Sumber gambar : www.google.com

Oleh: Silmi Adawiyah*

Tidak seharusnya seorang muslim merasa Tuhan sedang tidak adil ketika bencana melanda, atau merasa bahwa kehidupan ini akan berakhir sampai disini. Dalam Islam, etika dan sikap yang seharusnya dilakukan ketika bencana melanda sudah terlampir dalam Al-Qur’an. Begitulah Al-Qur’an, selalu menjadi referensi terbaik dalam kehidupan seorang muslim.

Etika pertama kali ketika menghadapi bencana adalah mengucapkan kalimat istirja’ yaitu innalillah wa inna ilahi raji’un (sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kami akan kembali kepada-Nya). Kalimat tersebut rupanya tidak diucapkan ketika ada seseorang meninggal dunia, melainkan juga ketika menghadapi berbagai bencana dan ujian. Dalam ayat-Nya difirmankan:

الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ

(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun”.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Bersabar adalah etika kedua dalam mengahadapi sebuah bencana. Dalam Tafsir Al-Mishbah, Quraish Shihab memaparkan bahwa sabar sebagai keberhasilan menahan gejolak nafsu untuk meraih yang baik atau yang lebih baik, serta keberhasilan dalam melaksanakan tuntunan Allah secara konsisten tanpa meronta atau mengeluh.

Disebutkan dalam QS Al-Baqarah ayat 2 bahwa Allah menjanjikan berita gembira bagi orang-orang yang bersabar, yaitu sebuah kebahagian dan kegembiraan. Sebab itu bersabarlah ketika bencana datang melanda. Tak perlu menggerutu atau berputus asa begitu saja, Karena dengan kesabaran tersebut niscaya Allah akan memenuhi janji-Nya untuk memberikan kebahagiaan yang lain setelah kebahagiaan sebelumnya hilang akibat datangnya bencana.

Selanjutnya adalah bertawakkal kepada Allah. Tawakkal bukan berarti penyerahan mutlak kepada Allah, tetapi penyerahan tersebut harus didahului dengan usaha manusiawi. Seorang muslim dituntut untuk berusaha, tapi pada saat yang sama ia dituntut pula untuk berserah diri kepada Allah. QS At Thalaq mengingatkan:

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا

“Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan menunjukkan jalan keluar.”

Selain tiga hal yang disebutkan di atas,  seharusnya mampu mendorong manusia untuk belajar atas kejadian-kejadian tersebut, kemudian meminimalisir kemungkinan terjadinya bencana itu kembali. Adapun usaha yang dapat dilakukan manusia dalam mencegah datangnya bencana kembali adalah, semakin mendekatkan diri kepada Allah dan tidak melakukan kerusakan di bumi.

*Mahasiswa Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Alumnus Unhasy dan santri Pondok Pesantren Putri Walisongo Jombang.

SebelumnyaBolehkah Kencing Sambil Berdiri?
BerikutnyaGus Sholah Sebut Pesantren Potensial untuk Kampanye Kesehatan