
Akidah tidak sekadar menjadi label identitas, melainkan membentuk cara pandang dan sikap hidup. Dari fondasi inilah lahir respons terhadap perbedaan, cara menilai orang lain, hingga sikap dalam menghadapi dinamika umat. Fondasi yang kokoh akan melahirkan ketenangan dan kebijaksanaan, sedangkan fondasi yang rapuh mudah memicu sikap reaktif dan saling menyalahkan.
Fondasi beragama menjadi titik tekan utama dalam kajian kitab Al-Qanun Al-Asasi yang diselenggarakan Tebuireng Media Group pada Rabu–Kamis (25–26 Februari 2026), yang disampaikan oleh Ustadz Abror Rosyidin sebagai qari’. Forum kajian ini mengajak peserta untuk menata ulang cara berpikir dalam memahami agama sebelum memasuki perdebatan-perdebatan cabang yang kerap menyita energi umat.
Baca Juga: Dari Fondasi Menuju Kedewasaan Beragama
Dalam pemaparannya, Ustadz Abror menegaskan bahwa Al-Qanun Al-Asasi karya KH. Hasyim Asy’ari bukanlah kitab yang ditujukan untuk adu dalil atau memperpanjang perdebatan furu’iyah (cabang). Kitab ini justru mengajak umat untuk membenahi cara berpikir sebelum memasuki wilayah-wilayah teknis keagamaan. Menurutnya, banyak problem keagamaan hari ini bukan semata karena kurangnya ibadah, melainkan karena fondasi akidah dan manhaj berpikir yang belum tertata dengan baik.
Ia menjelaskan bahwa kitab ini lahir dari kegelisahan Hadratussyaikh melihat kondisi umat yang mudah terjebak dalam perdebatan perbedaan, tetapi kurang memberi perhatian pada prinsip-prinsip dasar. Persoalan cabang sering kali dibahas secara berlebihan, sementara aspek akidah dan kerangka berpikir justru terabaikan. Akibatnya, agama kerap tampil keras di permukaan, namun kehilangan kedalaman makna.
Pembahasan difokuskan pada urutan dalam beragama. Bahwa Islam memiliki struktur yang jelas: ada yang pokok dan ada yang cabang. Ketika urutan ini terbalik, seseorang bisa sangat aktif memperdebatkan persoalan teknis, tetapi lalai pada nilai-nilai fundamental. Al-Qanun Al-Asasi hadir sebagai pengingat agar umat tidak keliru dalam memulai pemahaman agama.
Baca Juga: Meneguhkan Fondasi Beragama melalui Al-Qanun Al-Asasi
Kajian ini juga menyoroti penegasan akidah Ahlussunnah wal Jamaah dalam kitab tersebut sebagai pijakan utama. Akidah tidak sekadar menjadi label identitas, melainkan membentuk cara pandang dan sikap hidup. Dari fondasi inilah lahir respons terhadap perbedaan, cara menilai orang lain, hingga sikap dalam menghadapi dinamika umat. Fondasi yang kokoh akan melahirkan ketenangan dan kebijaksanaan, sedangkan fondasi yang rapuh mudah memicu sikap reaktif dan saling menyalahkan.
Selain itu, kajian ini juga mengaitkan isi Al-Qanun Al-Asasi dengan realitas keberagamaan di era media sosial. Qari’ menyoroti kecenderungan sebagian orang yang merasa cukup belajar agama dari potongan video, kutipan singkat, atau unggahan singkat di media sosial. Tanpa fondasi berpikir yang utuh, potongan-potongan informasi tersebut justru berpotensi melahirkan pemahaman yang parsial dan tergesa-gesa.
Dalam konteks ini, Ustadz Abror menegaskan, pentingnya sanad keilmuan dan peran ulama. Al-Qanun Al-Asasi meneguhkan bahwa agama tidak dipelajari secara instan. Ada tradisi intelektual dan transmisi ilmu yang harus dijaga. Tanpa itu, keberagamaan mudah berubah menjadi klaim sepihak yang merasa paling benar.
Menariknya, penyampaian materi berlangsung dengan nada yang tenang dan dialogis. Ustadz Abror tidak menempatkan fondasi akidah sebagai alat untuk menghakimi, melainkan sebagai sarana membentuk kedewasaan dalam beragama. Akidah yang benar, menurutnya, seharusnya melahirkan kebijaksanaan, toleransi, dan ketenangan dalam menyikapi perbedaan.
Baca Juga: Menggali Muqaddimah Qanun Asasi sebagai Kerangka Berpikir Keislaman
Kajian ini menghadirkan pesan yang sederhana namun mendalam, seperti; sebelum sibuk berdebat dan merasa paling memahami agama, benahi terlebih dahulu dasar berpikir dan beriman. Al-Qanun Al-Asasi mengajak umat untuk kembali pada prinsip, bukan larut dalam perdebatan yang tidak produktif.
Forum kajian ini menjadi pengingat bahwa kekuatan umat Islam tidak terletak pada kerasnya argumen, melainkan pada kokohnya fondasi. Melalui pembacaan kitab ini, peserta diajak untuk beragama dengan ilmu, ketenangan, dan tetap terhubung dengan tradisi keilmuan para ulama.
Pereview: Amelia (Mahasiswa Magang, UIN Surabaya)


















