
Candra
Malam itu candra benar-benar menemaniku pulang.
Jalan malam yang sunyi, membuatku bergumam sendiri.
Candra yang terus melihatku membuatku tersenyum tipis
Tanpa banyak bicara, candra terus mengikuti langkahku
Sinar selayaknya senyum manis terpancar darinya,
Ia berkata jujur dari awal
Katanya tidak ada satupun yang akan mengikutinya
Benar, malam itu ia benar-benar sendiri
Sampai diujung rumah, aku melambai kepada candra
Candra mengedipkan cahaya
Aku masuk, dan semenjak itu setiap aku masuk aku tidak lagi melihat candra
Teman di Atas Langit
Aku tak pernah mengundangnya,
Namun ia selalu datang.
Menggantung tenang di antara gelap,
Menunggu langkah kakiku menyusuri jalan pulang.
Tak ada percakapan panjang di antara kami.
Aku berjalan di bumi, Ia berlayar di langit.
Tetapi entah mengapa,
Setiap kali menatapnya, rasa sepi menjadi lebih ringan
Barangkali Candra memang bukan untuk dimiliki,
Melainkan untuk menemani dari jauh.
Menjadi teman bagi mereka yang pulang dalam diam,
Dan saksi bagi cerita-cerita yang tak sempat diucapkan.
Maka jika suatu malam kau melihatku tersenyum ke arah langit,
Jangan heran.
Mungkin aku sedang menyapa seorang teman lama,
Yang tak pernah terlambat menungguku pulang.
4 Musim Itu
Ketika malam kembali tiba,
aku sering teringat Candra, Surya, hujan, dan angin.
Mereka datang dengan cara yang berbeda.
Ada yang menemani dalam gelap.
Ada yang menghangatkan pagi.
Ada yang membersihkan luka.
Ada yang mengajarkan melepaskan.
Dan anehnya, mereka semua pergi tanpa pernah meminta untuk dikenang.
Namun sampai hari ini, aku masih mengingat mereka.
Karena terkadang, yang paling membekas dalam hidup bukanlah mereka yang tinggal selamanya, melainkan mereka yang datang sebentar lalu meninggalkan makna.


















