
Di Bangku yang Tak Selalu Ramah
Ia duduk di bangku sekolah
dengan tas berisi mimpi dan luka
buku-buku membuka dunia
namun suara-suara sering menutup telinganya:
“Perempuan tak perlu terlalu tinggi bercita.”
Setiap ujian bukan hanya soal angka
tetapi keberanian untuk tetap percaya
bahwa pikirannya berhak tumbuh
bahwa ilmunya tak perlu izin
bahwa cerdas bukan dosa
dan bermimpi bukan pembangkangan
Di kelas itu,
ia tak hanya lulus pelajaran
tetapi mengalahkan ketakutan
yang diwariskan turun-temurun.
Di Antara Meja dan Kuasa
Ia melangkah ke ruang-ruang kebijakan
yang dingin oleh angka
dan panas oleh ambisi
Kursi-kursi empuk menyimpan suara
yang jarang mendengar perempuan berbicara
Ketika ia bersuara
ada yang menepuk tangan
ada yang merendahkan nada:
“Emosi,” kata mereka,
padahal itu nurani yang hidup.
Ia belajar bahwa pemerintahan
bukan sekadar kekuasaan
melainkan keberanian bertahan
di tengah kompromi yang menggerogoti idealisme.
Rumah yang Mengajarinya Pulang
Di rumah, ia bukan pejabat
bukan lulusan terbaik
bukan siapa-siapa selain anak perempuan
yang belajar memahami diam ayah
dan lelah ibu yang tak pernah selesai.
Keluarga adalah medan pertama
tempat ia berlatih menjadi kuat
dan sering kali juga tempat
ia paling ingin menyerah.
Namun dari rumah itu pula
ia belajar arti pulang:
bukan kembali tanpa luka
melainkan tetap bertahan
meski pernah patah.
Penulis: Albii
Editor: Rara Zarary


















