Kekurangan dan kelebihan merupakan ukuran yang menjadi takaran seseorang. Tidak menutup kemungkinan apa yang kita rasa kurang, justru adalah kelebihan bagi orang lain. Betapa nikmatnya bersyukur atas segala bentuk hal yang telah dianugerahkan oleh Sang Maha Pemberi.

Berbicara tentang kekurangan dan kelebihan tidak akan ada habisnya. Semua berdasarkan pada kadar yang dimiliki oleh masing-masing. Setiap hal yang dirasa kurang, tentu bisa diasah agar bertambah menjadi lebih. Semua punya cara yang berbeda-beda untuk mewujudkan dan memperbaiki.

Salah satu yang dianggap sebuah kekurangan oleh orang adalah cadel. Cadel adalah keadaan lidah kaku ketika melafalkan huruf “R”. Keadaan cadel ini dianggap sebagai kekurangan yang bisa menghambat segala aktivitas yang berhubungan dengan olah kata. Seperti menjadi petugas upacara, berpidato, bahkan moderator. Akibatnya, ia insecure karena menjadi bahan ejekan orang lain.

Sebut saja Khansa, Khansa Fauziyah Amany santri baru MA Salafiyah Syafi’iyah Tebuireng asal Depok. Salah satu santri yang unik, pecinta seni, pandai menasihati diri dan orang lain. Oleh sebab itu, tak ragu orang lain untuk dekat dan berteman dengannya.

Baginya, “tak ada yang tak mungkin di dunia ini, selama kita mau berusaha dan berdoa”. Meskipun mempunyai skill dalam diri, namun seringkali merasa terhalang oleh cadel. Apalagi ketika semakin disinggung oleh keluarga justru akan semakin down.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

“Padahal cadel itu tidak salah, cadel itu bisa, cadel itu unik”, bisiknya dalam hati. Suatu ketika hati Khansa tersentuh oleh sosok kakak kelas, seorang aktivis pramuka, pintar, jago berbicara di depan umum, ia punya semangat untuk bisa sepertinya.

Kemudian ada salah satu ustadzah pembina tahfidz yang begitu semangat untuk melatih Khansa agar tidak cadel lagi. Beliau lah yang pertama kali mengajari huruf “R” pada Khansa. Setelah sering berlatih, secara perlahan akhirnya Khansa bisa melafalkan huruf “R”.

Santriwati yang dulunya cadel ini juga pernah terpilih menjadi Wakil Ketua IPPNU, ketika duduk di bangku Madrasah Tsanawiyah. ‘Hubungan Timbal Balik’ merupakan prinsip yang begitu teguh ia genggam.

“Saya percaya jika kita baik pasti akan mendapat yang baik, begitu pula sebaliknya jika kita jelek pasti akan ada saja balasannya”, ungkapnya.

Saat ini Khansa lebih percaya diri untuk tampil di depan publik. Berbicara dengan tenang tanpa khawatir ejekan orang lain, khususnya ketika menyampaikan pidato di depan umum, mengingat kecintaannya dalam dunia dakwah.

Kemudian Khansa berpesan bahwa tidak ada yang mustahil selagi ingin berusaha, kekurangan bukan berarti titik akan kegagalan. Oleh sebab itu, jangan menyerah terlebih dahulu selagi masih ada celah.

“Intinya, nothing impossible, and experience is the best advice.” Tutup Khansa memberi pesan saat diwawancarai oleh tim tebuireng.online

Pewarta: Rafiqatul Anisah

SebelumnyaShalat atau Makan Dulu?
BerikutnyaPeran Tuhan dalam Tawakal yang Sebenarnya