dijadikan sebagai tempat menyebarkan ilmunya, dan hingga saat ini kita kenal pesantren yang didirikan oleh beliua dikenal dengan nama Perguruan Islam Pondok Tremas Pacitan.

Adapun pengajian-pengajian pada awal berdirinya Pondok Tremas masih belum banyak berbeda dengan pengajian pada masa pondok masih terletak di Semanten, yang antara lain, pasholatan, ilmu tauhid, fikih, tafsir dan lain-lain. Jadi karena Pondok Tremas pada waktu itu masih dalam taraf permulaan dan santrinya juga belum sebanyak pada periode sesudahnya, maka kitab-kitab yang dipakainya juga masih dalam tingkatan dasar.

Dalam membina pesantren, KH. Abdul Manan Dipomenggolo dibantu oleh isteri tercintanya, hingga KH Abdul Manan Dipomenggolo mempunyai beberapa putra-putri yang membanggakan, yang kelak akan meneruskan perjuanganya dalam membina pesantren.

Setelah lama mengembangkan pesantren, maka KH. Abdul Manan Dipomenggolo kemudian melaksanakan salah satu rukun Islam, dengan menunaikan ibadah haji. KH. Abdul Manan Dipomenggolo menunaikan ibadah haji dan sekaligus meneruskan belajar ilmu agamanya di Universitas al Azhar, Kairo, Mesir.


*Zaenal Faizin adalah penggerak media di Perguruan Islam Pondok Tremas dan NU Pacitan, kini menjadi Pimpinan Redaksi pachenews.com.