Dunia (Belum) Benar-benar Gelap

4
Sebuah ilustrasi puisi

Koper Perjalanan

Jalanan mengajariku
bahwa setiap kota memiliki bahasa sepi yang berbeda.

Ada terminal yang mengajarkan sabar,
ada stasiun yang mengajarkan menunggu,
dan ada orang-orang asing
yang diam-diam membuatku percaya
bahwa kebaikan tidak mengenal alamat.

Aku pernah kehilangan arah,
tetapi tidak kehilangan tujuan.

Aku pernah lelah,
tetapi langit selalu menemukan cara
mengirimkan matahari
tepat ketika langkah mulai goyah.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Menjadi perantau
bukan sekadar berpindah tempat,
melainkan belajar
bahwa rumah sejati
adalah hati yang tetap pulang
meski tubuh berjalan sangat jauh.

Ketika suatu hari
aku kembali,
aku ingin membawa cerita,
bukan hanya tentang keberhasilan,
tetapi tentang bagaimana perjalanan
mengubah seseorang
menjadi manusia yang lebih lapang.


Menanam Harapan

Di ladang-ladang,
petani masih menanam benih
meski musim sering lupa menepati janji.

Di lautan,
nelayan masih mengayuh perahu
meski ombak lebih sering membawa cemas
daripada hasil tangkapan.

Di pasar-pasar,
pedagang masih membuka lapak
dengan senyum sederhana,
seolah percaya
rezeki selalu menemukan jalannya.

Kami bukan meminta kemewahan.

Kami hanya ingin
anak-anak berangkat sekolah
tanpa takut masa depannya mahal.

Kami hanya ingin
rumah-rumah kecil tetap menyala
tanpa dihantui tagihan yang semakin tinggi.

Kami hanya ingin
keadilan tidak berhenti menjadi pidato,
tetapi tumbuh
di setiap keputusan.

Sebab negeri ini
dibangun oleh tangan-tangan biasa,
oleh peluh yang jarang masuk berita,
oleh doa-doa yang tidak pernah terdengar mikrofon.

Selama masih ada rakyat
yang memilih bekerja daripada menyerah,
harapan akan selalu tumbuh,
seperti padi
yang tetap menguning
meski berkali-kali diterpa angin.


Tetap Menjadi Manusia

Setiap hari
berita tentang pertengkaran,
keserakahan,
dan ketidakadilan
datang lebih cepat
daripada kabar tentang kasih sayang.

Namun aku percaya,
dunia belum benar-benar gelap.

Masih ada seseorang
yang membagi makanannya
kepada orang asing.

Masih ada tangan
yang mengusap air mata
tanpa meminta imbalan.

Masih ada orang-orang
yang memilih jujur
meski jalan itu lebih sunyi.

Barangkali,
di zaman yang begitu keras ini,
keberanian terbesar
bukan menjadi yang paling kaya,
atau paling terkenal.

Melainkan tetap menjadi manusia
yang tidak kehilangan hati.

Sebab dunia boleh berubah,
waktu boleh berganti,
tetapi cinta, kepedulian,
dan kejujuran
akan selalu menjadi rumah
bagi mereka yang tidak ingin tersesat.



Penulis: Ummu Masrurah