
Tebuireng.online— Menghadiri Haul ke-6 KH. Salahuddin Wahid (Gus Sholah) yang digelar di Universitas Hasyim Asy’ari (Unhasy), Ahad (1/2/2026), Irfan Wahid atau yang akrab disapa Gus Ipang menyampaikan pesan mendalam tentang relevansi pemikiran sang ayah di tengah derasnya arus digitalisasi.
Dalam sambutannya, Gus Ipang mengapresiasi konsistensi Unhasy dalam menjaga dan menghidupkan warisan pemikiran Gus Sholah. Ia menganalogikan haul sebagai sebuah kaca spion. “Haul adalah titik perhentian sejenak untuk melihat ke belakang, mengevaluasi apa yang telah dilalui, namun tetap dengan fokus utama menatap ke depan,” ujarnya.
Baca Juga: Kenang Gus Sholah, KH. Cholil Nafis: Gus Sholah Menaikkan Derajat Saya
Di tengah zaman yang semakin kompleks dan bising oleh berbagai suara, Gus Ipang mengenang Gus Sholah sebagai sosok kompas moral. Ketika banyak orang berlomba berbicara keras, Gus Sholah justru mengajarkan ketenangan. Ia mendidik santri-santrinya untuk menarik napas, berpikir jernih, serta memiliki keberanian untuk tetap berdiri di atas kebenaran.

Gus Ipang kemudian menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara iman sebagai cahaya hati dan akal sehat sebagai mata dalam melangkah. “Keduanya harus dijaga agar kita tidak salah arah, terutama di tengah arus digitalisasi yang begitu masif. Inilah inti dari sikap adaptif,” tambahnya.
Sebagai kampus berbasis pesantren, Unhasy dinilai memiliki posisi strategis dalam mendorong semangat kewirausahaan di kalangan santri. Gus Ipang menegaskan bahwa santri tidak cukup hanya sholeh, tetapi juga harus mampu menggali dan mengembangkan potensi dirinya. “Gus Sholah itu selalu berpikir out of the box, namun tanpa sedikit pun meninggalkan adab,” jelasnya.
Baca Juga: Gus Ipang Beri Pesan Penting untuk Kader Diklat Tebuireng
Menurut Gus Ipang, kombinasi santri yang mampu berbicara tentang digitalisasi hingga pasar saham merupakan hal luar biasa yang kini nyata hadir di Unhasy. Hal ini menunjukkan bahwa nilai-nilai pesantren tidak bertentangan dengan kemajuan zaman, justru dapat berjalan beriringan.
Menutup sambutannya, Gus Ipang menegaskan bahwa sikap adaptif dan kreatif harus tertanam kuat dalam benak setiap santri. Dengan bekal tersebut, santri Unhasy diharapkan mampu bersaing di dunia luar tanpa kehilangan jati diri pesantrennya.
“Kehadiran SMA Trensains menjadi bukti konkret betapa adaptifnya pemikiran Gus Sholah, jauh melampaui zamannya,” pungkasnya.
Pewarta: Bakhit Jauharullaudza
Editor: Rara Zarary


















