MASS Tebuireng Gelar Seleksi Santri Baru 2026-2027, Tes Baca Kitab Jadi Pembeda

81
Situasi tes seleksi di MA Salafiyah Syafi’iyah Tebuireng (foto: Ayu)

Tebuireng.online— Panitia Penerimaan Santri Baru (PSB) Madrasah Aliyah Salafiyah Syafi’iyah (MASS) Tebuireng kembali mengadakan tes seleksi untuk tahun pelajaran 2026-2027, pada Ahad (21/12/2025). Sebanyak 283 calon santri telah mendaftar dalam seleksi ini, di mana sekitar 230 orang di antaranya merupakan alumni yang sebelumnya telah mengikuti tes pada 16/12/2025. Dari total pendaftar tersebut, nantinya kuota yang akan diterima adalah sebanyak 266 siswa.

Kepala Sekolah MASS Tebuireng, Muhammad Subhan, menjelaskan bahwa tes ini digunakan untuk menyeleksi kualitas calon siswa secara mendalam. Pelaksanaan tes dibagi menjadi dua kategori, yakni untuk jalur alumni dan non-alumni, yang dilaksanakan baik secara daring (online) maupun luring (offline). Subhan memaparkan bahwa materi tes telah ditentukan oleh panitia PSB untuk jenjang SLTA unit SMA AWH yang mengacu pada soal-soal jenjang kelas 9. Adapun rangkaian seleksi meliputi tes hitung cepat, tes kemampuan akademik, wawancara dengan BK, tes baca Al-Qur’an, serta tes baca kitab yang menjadi ciri khas pembeda dari unit lainnya.

Baca Juga: Siswa MASS Tebuireng Gelar Pentas Seni AXETRA, Padukan Budaya dan Aspirasi

Dalam pelaksanaannya, pihak madrasah melibatkan berbagai pihak untuk menjaga kualitas seleksi. Pengawasan tes kemampuan akademik dilakukan oleh dewan guru, tes baca Qur’an oleh Majelis ‘Ilmi, wawancara oleh guru BK, hingga tes psikotes yang melibatkan biro khusus dari wilayah Kediri. Subhan menerangkan bahwa jika hasil tes pada gelombang ini belum memenuhi standar dan kuota yang ditetapkan, maka pihaknya akan menggelar seleksi gelombang kedua.

“Tes untuk menyeleksi yang benar-benar punya kemampuan akademik, di bidang agama maupun ilmu umum, kalau seandainya dengan satu gelombang ini sudah terpenuhi ya satu gelombang saja, tapi kalau belum terpenuhi, maka kami beri kesempatan untuk mengikuti tes ulang di gelombang dua,” jelas Subhan. Ia juga memberikan apresiasi tinggi kepada para orang tua yang mendukung putra-putrinya untuk mendaftar di MASS, khususnya di Pesantren Tebuireng, mengingat pendaftar terjauh tahun ini datang dari Sulawesi dan NTT.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Selain itu, menurutnya yang menjadi keunggulan MA SS adalah kurikulum yang konsisten ditata berkelanjutan dari unit jenjang SLTP unit Hasyim Asy’ari, sehingga MA SS menjadi unit yang cocok untuk melanjutkan jenjang SLTA.

Harapan besar menyertai pelaksanaan tes ini, salah satunya datang dari Sulis, calon wali santri asal Bandung. Sulis mengaku sangat berharap putranya dapat diterima di MA Salafiyah Syafi’iyah tahun ini, mengingat menjadi santri Tebuireng adalah impian sang anak sejak duduk di bangku SLTP. “Dulu waktu survey Tebuireng putra saya cocok, tapi saat mendaftar tingkat Tsanawiyah belum rezeki. Terus Aliyah ini ingin daftar lagi ke sini,” ungkapnya. Sebagai orang tua, ia mendukung penuh keinginan putranya agar bisa menjadi anak yang sholih.

“Karena ini kemauan anak jadi didukung, karena sudah tau bagaimana tes SLTP, itu menjadi evaluasinya untuk tes putra saya tahun ini. Saya berharap semoga bisa diterima menjadi santri Tebuireng sesuai harapan putra saya,” pungkasnya.

Baca Juga: 600 Peserta Antusias Ikuti P5 di MA Salafiyah Syafi’iyah Tebuireng

Senada dengan Sulis, Rifa’i asal Kertosono yang merupakan wali dari Zulfihar Ahmad Raunaqul Haq, juga berharap putranya bisa bergabung dengan keluarga besar Tebuireng. Ia mendukung penuh agar putranya bisa mengikuti jejak saudaranya menjadi alumni pesantren tersebut. Rifa’i menilai Pesantren Tebuireng memiliki kemajuan pengetahuan yang sangat baik. “Lebih dinamis,” jelasnya.

Ia berharap putranya dapat diterima dan mengembangkan prestasi di lembaga ini. “Jelas harapannya diterima bisa mengikuti pembelajaran di sini, syukur-syukur bisa berprestasi di sini,” tambahnya.

Di sisi lain, salah satu peserta tes, yang baru saja menyelesaikan tes M. Arif Elsandy, menceritakan pengalamannya mengikuti seleksi dengan perasaan campur aduk dan grogi. Meski begitu, ia tetap mengupayakan hasil terbaik karena ingin menjadi penerus seperti guru dan kiainya. “Alasan mendaftar di unit ini karena diarahkan guru, terus keinginan saya jadi guru, dari orang tua mendukung, sehingga saya mantap mendaftar di sini,” pungkasnya.



Pewarta: Ilvi Mariana
Editor: Rara Zarary