
Aku berjalan di kota / yang lampunya pandai tertawa / sementara namaku / tak pernah dipanggil siapa-siapa.
Kota yang Tak Pernah Menyebut Namaku
Aku berjalan di kota
yang lampunya pandai tertawa,
sementara namaku
tak pernah dipanggil siapa-siapa.
Trotoar menghafal langkahku,
namun tak satu pun
menyimpan alasanku pulang.
Aku berdiri lama
di persimpangan yang biasa,
menunggu kembalinya diriku sendiri
yang entah ke mana perginya.
Aku Kehilangan Arah di Dalam Diri
Aku tersesat
tanpa perlu pergi jauh,
cukup diam terlalu lama
di kepalaku sendiri.
Pikiran tumbuh
seperti belukar,
menyembunyikan jalan
yang dulu kukenal.
Jika ini disebut dewasa,
mengapa rasanya
seperti kehilangan
peta untuk pulang?
Berdamai Tidak Pernah Instan
Aku belajar berdamai
pelan-pelan,
seperti hujan
yang berhentinya tak sekaligus reda.
Kusebut namaku
perlahan dalam hati,
agar kuingat
siapa yang harus kusematkan maaf.
Nyatanya berdamai
bukan sekadar lupa,
melainkan menerima
bahwa tak semua luka
ingin disembuhkan tergesa.
Penulis: Wan Nurlaila Putri
Editor: Rara Zarary


















