
Dalam beberapa literatur menyebut bahwa adanya fenomena sosialisasi KUA ke Gen Z melalui media sosial (marketing KUA) memicu tren menikah di KUA yang dianggap praktis, hemat biaya, dan lebih fokus pada esensi komitmen, bukan kemewahan pesta. Gen Z merespons positif karena lebih realistis soal finansial dan tantangan pasca-akad (biaya hidup, kesehatan), melihat pernikahan di KUA sebagai pilihan logis untuk membangun masa depan, meski sebagian merasa tertekan karena budaya gengsi dan ketakutan akan beban pernikahan (marriage is scary).
Di sisi lain, hal itu menuai banyak tanggapan. Salah satunya adalah kondisi Gen Z hari ini yang tidak hanya sedang dikejar usia, melainkan dikejar suasana. Suasana yang pelan-pelan membentuk kepanikan kolektif seperti takut belum menikah, takut tertinggal fase hidup, takut berbeda jalur dari lingkar sosialnya sendiri. Rasa itu dikenal sebagai FOMO (fear of missing out), dan dalam isu pernikahan, ia bekerja jauh lebih halus, namun jauh lebih menekan.
Baca Juga: Menikah Tidak Hanya Butuh Cinta?
Belakangan, pernikahan tampil semakin publik. Media sosial dipenuhi akad sederhana tapi estetik, kisah cinta singkat yang berujung sah, hingga wajah baru layanan KUA yang terasa lebih modern, komunikatif, dan ramah anak muda. Negara hadir dengan bahasa visual yang segar dan pendekatan yang terasa “Gen Z friendly”. Sekilas ini tampak sebagai kemajuan. Namun, di titik inilah kegelisahan mulai muncul.
Bagi sebagian Gen Z dan milenial, variasi layanan tersebut tidak dibaca sebagai fasilitas, melainkan sebagai sinyal sosial. Seolah ada pesan tak tertulis: menikah sekarang adalah pilihan paling masuk akal. Bukan karena kesiapan, melainkan karena suasana mendukung. Padahal, ketika ditelusuri langsung ke pihak KUA, asumsi ini justru runtuh.
Tidak ada target jumlah pernikahan. Tidak ada instruksi mengejar angka. Tidak ada tekanan struktural dari negara. Yang ada hanyalah pembaruan pelayanan, inovasi suasana, dan semangat kerja baru, bahkan dari para penghulu PNS yang baru dilantik, sebagian di antaranya belum menikah. Negara, dalam hal ini, tidak sedang mendorong pernikahan, melainkan memperbaiki cara melayani.
Baca Juga: 7 Dampak Positif dari Pernikahan yang Sering Dilupakan
Artinya, kepanikan itu tidak datang dari institusi, melainkan dari cara kita membaca institusi. FOMO bekerja sangat efektif di ruang ini. Sesuatu yang sejatinya netral dan opsional, diterjemahkan sebagai tuntutan. Yang diniatkan sebagai kemudahan, dibaca sebagai dorongan. Maka Gen Z pun terjebak dalam ilusi bahwa menikah adalah agenda bersama yang harus segera diikuti.
Masalahnya, FOMO tidak pernah menanyakan kesiapan. Ia hanya sibuk menghitung siapa yang sudah lebih dulu. Dalam logika ini, pernikahan bergeser dari keputusan hidup menjadi reaksi terhadap tekanan simbolik: linimasa media sosial, obrolan tongkrongan, hingga visual layanan publik. Pertanyaan pun berubah. Bukan lagi “apakah aku siap?”, melainkan “kenapa aku belum?”.
Kita perlu jujur mengakui bahwa Gen Z hidup di era pembandingan ekstrem. Setiap fase hidup bisa diukur, dipamerkan, dan divalidasi publik. Dalam kondisi seperti ini, kehadiran negara dengan wajah ramah mudah disalahpahami sebagai legitimasi tren. Padahal negara tidak pernah menetapkan standar usia, waktu, atau fase kapan seseorang harus menikah.
KUA, dalam konteks ini, tidak sepenuhnya keliru. Inovasi pelayanan adalah keniscayaan. Negara memang harus adaptif dan relevan dengan generasi baru. Namun di sisi lain, Gen Z juga perlu belajar membedakan antara variasi suasana dan tekanan nyata. Tidak semua yang terlihat masif adalah kewajiban. Tidak semua yang sering muncul adalah keharusan.
Baca Juga: Tantangan Besar yang Harus Dihadapi Generasi Z
Yang patut dikritik justru bagaimana FOMO dibiarkan mengendalikan keputusan sebesar pernikahan. Menikah karena takut tertinggal, takut dicap gagal, atau takut berbeda jalur, justru membuka pintu persoalan baru di kemudian hari. Pernikahan menuntut kesiapan mental, emosional, dan tanggung jawab jangka Panjang, hal-hal yang tidak bisa dipenuhi oleh sekadar keberanian mengikuti tren.
Yang sedang kita hadapi hari ini bukanlah “kejaran nikah”, melainkan krisis membaca realitas. Variasi layanan KUA bukan tekanan, tetapi FOMO mengubahnya menjadi demikian. Maka pertanyaan paling penting bagi Gen Z bukanlah “kapan menikah?”, melainkan: apakah keputusan ini lahir dari kesadaran, atau sekadar ketakutan ketinggalan? Sebab tren akan selalu berganti, dan suasana akan terus berubah. Tetapi pernikahan, sekali dijalani, tidak menyediakan tombol skip.
Penulis: Albii
Editor: Rara Zarary


















