
Bencana alam yang telah melanda 3 Provinsi besar di Pulau Sumatra yakni Aceh, Sumatra Utara dan Sumatra Barat dalam beberapa waktu terakhir ini menjadi pusat perhatian. Banjir dan tanah longsor yang melahap rumah-rumah warga, tanah yang runtuh perlahan menelan harapan, dan jeritan sendu kehilangan yang saat ini sedang memenuhi layar kaca informasi.
Namun sayang, derasnya arus informasi ini hanya sebagai guliran saja, hanya dibaca, dibagikan lalu dilupakan oleh sebagian kita. Bahkan pemerintah pun hanya mengulurkan satu tangannya saja. Seolah-olah Indonesia hanya terdiri dari pulau Jawa saja, padahal Pulau Sumatra merupakan salah satu Pulau yang menghasilkan sumber daya alam terbanyak, mulai dari kebun sawit, tambang timah, tambang batu bara dan kebun karet. Tapi sepertinya miris perhatian dari pemerintah.
Jumlah korban dalam bencana terus bertambah, rumah warga banyak yang rusak, banyaknya kerugian materi dan masih banyak lagi bahkan yang paling miris adalah masa depan anak-anak yang terputus.
Baca Juga: Datangnya Bencana Menurut Teologi Islam
Islam memandang bahwasanya bencana bukan hanya peritiswa alam atau kejadian-kejadian yang bisa berdiri sendiri tanpa ketetapan dari Allah, melainkan ini adalah sapaan dari ketetapan Allah agar manusia bercermin atas perilakunya.
Al-Qur’an sejak awal telah mengingatkan bahwa kerusakan di bumi sering kali berangkat dari ulah manusia itu sendiri. Allah berfirman: “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, agar Allah merasakan kepada mereka sebagian dari akibat perbuatan mereka, supaya mereka kembali (ke jalan yang benar)” (QS. Ar-Rum: 41).
Kandungan Ayat ini bukan hanya sebagai peringatan spiritual, melainkan juga kritik ekologis yang amat tajam. Penebangan hutan secara liar, alih fungsi hutan, eksploitasi alam, serta pembangunan tanpa memperhitungkan daya dukung lingkungan adalah rangkaian panjang yang hari ini menagih akibatnya melalui bencana.
Bencana yang terjadi di berbagai wilayah Sumatra semestinya menyentak kesadaran kita: apakah kita selama ini benar-benar menjaga amanah sebagai khalifah di bumi, atau justru menjadi pihak yang paling rakus mengurasnya? Sebenarnya Alam tidak akan murka tanpa adanya sebab. Ia “berbicara” melalui banjir dan longsor karena ketidakseimbangan yang kita ciptakan sendiri.
Namun dalam perspektif lain, agama juga mengajarkan kepada kita bahwa musibah adalah ujian. Ujian bagi mereka yang tertimpa agar dapat bersabar dan bertawakal, sekaligus ujian bagi mereka yang tidak terdampak untuk menunjukkan kepedulian dan solidaritas. Keimanan bukan hanya sebatas ibadah dengan memperbanyak jumlah rakaat di masjid saja , tetapi sejauh mana tangan kita tergerak membantu yang sedang terpuruk. Dalam situasi seperti ini, ukuran iman tidak lagi terletak pada panjangnya doa semata, tetapi pada seberapa besar empati yang mampu kita wujudkan dalam tindakan nyata.
Ironisnya, di era digital hari ini, solidaritas sering berhenti di kolom komentar dan unggahan story. Kita pandai menuliskan “turut berduka”, tetapi lambat bahkan enggan dalam mengulurkan bantuan. Kita mudah membagikan poster donasi, namun tak jarang ragu untuk benar-benar berkontribusi. Padahal, nilai ta‘awun dalam Islam mengajarkan bahwa menolong sesama bukan sekadar anjuran, melainkan kewajiban moral dan spiritual.
Baca Juga: Tiga Etika Ketika Bencana Melanda
Bencana juga mengajarkan tentang runtuh dan rapuhnya kehidupan. Dalam hitungan jam, rumah bisa hanyut, harta bisa lenyap, dan orang-orang tercinta bisa direnggut. Semua yang kita banggakan hari ini bisa runtuh tanpa aba-aba. Di titik inilah, manusia disadarkan bahwa tidak ada yang benar-benar abadi selain hanya bersandar kepada Allah. Namun kesadaran akan sapaan tuhan inilah yang menjadikan kita seharusnya bisa melanjutkan kehidupan untuk berbenah pada perubahan sikap hidup yang lebih bertanggung jawab dan mampu menjaga kelestarian alam. Karena alam adalah makhluk hidup juga yang perlu kita jaga. Alam tidak pernah mengkhianati kita, ia berperilaku sebagaimana ia memperlakukan kita.
Kita harus membuka pemikiran bahwa adanya bencana ini selain sebagai ujian dan takdir dari Tuhan, banyak bencana juga merupakan buah dari kelalaian manusia. Sungai dijadikan tempat sampah, hutan ditebang tanpa ampun, gunung dikeruk tanpa mempertimbangkan dampaknya, luasnya pembukaan lahan pertambangan. Ketika banjir datang, kita menyebutnya takdir. Ketika longsor terjadi, kita menyebutnya musibah semata. Padahal, dalam banyak kasus, takdir itu berjalan seiring dengan kelalaian yang kita rawat sendiri.
Di sinilah agama seharusnya hadir bukan hanya sebagai penghibur di tengah duka, tetapi juga sebagai pengingat untuk berbenah. Iman yang sesungguhnya bukan iman yang hanya pasrah tanpa usaha, tetapi iman yang mampu melahirkan tanggung jawab. Tawakal bukan berarti menyerah, tetapi bekerja sungguh-sungguh untuk mencegah kerusakan agar tidak terus berulang.
Bagi para korban di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat, kita tentu tidak bisa menghapus syatan luka mereka. Tetapi kita bisa memperkecil beban yang mereka tanggung. Kita bisa menjadi bagian dari harapan, bukan hanya penonton dari kejauhan. Di saat yang sama, bagi kita yang masih diberi keselamatan, bencana ini semestinya menjadi cermin untuk bertanya: sudahkah kita hidup dengan lebih peduli, lebih sederhana, dan lebih bertanggung jawab terhadap alam dan sesama?
Baca Juga: Bencana Alam ; Siksa atau Ujian?
Pada akhirnya, bencana bukan hanya peristiwa alam, melainkan peristiwa kemanusiaan dan keimanan. Ia datang bukan semata untuk ditakuti, tetapi untuk direnungi. Ia tidak hanya mengetuk pintu empati kita, tetapi juga mengguncang cara hidup kita, agar senantiasa berbenah ke arah yang lebih baik dan mampu bersama-sama menjaga dan merawat apa yang telah Allah berikan kepada kita untuk menghidupi kehiduapn kita karena sesungguhnya kita tidak bisa hidup tanpa adanya Alam. Maka dari itu marilah saling menjaga jangan hanya mengisi dan menyuap ego semata demi untuk kepentingan yang fana.
Penulis: Nabila Rahayu
Editor: Rara Zarary


















