Gali Sanad Keilmuan Nusantara, Pesantren Darul Ulum Riau Rihlah Ilmiah ke Tebuireng

11
Pondok Pesantren Darul Ulum Indragiri Hulu, Riau, menggelar kegiatan rihlah ilmiah ke Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur, Selasa (30/06/2026). Foto: Fatih

Tebuireng.online- Pondok Pesantren Darul Ulum Indragiri Hulu, Riau, menggelar kegiatan rihlah ilmiah ke Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur, Selasa (30/06/2026). Agenda ini diikuti oleh rombongan berjumlah 92 orang yang terdiri atas pengurus yayasan, jajaran asatidz (guru), santri, hingga perwakilan wali santri.

Kedatangan rombongan asal Sumatra ini diterima langsung oleh jajaran pimpinan manajemen Pesantren Tebuireng, di antaranya Mudir III Bidang Pondok dan Diniyah H. Lukman Hakim, Mudir IV KH. Agus Mughni, serta perwakilan dzurriyah (keluarga) Hadratussyaikh KH. Muhammad Hasyim Asy’ari, Gus H. Variz Muhammad Mirza.

Ketua Komite Yayasan Pondok Pesantren Darul Ulum, Ustadz Masyhud, menjelaskan bahwa kunjungan lintas pulau ini merupakan ikhtiar terstruktur lembaga untuk menyandarkan tradisi akademik dan spiritual pada poros pesantren tertua di Jawa Timur tersebut.

“Tujuan utama rihlah ilmiah ini bukan sekadar kunjungan, melainkan sebagai ikhtiar untuk bertabarruk kepada para masyaikh, memperoleh ijazah sanad keilmuan, serta menggali khazanah ilmu yang diwariskan oleh ulama-ulama Nusantara, khususnya di Pesantren Tebuireng,” kata Masyhud saat memberikan sambutan di lokasi acara, Selasa.

Dalam sesi pemaparan, Mudir IV Pesantren Tebuireng, KH. Agus Mughni, membedah dinamika sejarah dan fase perkembangan Tebuireng dari masa ke masa. Ia memaparkan bagaimana cetak biru lembaga yang didirikan oleh Hadratussyaikh KH. Muhammad Hasyim Asy’ari tersebut mampu bertransformasi melahirkan berbagai inovasi unit pendidikan modern tanpa menggerus identitas nilai kepesantrenan salaf.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Sementara itu, Mudir III H. Lukman Hakim menekankan indikator utama keberhasilan santri dalam menuntut ilmu yang tidak boleh lepas dari dimensi keberkahan. Menurut dia, keberkahan pengetahuan hanya dapat diproduksi secara konsisten melalui perilaku ta’dzim (hormat) kepada guru, bakti formal kepada orang tua, serta kedisplinan menjaga adab sepanjang proses belajar.

Melengkapi materi kepesantrenan, Gus H. Variz Muhammad Mirza menceritakan heroisme perjuangan fisik dan diplomasi Hadratussyaikh KH. Muhammad Hasyim Asy’ari kala mempertahankan kedaulatan pesantren di tengah kungkungan penjajahan kolonial Belanda dan Jepang. Karakter keikhlasan dan keteguhan tersebut dinilai menjadi instrumen wajib yang harus diadopsi oleh generasi santri kontemporer.

Menjelang akhir pertemuan, Ustadz Masyhud kembali menegaskan komitmen yayasan untuk membawa pulang dan mengonversi seluruh poin manajemen serta keteladanan dari Tebuireng ke dalam kurikulum internal Darul Ulum Riau.

“Mudah-mudahan setelah berkunjung ke Tebuireng, para santri mampu mengambil pelajaran dari keteladanan para masyaikh. Bukan hanya santri, tetapi kami sebagai para guru juga banyak belajar dari pesantren ini,” ujar Masyhud.

Pertemuan ilmiah antarlembaga pendidikan Islam ini diakhiri dengan pelaksanaan ziarah bersama ke kompleks maqbarah (makam) para masyaikh dan pahlawan nasional di dalam area Pesantren Tebuireng.

Para santri dan pengurus Pondok Pesantren Darul Ulum Indragiri Hulu, Riau. Foto: Fatih

Pewarta: Fatih
Editor: Sutan