concept of self-judgment (sumber ilustrasi: vectorstock)

“Ketika kita melihat seorang bayi atau anak kecil, hati kita mungkin merasakan sensasi riang dan ringan. Jernih mata seorang bayi yang memandang dengan polos dan penuh keingintahuan seolah membawa kita pada masa lampau yang sudah lama terlupakan.” (hlm. 7).

Secara terus terang, Hendrik Tanuwidjaja menulis pengalaman masa kecilnya dalam buku ini yang mendapatkan nilai luar biasa dahsyat dari berbagai kalangan. Buku yang ditulis istimewa untuk manusia yang merasa sedang dalam proses penyembuhan. Sebuah proses untuk mengembalikan diri yang utuh dan terapi yang akan membuat pembaca mau kembali memahami apa yang sebenarnya terjadi dalam hidupnya.

Hidup yang seharusnya tak melulu disalahkan dan dianggap sudah salah, hidup yang harusnya diberi reward namun kita terlalu fokus pada ketakutan, ancaman, dan prasangka yang (mungkin) itu adalah penyebab “cara” hidup kita (akhirnya) dinilai salah. Prof. Jon Kabat-Zinn mengungkapkan, “Nyatanya lebih banyak kebaikan dari hidupmu ketimbang apa yang salah. Nggak peduli apapun kelirunya.” Tapi sebagian banyak kita masih terkungkung dalam fase menganggap keliru dan tak beruntung.

Atas cerita atau terapi kata yang ditulis dalam buku ini, saya jadi ingat dan menilai bahwa apa yang ditulis oleh Hendrick (2021) begitu related dengan lirik lagu Inditaf yang berjudul “Takut”, dengan penggalan liriknya:

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Takut tambah dewasa
Takut aku kecewa
Takut tak seindah yang kukira
Takut tambah dewasa
Takut aku kecewa
Takut tak sekuat yang kukira

Tanpa sadar, anak kecil yang bermata bening, yang tertawa lepas, dan berpikiran polos itu telah tumbuh dengan banyak sekali perubahan, entah itu dari keluarga, media, lingkungan, atau bahkan apa yang sudah mereka lalui dalam sepanjang hidupnya menuju tumbuh dewasa. hal-hal yang terjadi itulah yang (secara) tidak sadar telah menjadikan dirinya tidak seutuh saat bayi, tidak merasa nyaman saat masih kanak, pun seakan-akan tumbuh dewasa adalah ancaman serius yang membuatnya menghadapi, melalui fase quarter life crisis, padahal kemungkinan-kemungkinan itu belum tentu terjadi pada dirinya. namun ketakutan yang demikian itu menyebabkan dirinya terseret arus yang (mungkin) tidak ada dalam hidupnya.

Kita seringkali berada dalam kondisi problem-solving ketika menjalani kehidupan. Seperti selalu ada rasa yang keliru dan dorongan ingin membetulkan yang seringkali menjadi sumber kenestapaan dan kehampaan dalam hati manusia. kita merasa selalu ada yang keliru dalam hidup kita karena fenomena di luar diri kita, misal perbedaan pencapaian antara kita dan saudara, sahabat, partner atau orang lain yang membuat kita terus menerus mengahabiskan waktu berpikir negatif dan kehilangan energi positif. Hingga akhirnya lahir batin kita lelah dan berdampak kecewa, marah-marah, malas, putus asa, dan hal tertinggi adalah menyalahkan kehidupan ini.

“Di dunia yang serba cepat ini, rutinitas sehari-hari serasa tiada henti. Mungkin tidak terasa kita tertelan kesibukan, lupa untuk memberi ruang lebih untuk kita bersantai dan merawat yang kita cintai.” (hlm. 61)

Kesibukan dari waktu ke waktu membuat kita seperti terus dikejar apa yang kita rasa semakin menjauh, barangkali sama seperti bayangan. Semakin kita kejar bayangan kita, semakin tidak mungkin untuk kita genggam, (di sini) ada hakikat yang kita lupakan dalam proses mengejar dan memperjuangkan itu. “Sesuatu” itulah yang jarang sekali kita tahu dan kita sadari. Apakah itu? ada banyak kemungkinan; kita lupa memberi hak pada tubuh kita, kita acuh pada rasa sayang, kita menganggap istirahat dan bersantai tak penting, kita lupa bagaimana membahagiakan orang-orang yang kita cintai, kita lupa menyediakan ruang lega untuk diri sendiri.

Kita hanya fokus pada mimpi yang menjelma ambisi dan pelan-pelan membakar diri kita. Barangkali itu, atau ada hal-hal lain yang bagimu belum terjawab atau ditawarkan dalam tulisan ini, silakan kau jawab sendiri untuk dirimu sendiri, diri yang sejatinya lebih tahu apa yang keliru, apa yang menganggu, dan apa yang terjadi dalam hidup ini.

“Jelas sekali di depan mataku, aku hanya menjadi penonton. Yang bergerak bukan aku, tetapi segalanya bergerak sendiri. Pelakunya tidak lagi diperlukan.” (hlm. 135). lalu siapakah aku? manusia yang masih menyadari kehidupan dan makna dari hakikat hidup? atau kita hanyalah jasad yang terkendali oleh ambisi, keinginan, impian, atau ketakutan dan kekuasaan yang membuat kita lupa dan meninggalkan diri sendiri? siapakah sebenarnya diri ini? mungkin inilah salah satu pertanyaan-pertanyaan yang bisa menjawab apakah sejauh ini hidup kita sudah benar atau masih kita nilai keliru.

Demikian ulasan dan analisa tentang buku ini, tentu apa-apa yang ada dalam buku ini tidak meminta kita menilai benar secara mutlak pun sebaliknya. Sebagai pembaca, saya pun tidak memaksa (calon pembaca) yang lain untuk mengamini atau menolak, namun terlepas dari segala hak untuk penilaian itu, saya merekomendasikan buku ini untuk menjadi referensi bacaan kita. Paling tidak ada list buku yang cukup renyah untuk menemani waktu santai kita, atau menyadarkan kita bahwa selama ini kita tidak memiliki waktu yang santai.

Selamat membaca seraya santai menyeruput teh anget di pagi atau sore hari nanti.


Judul Buku      : Mindful is Mind-Less; seni beristirahat dalam badai
Penulis         : Hendrick Tanuwidjaja
Penerbit        : PT Elex Media Komputindo
Tehun Terbit   : 2021
Tebal Buku      : vi + 198 hlm
Pengulas        : Rara Zarary

SebelumnyaSimak 7 Jenis Masjid di Indonesia
BerikutnyaLebih Dekat Mengenal Tasawuf Abu Yazid Al-Bustami