Menikah Tidak Hanya Butuh Cinta?

89
Ilustrasi pernikahan. (sumber: Ist)

Menikah bukan hanya tentang gaun indah, foto pre-wedding, atau pesta yang meriah. Tapi tentang dua jiwa yang akan menempuh jalan hidup bersama, baik dalam susah, senang, luka, bahkan lelah. Maka memilih pasangan bukan keputusan kecil, apalagi di zaman sekarang ini, ketika godaan dan keretakan rumah tangga seolah makin dekat, salah satunya lewat maraknya isu perselingkuhan.

Tak sedikit kisah rumah tangga yang awalnya tampak harmonis, romantis dan bucin, tapi kemudian runtuh karena hadirnya pihak ketiga yang hadir. Bahkan, pelaku selingkuh bukan hanya dari kalangan awam yang tak paham agama, tapi juga bahkan ada yang berpenampilan religius. Lalu kita pun bertanya-tanya, jadi apakah cinta saja cukup untuk memilih pasangan? Ataukah kita butuh lebih dari sekadar rasa?

  • Cinta Bisa Membutakan, Tapi Agama Menuntun

Sering kali, kita terpesona pada seseorang karena tampilannya: tampan, mapan, humoris, atau piawai merangkai kata. Namun sebenarnya dari semua itu, meski sudah terlihat baik, tidak bisa menjadi satu-satunya dasar memilih pasangan. Sebab Rasulullah ﷺ telah memberi panduan dalam sabdanya: “Perempuan dinikahi karena empat hal: karena hartanya, keturunannya, kecantikannya, dan agamanya. Maka pilihlah yang beragama, niscaya kamu akan beruntung.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Baca Juga: 4 Hal yang Perlu Kamu Persiapkan Sebelum Menikah

Hadis ini tidak hanya berlaku untuk laki-laki dalam memilih istri, tapi juga sebaliknya. Muslimah pun harus menimbang calon suami bukan hanya karena dunia, tapi karena agamanya. Sebab akhlak dan iman adalah dua hal yang akan menjaga pernikahan ketika cinta mulai diuji. Bukan hanya sekedar uang atau jabatan tinggi, tapi iman dan ilmu yang mendamaikan hati. Dan cinta pun bisa datang dan pergi. Tapi rasa takut pada Allah adalah pagar yang membuat seseorang tetap setia, bahkan ketika tidak ada yang melihat.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online
  • Realita: Perselingkuhan Bukan Lagi Hal Langka

Isu perselingkuhan kini seperti virus yang mudah menyebar dari satu orang ke orang lain. Ada yang diselingkuhi setelah bertahun-tahun menikah. Ada yang pasangannya berselingkuh secara diam-diam lewat media sosial. Dan yang paling menyedihkan, ada pula yang tahu pasangannya selingkuh tapi tidak mampu berbuat apa-apa karena terlalu terluka atau terlalu bergantung.

Dalam sebuah penelitian mengungkap, faktor utama perselingkuhan bukan selalu karena kurangnya cinta, tapi karena lemahnya kontrol diri, lingkungan yang permisif, dan hubungan spiritual yang renggang. Artinya, bukan hanya romantisme yang membuat seseorang setia, tapi juga kedewasaan jiwa dan komitmen kepada Allah.

Maka, sebelum memutuskan menikah, kita perlu jujur pada diri sendiri: “Apakah ia laki-laki yang bisa menuntunku kepada Allah, atau hanya laki-laki yang membuatku nyaman sementara?”. Maka dari itu ilmu adalah hal utama yang perlu di pertimbangkan untuk memilih pasangan dimasa depan yang akan datang.

  • Jangan Tertipu Citra

Di era digital ini, memang sudah banyak orang lihai membangun citra. Entah feed Instagram bisa terlihat rapi, atau sekedar kata kata bijak yang copas sana sini. Tapi apakah itu cerminan dari hatinya? Tidak selalu. Perlu di ingat kita itu tidak sedang memilih partner untuk membuat konten, tapi teman seumur hidup sepanjang usia hingga ke surga bukan neraka.  

Baca Juga: Jangan Menikahi Enam Perempuan Berikut

Maka kenali ia di balik layar: bagaimana ia memperlakukan ibunya? Bagaimana caranya menyikapi masalah? Bagaimana hubungan dia dengan Allah? Jangan terburu-buru. Menikah tidak pernah terlambat jika itu membuatmu lebih selamat. Dan jika kau merasa lelah karena belum juga bertemu jodoh yang tepat, ingatlah bahwa menunggu dengan sabar lebih baik daripada menangis karena salah pilih.

  • Doa dan Istikharah: Kunci Menjernihkan Niat

Memang di dunia ini tidak ada yang namanya manusia sempurna. Tapi ada manusia yang berjuang menjaga dirinya dari dosa. Dan ia biasanya muncul dalam hidup kita saat kita pun berjuang menjaga diri untuk dia.

Maka mendekatkan diri pada Allah adalah salah satu point penting untuk mencari pasangan agar kita tidak salah pasangan. Jangan hanya sibuk mencari pasangan yang cocok, tapi sibukkan diri menjadi pribadi yang layak. Sebab jodoh yang baik akan datang pada yang memantaskan diri. Jangan lupa shalat istikharah. Bukan untuk memaksa Allah memberi apa yang kita mau, tapi agar hati diberi kejelasan tentang siapa yang benar-benar baik untuk kita. Sebab allah tidak hanya memberi seseorang dengan mudahnya jika dia tidak mau berusaha dan berdoa.

Rasulullah ﷺ bersabda: “Di antara tanda kebahagiaan anak Adam adalah shalat istikharah kepada Allah dan ridha terhadap apa yang telah Allah tetapkan baginya.” (HR. Ahmad). Menikah memang ibadah yang memiliki pahala yang sangat besar. Tapi tidak semua orang siap menikah hanya karena usia,terkadang ada yang karena  desakan keluarga, atau rasa ingin segera ‘halal’. Padahal yang lebih penting dari semua itu adalah tepatnya memilih pasangan. Lebih baik menunggu dengan iman daripada memulai dengan salah orang.

Baca Juga: Pahami Ini Sebelum Anda Memutuskan Untuk Menikah

Dan jika kamu yang membaca ini sudah menikah, tetaplah menjaga rumah tangga dengan doa dan komunikasi. Tidak ada hubungan yang selalu mulus layaknya di konten dan di tv. Tapi ketika keduanya sama-sama ingin bertahan karena Allah, badai pun bisa diredakan dengan mudah.

teruntuk setiap muslimah yang sedang menanti pasangan, semoga Allah pertemukanmu dengan laki-laki yang takut kehilangan-Nya, sehingga ia tidak akan pernah menyakitimu. Dan untuk yang sedang berjuang menjaga pernikahan, semoga Allah kokohkan hatimu dalam setia, dan jauhkan dari luka yang tak perlu. Karena menikah bukan sekadar cinta. Tapi tentang ke mana cinta itu akan dibawa: menuju surga, atau terjebak dalam dunia yang fana dan selamanya dalam neraka. Semua tergantung bagaimana kita dan bagaimana kita berdoa dan berusaha untuk mendapatkan nya, dan perlu di ingat barang siapa yang terjaga, maka allah akan memberikan yang terjaga pula kepada kita. Wallahu’alam …



Penulis: Wan Nurlaila Putri
Editor: Rara Zarary