Oleh: Naila Nur Indah*

Di kota Bustham, Qumis adalah sebuah kota di daerah Tenggara Laut Kaspia Negara Iran yang bertepatan pada 188 Hijriah lahirlah seorang bayi laki – laki yang bernama Thayfur yang lebih dikenal dengan nama Abu Yazid Al-Busthami. Abu Yazid Al-Busthami adalah seorang ahli dalam bidang tasawuf, yakni ilmu untuk membesihkan hati dan mengajarkan sikap rendah hati. Tidak hanya ada pada diri Abu Yazid Al-Busthami akan sifat rendah hati, tetapi pada ayah Abu Yazid Al- Busthami yakni Isa merupakan orang yang terpandang di Bustham dan seorang muslim yang taat beribadah, shaleh, wara’, sangat zuhud (berperilaku seperti yang dilakukan para pendahulu yang senantiasa berbuat baik, meningkatkan hubungan dengan Allah untuk mencapai derajat yang mulia dan tinggi ) dan serta mementingkan kehalalan rizki yang dicari dan diterima.

Ketika Thayfur atau Abu Yazid Al-Bustami ini beranjak dewasa, dia menikah dan dikarunia seorang anak yang diberi nama Yazid dan hal inilah yang menjadikan Thayfur lebih dikenal dengan sebutan Abu Yazid Al-Busthami yang bermakna Ayah Yazid dan Al-Busthami adalah adalah nisbah dari daerah kelahirannya. Kehidupan Abu Yazid Al-Busthami merupakan kehidupan yang sangat luar biasa.

Di saat Abu Yazid berada dalam kandungan ibunya, ibunya senantiasa berhati – hati dalam menyuap makanan kepada Abu Yazid dikarenakan adanya keraguan halal dan harom pada makanan tersebut, ketika Abu Yazid memberontak di dalam perut ibunya, ia tidak akan berhenti memberontak kecuali sang ibu memuntahkan makanan yang berada didalam mulutnya.

Saat remaja Abu Yazid Al-Busthami meninggalkan kota Bustam. Ia merantau dari satu negeri ke negeri yang lain selama 30 tahun. Abu Yazid Al-busthami merupakan sosok yang menekuni disiplin diri dengan dengan terus berpuasa di siang hari dan beribadah di sepanjang malam. Abu Yazid Al-Busthami belajar di bawah bimbingan 113 guru kerohanian dan memperoleh manfaat dari setiap pelajaran yang guru – guru tersebut berikan kepadanya.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Akhirnya Abu Yazid Al-Busthami tumbuh menjadi orang yang alim dan banyak disegani oleh orang-orang. Silsilah keilmuan Abu Yazid Al-Busthami tersambung kepada gurunya yakni Al-Imam Ja’far Shodiq dari Sayyidina Qosim bin Muhammad bin Abu Bakar Ash-Shiddiq dari sahabat Salman Al-Farisi dalam Thariqoh Naqsabandiah.

Suatu hari, Abu Yazid didatangi oleh seorang muridnya dan murid tersebut tengah mengadu kepada Abu Yazid Al-Busthami, “Wahai guruku, sungguh aku sudah lama beribadah selama 30 tahun lamanya, ibadahku tak lain adalah sholat di setiap malamnya dan berpuasa tiap hari, telah ku tanggalkan syahwatku, anehnya tidak kutemukan pengalaman rohani yang engkau ceritakan kepadaku”.  

Kemudian Abu Yazid pun menjawab kegelisahan yang tengah dihadapkan muridnya tersebut, “Walau seberapa dan sebanyak seperti apapun ibadahmu selama 300 tahun pun, engkau tidak akan mencapai satu biji pun dalam keilmuan ini”. Murid tersebut menjawab, “Mengapa bisa seperti itu? Wahai guruku?”.

“Karena engkau telah tertutup oleh dirimu sendiri,” jawab Abu Yazid Al-Busthami. “Lalu apakah yang harus aku lakukan agar hijab (penutup ) ini tersingkap?” timbal sang murid kepada Abu Yazid berharap akan ada jawaban dari sang guru tersebut. “Perihal tersebut, ada obatnya, akan tetapi kau tidak akan mampu melaksanakanya”.

Berkata murid tersebut, “Tentu saja akan kulakukan”. Abu Yazid Al-Busthami terdiam sejenak, “Baiklah kalau begitu, pergilah engkau ke tukang cukur, lalu cukurlah rambut dan jenggotmu, tanggalkan pakaianmu, pakailah baju yang lusuh dan compang – camping, gantungkan pada lehermu kantung berisi kacang, lalu pergilah kau ke pasar, kumpulkan sebanyak mungkin anak kecil di sana kemudian katakanlah kepadamu dengan selantang mungkin hai anak – anak barang siapa yang hendak melempariku satu kali maka akan kuberikan satu kantong kacang teruntuk kalian yang telah melempariku. Kemudian pergilah kamu ke tempat dimana jamaahmu mengagumimu,” jelas Abu Yazid.

Seperti ditampar petir murid tersebut, “Subhanallah, kau mengatakan ini kepadaku, bagaimana mungkin ini baik kepadaku untuk kukerjakan?”.

Berkata Abu Yazid, “Ucapan tasbihmu adalah bentuk ucapan syirik karena nampaknya engkau sedang memuji Allah padahal sebenarnya engkau sedang memuji dirimu sendiri”. ” Lalu adakah cara lain yang bisa aku lakukan selain hal tersebut?” sang murid tetap kekeuh dengan pendiriannya. “Sudah kuperingatkan sedari awal tadi bahwasanya kau tidak akan mampu mengerjakanya, karena pada dirimu sudahlah tertutupi dengan sifat sombong,” kata Abu Yazid.

Berdasarkan cerita di atas dapat kita lihat bersama – sama bahwasanya sifat sombong adalah sifat yang sangat tercela bahkan dapat merusak amaliah ibadah kita yang lainya, oleh karena itu jahuilah sifat sombong agar perbuatan baik kita tidak akan sia – sia. Wallahu a’lam.


*Mahasantri Ma’had Aly Hasyim Asy’ari

SebelumnyaSoal Literasi Digital Santri, Begini Pesan Pengasuh Tebuireng
BerikutnyaPentingnya Berpikir Positif