Para Pejuang Kemanusiaan DuniaJudul               : Para Pejuang Kemanusiaan Dunia, Biografi Pemikiran

Penulis            : Najmuddin Muhammad     

Penerbit          : Ircisod

Cetakan          : Pertama, 2014

Tebal               : 237 Halaman

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

ISBN                : 9786022960522

Resensor        : Khoshol Fairuz*

Sudah sepatutnya kehidupan di dunia dalam rangka hablu min an-naas dilandaskan pada nilai cinta dan perdamaian, pembangunan kesadaran harus diciptakan sedini mungkin kepada seluruh umat manusia, khususnya dalam lingkungan dan negara yang memiliki aspek kemajemukan.

Sayangnya saat ini tokoh masyarakat dan elite politik kehilangan ruh kerakyatan yang dimiliki oleh para pejuang kemanusiaan dunia ini. Jarang ditemui seseorang yang terbuka terhadap keyakinan orang lain, hidup berdampingan secara toleran, menghormati perbedaan, menjaga keyakinan dan menjunjung tinggi nilai kebebasan beragama.

Buku dengan tebal 237 halaman ini akan menampar retorika kita dan mencoba membangun kembali nilai toleransi terhadap fenomena kemanusiaan yang ditindas oknum tirani. Pemikiran, biografi dan perjuangan hidup 24 tokoh pejuang kemanusiaan dunia akan dikupas lengkap melalui bab-bab yang menarik.

Najamuddin Muhammad secara implisit sebagai penulis buku ini ingin menunjukkan betapa mulianya makhluk yang bernama manusia, hingga tokoh-tokoh pejuang kemanusiaan dunia rela mengorbankan harkat martabat dan jiwa raganya, dengan konsekuensi yang tak jarang mengancam nyawa mereka.

Selain itu, ada banyak tokoh beserta pemikirannya yang perlu dijadikan referensi hidup beragama, bernegara, dan bertetangga. Tokoh-tokoh tersebut berasal dari berbagai negara, disertai problematika humanis dan berbagai pendekatan pemecahan masalahnya, di antaranya Nelson Mandela, Mohammed Yunus, Rabindranath Tagore, Che Guevara, Al Gore, Gus Dur, Aung San Suu Kyi, Bunda Teresa, Rachel Corrie, Marthin Luther King, dan lain sebagainya.

Penulis tidak hanya stuck menceritakan tokoh dari berbagai belahan dunia saja, namun juga mengikutsertakan tokoh-tokoh Indonesia yang menjadi bahan intropeksi kita dan kontribusi nyatanya bisa kita rasakan langsung, seperti Gus dur sang pejuang etnis minoritas, Romo Mangun sang penembus sekat-sekat formalisme dan simbolisme, R.A Kartini sebagai tokoh pembebas emansipasi wanita, dan Munir yang membela HAM hinga nyawa dikorbankan.

Sebagai contoh kecil betapa berharganya sebuah kasih sayang antar umat manusia adalah ungkapan bela sungkawa Paus Benediktus XVI, pemimpin tertinggi gereja katolik. Ia mengirirm surat khusus dari Vatikan atas meninggalnya Bapak Pluralisme kita KH. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Dalam suratnya ia mengatakan, “Ya Allah Yang Maha Kasih, kami telah kehilangan negarawan yang sangat besar yang mengajarkan perbedaan. Kau panggil bapak kami Abdurrahman Wahid yang selalu mengajarkan perdamaian, bangsa ini membutuhkan beliau.”

Buku ini bersifat sangat universal, sehingga dapat diterima di berbagai kalangan. Namun yang paling penting adalah tujuan inti daripada buku ini dicetak, yakni mewujudkan manusia sebagai agent of change, agent of love, agent of peace, yang dapat mengimplementasikan jiwa tenggang rasa, solider dan berpengertian tinggi terhadap sesamanya.

Selamat membaca!


*Santri Pesantren Urwatul Wutsqa (UW) dan mahasiswa semester 4 STIT UW.

SebelumnyaPesantren Tebuireng 9 Deli Serdang Sambut Bulan Berkah dengan Doa Bersama
BerikutnyaNyai Khoiriyah Hasyim: Inspirasi Kaum Perempuan Pesantren