
Tak Pernah Menjadi Buku
Aku pernah mengumpulkan senja
di sela-sela halaman buku tulis
yang kubeli dari sisa uang belanja.
Katanya,
kata-kata dapat menghidupi seseorang.
Maka kutanam huruf demi huruf
seperti petani menanam padi
di musim yang belum tentu berpihak.
Aku percaya,
namaku akan suatu hari
terselip di rak-rak perpustakaan,
diusap jemari asing
yang mencintaiku tanpa pernah mengenal wajahku.
Namun hidup
ternyata lebih pandai menyusun cerita.
Ia menyuruhku menanak nasi
saat aku ingin menanak puisi.
Ia memintaku menghafal harga cabai,
bukan menghafal metafora.
Ia menitipkan tangis bayi
di pangkuanku,
sementara novelku
tetap menjadi draf
yang tak pernah selesai.
Kini,
setiap malam
aku masih menulis.
Bukan untuk penerbit.
Bukan untuk penghargaan.
Aku menulis
di dahi anak-anakku
dengan doa-doa yang tak terlihat.
Belum Selesai Dirapal
Ya Allah,
aku datang
bukan membawa kesempurnaan.
Aku hanya membawa
lutut yang mulai lelah,
mata yang sering sembab,
dan hati
yang berkali-kali belajar
menerima kata nanti.
Ada begitu banyak
keinginan
yang kusimpan
seperti benih
di bawah tanah.
Tak semuanya tumbuh.
Tak semuanya berbunga.
Jika hari ini
Engkau belum mengabulkan doaku,
izinkan aku
tetap percaya
bahwa penundaan-Mu
adalah cara-Mu
menyelamatkanku
dari bahagia
yang datang terlalu cepat.
Tempat Menunggu Keluarga
Rumah ini
tidak dibangun
dari semen
dan batu bata saja.
Ia disusun
dari piring yang dicuci
sebelum matahari bangun.
Dari suara ayah
yang pulang
membawa letih
dan tetap tersenyum.
Dari anak-anak
yang berebut bercerita
tentang hari mereka.
Dari doa ibu
yang diam-diam
lebih panjang
daripada daftar belanja.
Penulis: Ummu Masruroh


















