Di Panggung 1 Abad NU, Siswa MA Salafiyah Syafi’iyah Tebuireng Raih Juara 1 Pidato Bahasa Inggris

89
Ridwan, peraih juara 1 lomba Pidato Bahasa Inggris tingkat Provinsi untuk 1 Abad NU (dok. istimewa)

Tebuireng.online– Muhammad Ridwan Yasin, siswa kelas 10 F MA Salafiyah Syafi’iyah Tebuireng, berhasil meraih juara 1 lomba pidato Bahasa Inggris dalam rangka peringatan 1 Abad Nahdlatul Ulama tingkat Provinsi Jawa Timur. Kegiatan tersebut diselenggarakan di Kampung Coklat, Blitar, dan diikuti oleh ratusan peserta dari berbagai daerah di Jawa Timur.

Ridwan mengungkapkan bahwa keikutsertaannya dalam lomba ini berawal dari penunjukan langsung oleh guru Bahasa Inggris di MA Salafiyah Syafi’iyah Tebuireng. Menurutnya, proses tersebut menjadi pengalaman yang menyenangkan sekaligus menantang.

Baca Juga: Siswa MA Salafiyah Syafi’iyah Tembus Final ASEAN Geography Smart Competition GEOSAC 2026

“Saya dipilih sama Miss Nora buat ikut lomba ini. Terus waktu di sana asik dan seru,” ungkap Ridwan mengungkap pengalamannya.

Ia menambahkan bahwa rasa percaya dirinya dalam mengikuti lomba pidato tidak muncul secara instan, melainkan telah terbentuk sejak duduk di bangku MTs. Pengalaman mengikuti berbagai kompetisi sebelumnya membuatnya lebih siap tampil di hadapan publik.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

“Sebelumnya pas di MTs juga saya sudah sering ikut lomba, pidato juga, jadi sudah PD kalau ikut lomba lagi,” ujarnya.

Selama menempuh pendidikan di MTs Salafiyah Syafi’iyah Tebuireng, Ridwan tercatat pernah menorehkan prestasi di tingkat nasional dengan meraih juara 1 Olimpiade Bahasa Inggris. Selain itu, ia juga berhasil meraih juara 2 lomba pidato Bahasa Inggris di Sidoarjo, Bumi Sholawat, saat masih duduk di kelas 2 MTs.

Ridwan menjelaskan bahwa proses seleksi lomba pidato Bahasa Inggris dalam rangka peringatan 1 Abad Nahdlatul Ulama tersebut terbilang cukup panjang. Namun, waktu pembinaan menjelang babak final justru berlangsung relatif singkat.

“Kalau penyisihan ya lumayan lama, tapi pembinaan buat final itu cuma sehari,” katanya.

Baca Juga: Gus Kikin Tegaskan Pentingnya Harmoni Ulama-Umara dalam Merawat Negeri

Babak final lomba dilaksanakan pada Kamis, 6 Februari 2026. Dari total 170 peserta yang mengikuti seleksi sejak tahap awal, hanya enam peserta terbaik yang terpilih untuk tampil di babak final. Pada tahap ini, seluruh finalis diminta membawakan pidato dengan tema “If I Were an NU Leader”.

“Teksnya saya bikin sendiri. Isinya tentang tambang batu bara, nyajikan data yang sebenarnya terjadi di Indonesia, gimana NU menyikapinya, dan banyak pergulatan di dalamnya,” jelas Ridwan.

Ia menambahkan bahwa selisih waktu antara pengumuman finalis dan pelaksanaan babak final hanya sekitar dua hari. Dengan waktu menghafal yang terbatas, yakni sekitar tiga hari, Ridwan memilih strategi memahami substansi pidato daripada menghafal teks secara keseluruhan.

“Sebenarnya saya bukan tipe orang yang suka menghafal, jadi saya pahami isinya aja biar gampang. Kebetulan saya juga aktif di Kudaireng, kumpulan dai Tebuireng,” ujarnya.

Ketertarikan Ridwan terhadap Bahasa Inggris, menurut pengakuannya, telah tumbuh sejak usia dini. Ia mengaku banyak memperoleh kosakata Bahasa Inggris secara alami melalui aktivitas bermain game.

Baca Juga: ASWAJA Center Tebuireng Bekali Siswa MASS Peta Gerakan Islam di Indonesia

“Bisa bahasa Inggris itu dari waktu kecil tiba-tiba bisa. Dari main game Minecraft, dapat banyak kosa kata dari situ,” katanya.

Ridwan yang lahir di Sidoarjo pada 5 Juli 2009 ini memiliki hobi membaca novel dan mendengarkan musik. Ia juga mengaku memiliki ketertarikan besar terhadap dunia sastra, baik sastra dalam negeri maupun luar negeri, meskipun kemampuan yang paling menonjol ada pada bidang public speaking.

“Kalau passion saya itu sebenarnya di sastra, suka mengamati sastra dari luar dan dalam negeri. Tapi keahlian saya public speaking,” tuturnya.

Foto Ridwan bersama rekan dan guru pembinanya di lokasi acara (dok. istimewa)

Prestasi yang diraih Ridwan dalam lomba pidato tersebut mengantarkannya memperoleh berbagai penghargaan. Di antaranya beasiswa penuh di UIN Malang berupa pembebasan biaya UKT dan Ma’had untuk seluruh jurusan kecuali kedokteran, uang pembinaan sebesar dua juta rupiah, piala, serta sertifikat. Meski demikian, Ridwan mengaku masih mempertimbangkan rencana pendidikan lanjutannya.

Baca Juga: MASS Tebuireng Gelar Seleksi Santri Baru 2026-2027, Tes Baca Kitab Jadi Pembeda

“Rencana saya ke Fakultas Hukum, tapi masih galau. Orang tua saya sudah sepuh dan saya anak terakhir, nanti saya disuruh jaga mereka. Makanya saya juga ngincer Unair biar dekat dari Sidoarjo, tapi keputusan masih dua tahun lagi,” ujarnya.

Kabar kemenangan tersebut disambut haru oleh keluarga. Ridwan menceritakan reaksi orang tuanya saat menerima kabar bahwa dirinya berhasil meraih juara pertama.

“Orang tua pasti nangis. Pas saya telepon umi, cuma bilang ‘bangga umi, nak,’ sambil nangis,” katanya.

Guru Bahasa Inggris MA Salafiyah Syafi’iyah Tebuireng yang mendampingi Ridwan, Nora Windiyana Pratiwi, menyampaikan bahwa Ridwan memang telah menunjukkan bakat kuat di bidang Bahasa Inggris sejak awal.

“Dasarnya Ridwan suka Bahasa Inggris, saya hanya melanjutkan saja. Dulu di MTs itu dia diajar mbak saya, dan beliau bilang, ini loh ada bibit Bahasa Inggris,” ujar Miss Nora.

Baca Juga: Ma’had Aly Hasyim Asy’ari Tebuireng Gelar Sambung Sanad 40 Hadis Musalsal

Menurutnya, kemampuan dasar Ridwan sudah sangat baik, sehingga dalam lomba ia mampu melakukan improvisasi ketika terdapat bagian pidato yang tidak sepenuhnya dihafal.

“Basic-nya sudah bagus. Kalau ada beberapa yang tidak ingat, masih bisa improvisasi,” tambahnya.

Ia berharap prestasi yang diraih Ridwan dapat menjadi pemantik semangat bagi siswa lain di MA Salafiyah Syafi’iyah Tebuireng untuk berani mencoba dan mengembangkan potensi diri.

“Harapan saya semoga ada Ridwan-Ridwan lainnya yang mau mencoba. Setidaknya ada perempuan dan laki-laki yang berani mencoba dulu biar tahu kemampuannya seperti apa, jangan takut dulu,” tuturnya.

Baca Juga: 600 Peserta Antusias Ikuti P5 di MA Salafiyah Syafi’iyah Tebuireng

Terkait dukungan madrasah, Miss Nora menegaskan bahwa MA Salafiyah Syafi’iyah Tebuireng selalu memberikan fasilitasi dan apresiasi kepada siswa yang berprestasi.

“Biasanya penghargaan dari sekolah itu dijadikan satu per bulan berupa sertifikat dan penghargaan dari sekolah. Sekolah sangat memfasilitasi dan mendukung anak-anak ketika mau ikut lomba,” pungkasnya.



Pewarta: Albii
Editor: Rara Zarary