
“Kemilau harta yang dipamerkan di layar ponsel sering kali hanyalah topeng. Di baliknya, ada jiwa yang haus pengakuan dan spiritualitas yang perlahan terkikis oleh ambisi duniawi.”
Kutipan tersebut seolah menjadi cermin bagi realitas kehidupan digital hari ini. Media sosial tidak lagi sekadar ruang berbagi cerita, tetapi telah bertransformasi menjadi panggung besar tempat identitas, status, dan keberhasilan dipertontonkan. Di ruang inilah kemewahan dipoles sedemikian rupa agar tampak sempurna, seolah menjadi ukuran nilai diri dan tolok ukur kesuksesan seseorang.
Baca Juga: Menyoal Fenomena ‘Influencer’ & Flexing di Medsos
Di era media sosial, beranda kita kerap dipenuhi oleh pameran saldo rekening, kendaraan mewah, liburan eksklusif, hingga gaya hidup glamor yang serba wah. Fenomena ini dikenal dengan istilah flexing. Dalam perspektif komunikasi, flexing bukan sekadar perilaku pamer, melainkan strategi membangun citra, legitimasi sosial, bahkan otoritas simbolik di dunia maya. Namun, di balik tumpukan like, komentar pujian, dan kekaguman netizen, tersembunyi persoalan yang lebih dalam: tekanan psikologis, kegelisahan identitas, serta pelan-pelan terkikisnya spiritualitas akibat orientasi hidup yang semakin materialistik.
Dalam teori komunikasi visual, apa yang ditampilkan di media sosial adalah hasil kurasi. Pelaku flexing biasanya mencari validasi instan. Mereka ingin membangun persepsi bahwa dirinya sukses, bahagia, dan berkuasa. Sayangnya, kebutuhan akan pengakuan ini seringkali menjadi candu. Ketika kebahagiaan diukur dari seberapa banyak orang yang merasa iri atau kagum, di situlah spiritualitas mulai kehilangan arah. Fokus hidup bergeser dari “menjadi” (individu yang berkualitas) menjadi sekadar “terlihat” (individu yang sukses).
Baca Juga: Mengapa Tidak Semua Hal Perlu Diposting?
Pandangan Islam tentang Penyakit Riya dan Takabur
Islam sangat menekankan kerendahan hati (tawadhu). Fenomena flexing dalam kacamata Islam sangat dekat dengan sifat riya’ (beramal atau berperilaku demi pujian manusia) dan sum’ah (ingin kemasyhurannya didengar orang lain).
Allah SWT berfirman: “Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS. Luqman: 18)
Ayat ini mengingatkan kita bahwa segala fasilitas duniawi hanyalah titipan. Ketika seseorang merasa perlu memamerkan harta secara berlebihan, ada indikasi rasa sombong (takabur) di dalam hati, seolah-olah semua pencapaian itu murni karena kehebatannya sendiri, tanpa campur tangan Sang Pencipta.
Baca Juga: Seni Menata Arah Pikiran
Dampak Terhadap Spiritualitas
- Gufah (Kelalaian): Terlalu sibuk mengurasi konten pamer membuat seseorang lalai akan tujuan hakiki penciptaan manusia. Orientasi hidup menjadi sangat materialistik.
- Kikir Secara Emosional: Flexing seringkali tidak mempedulikan perasaan orang lain yang mungkin sedang kesulitan. Hal ini mengikis rasa empati dan kasih sayang yang menjadi ruh dalam beragama.
- Hati yang Tidak Tenang: Spiritualitas yang sehat membuahkan ketenangan (tuma’ninah). Sebaliknya, pelaku flexing akan selalu merasa cemas jika tidak ada lagi hal baru yang bisa dipamerkan atau jika ada orang lain yang lebih mewah darinya.
Menjaga Hati di Era Digital
Agar kita tidak terjebak dalam arus flexing yang merusak spiritualitas, beberapa langkah preventif dapat dilakukan:
- Meluruskan Niat: Sebelum mengunggah sesuatu, tanyakan pada diri sendiri: “Apakah ini untuk berbagi manfaat atau sekadar ingin dipuji?”
- Mempraktikkan Qana’ah: Merasa cukup dengan apa yang ada akan menjauhkan kita dari ambisi buta untuk terlihat lebih dari orang lain.
- Literasi Digital yang Sehat: Sadari bahwa apa yang kita lihat di layar hanyalah potongan kecil dari kenyataan yang belum tentu seindah aslinya.
- Privasi sebagai Kemewahan Baru: Belajarlah untuk menikmati kebahagiaan secara personal tanpa harus selalu disiarkan ke ruang publik.
Menghadapi era flexing memerlukan benteng spiritual yang kokoh. Marilah kita ingat bahwa di hadapan Tuhan, yang membedakan satu manusia dengan yang lain bukanlah merek tas atau model kendaraan yang kita miliki, melainkan ketakwaan dan ketulusan hati kita.
Penulis: Anik Wulansari, M.Med.Kom
Editor: Rara Zarary


















