Lemah Lembut dan Mahabbah

189
Sumber: kelascinta.com

Oleh: Fawaid Abdullah*

Lemah lembut itu sifat yang halus baik itu perkataan dan (apalagi prilaku atau tindakan). Sedangkan mahabbah atau cinta adalah ekspresi bentuk kasih sayang dari lahir dan batin yang ada dalam diri manusia. Dalam tulisan ini saya ingin lebih spesifik membahas lemah lembut dan mahabbah ini khusus dalam urusan berdakwah dan bagaimana dalam ber-mua’amalah “berhubungan” dengan manusia pada umumnya.

Di tengah hiruk pikuk kondisi belakangan ini, banyak caci maki, provokasi, dengan nyinyiran yang tak henti-hentinya semakin menjadi-jadi. Tidak pandang bulu, orang begitu gampang menghujat. Yang bukan kelompoknya, bukan golongannya, kaum nyinyiriyyin seakan-akan telah menjadi kekuatan tersendiri di negeri ini. Saya pikir hampir saja sama, tidak kelompok A, B, C, D dan lain-lain, sama-sama suka dengan hoaxisme

Rasa-rasanya sikap lemah lembut mulai luntur bahkan hilang. Sikap mahabbah, cinta yang menjadi contoh baginda Nabi Rasulullah Saw. seakan-akan sudah tidak dihiraukan lagi. Tragis memang, tapi begitulah faktanya. 

Sahabat Umar ibn Khattab menyampaikan :

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

حسن التودد إلى الناس نصف العقل

“Sebaik-baik cinta kepada sesama manusia itu adalah separuh dari akalnya.”

Artinya, sikap mahabbah misalnya, di dalam menyampaikan nasehat atau dakwah, itu adalah separuh dari akal yang ada dalam dirinya.

Sebagaimana di riwayatkan oleh Ibn Hibban, al-Thabrani, al-Baihaqi dari Jabir ibn Abdullah bahwa Rasulullah SAW bersabda :

“Bersikap lemah lembut kepada sesama manusia itu adalah shadaqah.

Baik itu dengan ucapan, perkataan maupun dengan perbuatan. Maka itu dicatat sebagai shadaqah. Berkata-kata halus, lemah lembut, tidak ada caci-maki, tidak teriak-teriak bahkan (apalagi) dengan nada memprovokasi mengajak memberontak “bughot” kepada negara. Maka jelas itu sesuatu yang tidak benar dan tidak wajib diikuti.

🤔  Syaikh Mahfudz at Tarmasi, Ulama Indonesia Diakui Dunia (Bagian 2)

وحسن السؤال (على العلماء) نصف العلم

“Sebaik-baik tempat bertanya itu adalah kepada ulama, karena ulama itu adalah separuh dari adanya ilmu.

Ulama itu adalah ilmu yang berjalan. Bertanyalah kepada ulama, bertanyalah kepada ahlinya wa bil khusus tentang agama. Saat ini yang terjadi justru sebaliknya, ulama yang alim dibilang bodoh atau dibodoh-bodohkan. Sedangkan orang yang bodoh, malah di elu-elukan dan disanjung-sanjung. Dunia saat ini sepertinya sudah serba terbalik.

Berbicaralah yang lemah lembut kepada siapapun. Karena lemah lembut itu sebagai dari ekspresi rasa cinta “mahabbah” yang ada dalam diri seseorang. Manusia yang normal itu pasti suka dan senang dengan kelembutan-kelembutan. Wallahu A’lam.


*Khadim Pesantren AL-AULA Kombangan Bangkalan Madura