
Tebuireng.online— Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) periode 2025-2030, KH. Cholil Nafis, hadir dalam acara Haul ke-6 KH. Salahuddin Wahid (Gus Sholah) di Universitas Hasyim Asy’ari (Unhasy), pada Ahad (2/1/2026). Dalam tausiyahnya, beliau membagikan tiga kenangan yang selalu hadir dalam momen-momen krusial hidupnya.
Pertama, saat pernikahan Kiai Cholil, Gus Sholah hadir langsung menjadi khatib nikah. Kehadiran tokoh besar ini diakui Kiai Cholil telah mengangkat marwah dan derajat beliau di mata keluarga besar.
Baca Juga: Kesaksian Prof. Nuh: Gus Sholah Bukan Sekadar Sahabat, Tapi Guru, Mentor dan Orang Tua
“Gus Sholah menaikkan derajat saya di depan mata mertua saya,” ungkapnya mengenang kehadiran Gus Sholah memberikan ceramah atau tausiyah saat pernikahannya.
Selain itu, kenangan yang juga sangat diingat adalah disaat Kiai Cholil menempuh studi S2. Ia sempat mengadu karena memiliki tunggakan SPP selama dua semester. Tanpa banyak bicara, Gus Sholah memberikan bantuan sebesar Rp5 juta untuk melunasi tanggungan tersebut.
“Rp. 2 juta saya bayarkan tunggakan, Rp. 1 juta dibayarkan untuk cicilan semester selanjutnya, dan Rp. 2 juta lagi saya belikan komputer sebagai penunjang Tesis”, ungkap Kiai Cholil.
Kebaikan Gus Sholah juga tercatat sebagai salah satu donatur awal saat Kiai Cholil mulai membangun pondok pesantrennya.
Pria asal Madura itu menekankan, bahwa menceritakan kebaikan ini bukan sekadar nostalgia, melainkan pengamalan hadits: “اذْكُرُوا مَحَاسِنَ مَوْتَاكُمْ . Sebutkanlah kebaikan-kebaikan orang yang meninggal di antara kalian.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi).
Baca Juga: Gus Kikin Sebut Gus Sholah Sosok yang Sangat Ikhlas Berjuang
Beliau berharap para jamaah dapat meneladani kebaikan Gus Sholah dan hal tersebut dapat menjadi pahala yang terus mengalir untuk Gus Sholah. Tidak hanya itu, salah satu teladan yang paling berbekal adalah sifat menghargai tamu.
Selain itu, Kiai Cholil menyoroti produktivitas Gus Sholah dalam menulis. Pemikiran-pemikirannya yang tersebar di berbagai platform media menjadi amal jariyah yang terus mengalir.
Di akhir tausiyah, Kiai Cholil menjelaskan bahwa haul merupakan tradisi Rasulullah Saw yang dulu rutin berziarah kepada para syuhada Perang Uhud. Hal ini menjadi filosofi haul yang kini sering diperuntukkan bagi tokoh yang telah memberikan dampak dan manfaat besar bagi masyarakat luas.
Baca Juga: Teladan Kesabaran dan Visi Digitalisasi Gus Sholah
“Haul ini adalah pengingat bagi kita semua untuk menjaga nyala api perjuangan dan meneruskan cita-cita besar Gus Sholah,” tutup Kiai Cholil.
Pewarta: Bakhit Jauharullaudza
Editor: Rara Zarary


















