Jadilah Muslim yang Sempurna

1559
KH. Fahmi Amrullah Hadzik (Pengasuh Pondok Putri Pesantren Tebuireng Jombang)

Oleh: KH Fahmi Amrullah Hadzik

اَلْحَمْدُ لِلهِ . نَحْمَدُهُ وَ نَسْتَعِيْنُهُ وَ نَسْتَغْفِرُهُ . وَ نَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا . مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَ اَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ

اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا أَمَّابَعْدُهُ.  فَيَا عِبَادَ اللهِ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَي اللهِ . اِتَّقُوْ اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.

Kaum Muslimin Rahimakullah

Marilah kita senantiasa meningkatkan keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah. Haqqo tuqotihi dengan sebenar-benar taqwa, dalam artian berusaha menjalankan semua perintah dan meninggalkan laranganNya, dan janganlah kita sekali-kali meninggalkan dunia ini, kecuali dalam keadaan beragama Islam dan khusnul khotimah.

Kaum Muslimin Rahimakumullah

Suatu ketika Syaikh Muhammad Abduh, ulama besar Mesir, geram terhadap dunia Barat yang menganggap Islam itu sebagai agama yang kuno dan terbelakang. Kepada seorang filosof Prancis yang bernama Renan dengan tegas dan lantang, Syaikh Muhammad Abduh menjelaskan bahwa Islam adalah agama yang hebat. Cinta ilmu dan mendorong kemajuan dan sederet kehebatan Islam yang lain.

Mendengar penjelasan Syaikh Muhammad Abduh, Renan menjawab dengan enteng,  “Saya tahu dan paham betul akan kehebatan nilai-nilai ajaran Islam sebagaimana yang tertulis di dalam Al Quran. Tapi, tolong tunjukkan satu saja komunitas muslim atau negara Islam yang bisa menunjukkan kehebatan Islam itu.” Mendapat tantangan seperti ini, Syaikh Muhammad Abduh pun terdiam karena tidak mampu menjawab.

Sekelompok ilmuan dari sebuah universitas, George Washington University,merumuskan nilai-nilai ajaran Islam seperti yang tertulis di dalam Al Quran. Dan hasilnya, ditemukan lebih dari 100 nilai-nilai ajaran Islam seperti jujur, ikhlas, kerja keras, disiplin, tertib, bersih, aman, amanah, toleran, saling menghargai, dan lebih dari seratus nilai ajaran yang lain yang bersifat universal, yang berarti bisa diamalkan baik oleh muslim maupun nonmuslim.

Dengan sederet nilai ajaran Islam tersebut, tidak heran ketika Syaikh Muhammad Abduh berkunjung ke Prancis, beliau berkomentar, “Aku tidak melihat muslim di sini, tapi aku merasakan nilai-nilai ajaran Islam. Sementara di Mesir, aku melihat banyak sekali muslim tapi aku tidak merasakan nilai-nilai ajaran Islam.”

Maksud dari ucapan Syaikh Muhammad Abduh tersebut, dia tidak melihat muslim di Prancis. Karena memang mayoritas penduduk Prancis itu nonmuslim. Tetapi dia merasakan nilai-nilai ajaran Islam itu diamalkan, dipraktikkan oleh orang-orang Prancis. Sehingga begitu jujur pemerintahannya, begitu disiplin lalu lintasnya, begitu tertib lingkungannya, begitu bersih sungainya, dan sederet amalan-amalan nilai ajaran Islam yang lain.

Pengalaman serupa dirasakan oleh Profesor Afif Muhammad, seorang cendekiawan muslim ketika sedang berada di Negara Kanada. Negara Kanada menurut sebuah survei, menduduki peringkat kelima sebagai negara yang paling islami di dunia.

Profesor Afif Muhammad heran, di sebuah kota ia tinggal, tidak ada rumah yang dikunci pintunya walaupun sedang ditinggalkan oleh penghuninya. Artinya, rumah itu kosong. Ketika ditanyakan kepada penduduk setempat, mengapa rumah tidak dikunci ketika ditinggal. Pertanyaan ini justru dijawab dengan pertanyaan lain oleh penduduk Kanada, “Mengapa harus dikunci?”. Saking amannya.

Begitu pula pengalaman seorang ketua ormas Islam yang besar, masih di Negara Prancis. Suatu ketika kameranya tertinggal di halte bus. Halte bus ini adalah tempat publik, siapa saja pasti berlalu lalang di tempat itu. Dan dia baru ingat kameranya tertinggal, beberapa jam kemudian. Maka ia segera menuju halte bus, di mana ia berangkat. Dan subhanallah, ternyata kameranya masih ada dan tidak bergesar sedikit pun dari tempat semula.

Kaum Muslimin Rahimakumullah

Kita tahu bahwa kata “iman” itu memiliki akar kata yang sama dengan “aman”. Artinya, seharusnya ketika kita berada di lingkungan orang yang beriman, kita akan merasa aman. Tetapi penduduk Kanada merasa aman, walaupun mungkin tinggal di lingkungan orang yang  -bisa jadi- tidak beriman. Sementara kita di sini, mungkin tidak merasa aman walaupun tinggal di lingkungan orang yang beriman. Di Kanada, kamera milik seorang tokoh, tentu harganya mahal tetapi tetap tidak diambil dan disentuh. Sementara di sini, sandal japit pun bisa hilang di rumah Allah Yang Maha Melihat dan Maha Mengetahui.

  Kepala Pondok: Kunci Sukses Pembinaan Santri adalah Komunikasi

Kaum Muslimin Rahimakumullah

Sesungguhnya seorang muslim itu dilihat bagaimana akhlaknya. Di dalam Al Quran dan Hadis tidak ada keterangan yang menyebutkan bahwa muslim yang baik adalah yang paling khusyu’ salatnya atau yang paling bagus puasanya atau yang paling mabrur hajinya. Belum ada keterangan seperti itu. Tetapi hampir semua yang dijelaskan oleh kanjeng Nabi SAW bahwa sebaik-baik muslim itu dilihat dari akhlaknya.

Misalnya dawuh beliau, khoiru an-nas ‘anfa’uhum li an-nas. Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain. Jadi tanda-tanda keislaman seseorang, keimanan seseorang, tidak diukur dari ibadahnya. Tetapi diukur dari akhlaknya.

Atau dawuh beliau,

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ، فَلْيُكْرِمْ جَارَهُ، فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَسْكُتْ

Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaknya dia memuliakan tamu. Memuliakan tetangga. Berkata yang baik, atau kalau tidak bisa berkata baik daripada membuat sakit hati orang lain lebih baik diam. Ini ukuran keimanan seseorang. Karena itu, yang dijadikan di dalam Al Quran dan Hadis, semua itu adalah indikator-indikator yang harus kita lakukan dan amalkan.

Umat Islam adalah sebaik-baik umat. Allah berfirman:

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُوْنَ بِاللهِ، وَلَوْ آمَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ، مِنْهُمُ الْمُؤْمِنُوْنَ وَأَكْثَرُهُمُ الْفَاسِقُوْنَ

Engkau adalah sebaik-baik umat yang dilahirkan bagi manusia. Cirinya sebaik-baik umat adalah, melakukan perbuatan ma’ruf. Melakukan kebaikan. Dan menjauhi, meninggalkan kemungkaran. Ini adalah ciri sebagai umat terbaik. Karena itu, kita berusaha untuk amar ma’ruh nahi munkar ini. Tentu ketika kita ber-amar ma’ruf dengan yang ma’ruf juga. Bahkan nahi munkar pun dengan cara yang ma’ruf. Bukan nahi munkar dengan cara yang mungkar pula.

Banyak mungkin, saudara-saudara kita yang sudah ber-amar ma’ruf tapi masih belum bisa meninggalkan kemungkaran. Banyak orang yang salat, tapi masih suka berbohong. Banyak orang yang berpuasa, tapi masih menyakiti saudara dan tetangga. Banyak orang yang pergi haji dan umrah berkali-kali tapi sangat bakhil. Ini namanya nyamar ma’ruf nyambi munkar (berdalih berbuat baik tapi disertai berbuat kemungkaran). Berbuat baik, iya. Tetapi perbuatan yang tidak baik juga dikerjakan.

Maka, kejayaan seorang muslim sesungguhnya adalah pada akhlaknya. Terakhir, Syaikh Basuni pernah mengirim surat kepada Sayyid Muhammad Rasyid Rida. Isi suratnya berupa pertanyaan, li madza taakhkhara al-muslimun wa taqaddama ghoiruhum. Kenapa umat Islam itu mundur, sementara umat lain mengalami kemajuan.

Dari keterangan panjang lebar yang disampaikan oleh Sayyid Muhammad Rasyid Rida, jawabannya ternyata sederhana. “Umat Islam akan mundur kalau mereka meninggalkan nilai-nilai ajaran Islam. Meninggalkan kejujuran, keikhlasan, keadilan, kebersihan, dan sederet nilai-nilai ajaran Islam yang lain. Maka mereka akan mundur.”

Kaum Muslimin Rahimakumullah

Maka saya mengajak kepada diri saya sendiri dan umumnya pada para jamaah semua. Mari kita raih kejayaan Islam, dengan menjadi seorang muslim yang islami. Seorang muslim yang mengamalkan nilai-nilai ajaran Islam. Udkhulu fi as-silmi kaffah, jadilah seorang muslim yang sempurna. Semoga bermanfaat, khususnya bagi diri saya dan umumnya bagi para jamaah semua.

إِنَّ أَحْسَنَ الْكَلَامِ  كَلَامُ اللهِ الْمَلِكُ الْمَنَّانُ وَبِالْقَوْلِ يَهْتَدُ الْمُرْتَضُوْنَ . مَنْ عَمِلَ صَالِحًا فَلِنَفْسِهِ وَمَنْ أَسآءَ فَعَلَيْهَا وَمَارَبُّكَ بِظَلَّامٍ لِلْعَبِيْدِ . بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي اْلقُرْآنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ مِنَ اْلأٓيَةِ    وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ وَاسْتَغْفِرُوْا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ


ditranskip oleh: M. Sutan Alambudi