
Tebuireng.online- ASWAJA Center Tebuireng kembali menggelar agenda rutin penguatan ideologi bagi siswa tingkat akhir Madrasah Aliyah Salafiyah Syafi’iyah (MASS) Tebuireng. Kegiatan yang berlangsung di Aula MASS pada Sabtu (31/01/2026) ini bertujuan membekali ratusan santri agar memiliki pemahaman komprehensif terkait peta gerakan Islam di tanah air.
Zainurridlo, selaku narasumber, memaparkan materi bertajuk “Peta Gerakan ASWAJA An-Nahdliyah”. Ia menekankan bahwa urgensi materi ini adalah agar para santri mampu mengidentifikasi berbagai kelompok Islam serta memahami posisi diri di tengah keberagaman organisasi di Indonesia.
Dalam paparannya, Zainurridlo menginventarisasi sejarah berdirinya organisasi Islam lokal mulai dari SDI (1905), Muhammadiyah (1912), hingga Nahdlatul Ulama (1926). Tak hanya itu, ia juga membedah karakteristik gerakan transnasional yang masuk ke Indonesia, seperti Wahabi, Ikhwanul Muslimin (IM), Hizbut Tahrir (HT), hingga Jamaah Tabligh.
Mengenai Wahabi, ia menjelaskan bahwa aliran ini bersifat ultrakonservatif dan puritan. “Wahabi banyak tidak diterima di Indonesia karena bertentangan dengan tradisi lokal. Maka saat ini, mereka sering kali menggunakan nama Salafi,” terangnya.
Zainurridlo juga membedah perbedaan mencolok antara Ikhwanul Muslimin dan Hizbut Tahrir. Jika IM lebih fleksibel dan aktif di ranah politik melalui metode halaqah, HT justru secara tegas menolak demokrasi dan fokus pada penegakan konsep kekhalifahan dunia.
Diskusi berlanjut pada pembahasan mengenai Syiah yang mulai berkembang secara intelektual di Indonesia pasca-Revolusi Iran 1979. Sementara itu, Jamaah Tabligh atau Jaulah disebut sebagai gerakan apolitis yang unik karena menggabungkan unsur Wahabisme dan Sufisme dengan strategi dakwah khuruj.
Terakhir, materi ditutup dengan pembahasan Ahmadiyah yang terbagi menjadi kelompok Qadian (JAI) dan kelompok Lahore (GAI). Zainurridlo berpesan agar para santri senantiasa waspada dan tidak mudah terpengaruh oleh aliran-aliran yang tidak sejalan dengan prinsip Ahlusunnah wal Jamaah An-Nahdliyah.
Dalam sesi tanya jawab, seorang siswi menanyakan cara mengenali pondok pesantren yang tidak berhaluan NU. Zainurridlo menjelaskan bahwa meski terkadang ada upaya penyamaran, ciri utamanya tetap terlihat dari praktik ibadah harian.
“Ciri utamanya dapat dilihat dari kegiatannya. Biasanya mereka tidak melakukan tahlil, ziarah kubur, atau qunut, serta melarang penggunaan empat mazhab sebagai pedoman hukum Islam,” pungkasnya.
Melalui kegiatan ini, ASWAJA Center Tebuireng berharap lulusan MASS memiliki benteng ideologis yang kuat sebelum terjun ke masyarakat atau melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.
Pewarta: Ilvi Mariana
Editor: Sutan


















