Rak Kayu yang Tidak Pernah Kosong

67
sebuah ilustrasi kegigihan anak dalam membantu orang tua (sumber: ai/ra)

“Arifin… kalau capek, pulang saja. Ibu masih bisa menunggu.”

Suara itu lirih, hampir tenggelam oleh derit kipas angin tua yang berputar malas di sudut kamar. Arifin menahan napas. Tangannya yang sedang melipat kain basah berhenti seketika. Ia menoleh ke arah ibunya yang terbaring dengan kaki kiri dibalut perban, wajahnya pucat, matanya cekung oleh sakit yang tak kunjung pergi sejak kecelakaan motor beberapa bulan lalu.

“Jangan begitu, Bu,” jawab Arifin pelan. “Toko masih buka. Nanti Safira sendirian.”

Ibunya tersenyum kecil, senyum yang lebih mirip permintaan maaf. “Ibu cuma takut kamu terlalu berat menjalaninya.”

Arifin menunduk. Ia tidak ingin ibunya melihat betapa lelahnya ia hari itu, betapa pundaknya terasa retak oleh beban yang tak pernah meminta izin untuk bertambah.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Sejak ayah mereka meninggal lima tahun lalu karena penyakit yang datang tiba-tiba, Arifin belajar bahwa hidup tidak pernah benar-benar memberi jeda. Ia masih kelas dua SMP saat itu. Kini, ia anak pertama, penjaga rumah, tulang punggung yang tumbuh terlalu cepat.

Toko kelontong itu kecil, berdinding papan, raknya dari kayu yang sudah kusam. Tapi di sanalah hidup mereka bertahan. Pagi-pagi sekali Arifin membuka gembok, menyapu lantai, menyusun kembali mi instan, gula, minyak, dan telur satu per satu. Safira, adik perempuannya yang baru berusia sepuluh tahun, sering membantunya sebelum berangkat sekolah. Rambut Safira selalu dikepang rapi, meski bajunya sederhana dan sepatunya sudah menipis di bagian tumit.

“Mas, kalau nanti ada yang nanya beras, bilang stoknya tinggal sedikit ya,” kata Safira suatu pagi.

Arifin tersenyum. “Kamu ini, sudah seperti pedagang tua saja.”

Safira tertawa kecil, lalu berhenti. “Mas… nanti pulangnya jangan malam-malam.”

Kalimat itu sederhana, tapi Arifin tahu artinya, jangan tambah lelah, jangan tambah luka. Jangan tinggalkan kami.

***

Siang hari, saat matahari memukul atap seng tanpa ampun, Arifin berdiri di balik meja toko, mencatat utang-utang kecil tetangga yang ia tahu mungkin baru bisa dibayar bulan depan. Ia jarang menolak. Ia mengerti rasa tak punya. Ia hidup di dalamnya.

Sore menjelang, Safira pulang sekolah dan langsung bersiap pulang ke rumah untuk menjaga ibu. Arifin menutup toko lebih cepat dari yang ia inginkan. Bukan karena malas, melainkan karena ada pekerjaan lain menunggu.

Rumah makan di ujung jalan itu selalu ramai. Arifin masuk lewat pintu belakang, menggulung lengan baju. Bau sabun cuci piring bercampur sisa sambal dan minyak panas. Tangannya bekerja cepat, punggungnya membungkuk, pikirannya berlari ke mana-mana.

Kadang ia bertanya pada dirinya sendiri, kapan terakhir kali ia duduk tanpa memikirkan uang? Kapan terakhir kali ia memikirkan mimpinya sendiri?

Ia ingin sekolah lagi. Ia ingin, suatu hari, punya toko yang lebih besar. Tapi setiap kali pikiran itu datang, ia menahannya. Ada ibu yang harus minum obat. Ada Safira yang harus tetap sekolah.

Malam hari, saat Arifin pulang dengan tubuh lengket oleh keringat dan bau dapur, Safira biasanya menyambutnya di depan rumah.

“Mas, Ibu tadi sempat kesakitan,” kata Safira, suaranya kecil.

Jantung Arifin berdegup keras. “Sekarang bagaimana?”

“Sudah agak mendingan. Tapi Ibu nanya Mas terus.”

Arifin masuk kamar, duduk di sisi ranjang ibunya. Ia menggenggam tangan yang kurus itu, merasakan dinginnya telapak yang dulu hangat memeluknya setiap pagi.

“Maaf ya, Bu, pulangnya telat.”

Ibunya menggeleng lemah. “Kamu tidak perlu minta maaf karena berjuang.”

Kalimat itu menusuk lebih dalam dari omelan apa pun. Arifin menoleh ke arah dinding, menahan air mata. Ia tidak ingin menangis di hadapan ibunya. Ia ingin terlihat kuat, meski kekuatan itu sering kali hanya topeng.

***

Pergolakan itu datang di malam-malam sunyi. Saat Safira tertidur dan ibu terlelap oleh obat, Arifin duduk di teras, memandangi jalan yang sepi. Ia merasa bersalah pada Safira, karena adiknya harus tumbuh terlalu cepat, belajar mengerti keadaan, belajar menahan keinginan. Ia merasa bersalah pada ibunya, karena tak bisa memberinya kehidupan yang lebih layak. Dan yang paling berat, ia merasa bersalah pada dirinya sendiri, karena sering kali ia ingin menyerah.

Suatu hari, guru Safira datang ke toko.

“Arifin,” katanya ramah, “Safira pintar. Sayang kalau sampai putus sekolah.”

Arifin mengangguk. “Saya tahu, Bu. Saya akan usahakan.”

Malam itu, Arifin menghitung uang receh di meja. Jumlahnya pas-pasan. Ia menghela napas panjang. Lalu ia menulis satu kalimat di buku kecilnya: Safira harus sekolah, apa pun yang terjadi.

Sejak itu, Arifin menambah jam kerja. Ia bangun lebih pagi, tidur lebih malam. Tubuhnya sering gemetar kelelahan, kepalanya pening. Pernah suatu malam, saat mencuci piring, penglihatannya menghitam sesaat. Ia bersandar, menarik napas panjang, lalu kembali bekerja.

“Aku tidak boleh jatuh,” bisiknya. “Kalau aku jatuh, kami semua jatuh.”

Hari-hari berlalu dengan ritme yang sama, tapi luka batin itu tak pernah benar-benar sembuh. Suatu sore, Safira memeluk Arifin tiba-tiba.

“Mas,” katanya, suaranya bergetar, “kalau nanti Safira sudah besar, Safira yang kerja. Mas sekolah lagi, ya.”

Arifin terdiam. Ia memeluk adiknya erat-erat, menahan tangis yang akhirnya lolos juga. “Iya,” katanya. “Kita gantian capek.”

Ibunya menyaksikan dari ranjang, matanya basah. “Kalian ini… terlalu baik untuk dunia yang keras.”

Arifin tersenyum pahit. Dunia memang keras. Tapi ia belajar satu hal: kasih sayang membuatnya bisa ditahan, meski tak bisa dilembutkan.

Pada suatu pagi, rak kayu toko itu hampir kosong. Arifin menatapnya lama. Bukan dengan putus asa, melainkan dengan tekad. Rak bisa kosong hari ini, tapi harapan tidak.

Ia membuka toko seperti biasa. Menyapa pelanggan. Mencatat utang. Menghitung receh. Di balik semua itu, ada doa-doa kecil yang tak pernah ia ucapkan keras-keras.

Doa agar ibunya kuat. Doa agar Safira tetap sekolah. Dan doa agar, suatu hari nanti, ia bisa bernapas tanpa rasa bersalah.

Arifin tahu hidup mereka sederhana bahkan terlalu sederhana. Penuh peluh dan air mata. Tapi di antara semua keterbatasan itu, ada satu hal yang tidak pernah ia biarkan runtuh, tanggung jawab dan cinta. Mungkin, di dunia yang sering kali tidak adil, itulah satu-satunya kekayaan yang benar-benar mereka miliki.



Penulis: Ummu Masrurah
Editor: Rara Zarary