Meneguhkan Fondasi Beragama melalui Al-Qanun Al-Asasi

65
Al-Qanun Al-Asasi bukan sekadar dokumen historis organisasi, melainkan rumusan prinsip dasar dalam beragama yang disusun oleh Hadratussyaikh sebagai pedoman berpikir dan bersikap.

Kajian kitab Al-Qanun Al-Asasi karya KH. Hasyim Asy’ari yang digelar pada Sabtu–Ahad (21–22 Februari 2026) di kantor Tebuireng Media Group menghadirkan suasana kajian yang khidmat sekaligus reflektif. Kegiatan ini dibawakan oleh Ustadz Yayan Mustofa selaku qari’, yang tidak hanya membacakan teks, tetapi juga mengurai makna dan relevansinya bagi kehidupan umat Islam hari ini.

Baca Juga: Selama Ramadan, Tebuireng Media Group Kaji Al-Qanun Al-Asasi Karya Hadratussyaikh

Sejak awal, Ustadz Yayan menegaskan bahwa Al-Qanun Al-Asasi bukan sekadar dokumen historis organisasi, melainkan rumusan prinsip dasar dalam beragama yang disusun oleh Hadratussyaikh sebagai pedoman berpikir dan bersikap. Kitab ini, menurutnya, lahir dari kegelisahan terhadap pentingnya fondasi akidah dan manhaj yang kokoh di tengah dinamika umat.

Dalam penjelasannya, Ustadz Yayan mengajak jamaah memahami bahwa inti ajaran dalam Al-Qanun Al-Asasi adalah peneguhan akidah Ahlussunnah wal Jamaah yang berpijak pada keseimbangan antara dalil naqli dan aqli. Prinsip ini menjadi penyangga agar umat tidak mudah terombang-ambing oleh arus pemikiran ekstrem maupun pemahaman keagamaan yang dangkal. Beragama, sebagaimana ditekankan dalam kitab tersebut, harus dilandasi ilmu, bukan sekadar semangat.

Pembahasan juga menyoroti pentingnya menjaga sanad keilmuan dan otoritas ulama. Ustadz Yayan menjelaskan bahwa Hadratussyaikh merumuskan dasar-dasar ini untuk memastikan bahwa praktik keberagamaan tetap terhubung dengan tradisi keilmuan yang sahih. Di tengah maraknya otoritas instan di era digital, pesan ini terasa semakin relevan.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Baca Juga: Menggali Muqaddimah Qanun Asasi sebagai Kerangka Berpikir Keislaman

Selain aspek teologis, kajian ini juga menyentuh dimensi sosial. Ustadz Yayan menekankan bahwa fondasi akidah yang kuat akan melahirkan sikap moderat, toleran, dan beradab dalam kehidupan bermasyarakat. Al-Qanun Al-Asasi mengajarkan bahwa perbedaan harus disikapi dengan kebijaksanaan, bukan dengan mudah menghakimi atau memecah belah.

Menariknya, dalam beberapa bagian, Ustadz Yayan mengaitkan isi kitab dengan tantangan kontemporer. Ia mengingatkan bahwa derasnya arus informasi dan polarisasi wacana keagamaan menuntut umat untuk kembali pada prinsip-prinsip dasar yang telah dirumuskan para ulama. Tanpa fondasi yang jelas, keberagamaan bisa terjebak pada formalitas atau bahkan konflik yang tidak produktif.

Baca Juga: Bedah Genealogi Al-Qānūn Al-Asāsī, Kiai Abdul A’la Ulas Transformasi NU Lintas Zaman

Pengajian selama dua hari ini menghadirkan pesan yang sederhana namun mendalam: pentingnya kembali meneguhkan dasar-dasar beragama sebagaimana dirumuskan oleh Hadratussyaikh. Al-Qanun Al-Asasi tidak hanya menjadi rujukan struktural, tetapi juga pedoman spiritual dan intelektual bagi umat Islam dalam menjaga kemurnian akidah sekaligus merawat harmoni sosial.

Kajian ini menjadi pengingat bahwa kekuatan umat tidak hanya terletak pada semangat, tetapi pada kokohnya fondasi. Melalui pembacaan dan pemaknaan Al-Qanun Al-Asasi, jamaah diajak untuk beragama dengan kedalaman ilmu, ketenangan sikap, dan komitmen menjaga tradisi keilmuan yang otoritatif.



Pereview: Amelia (Mahasiswa Magang, UIN Sunan Ampel Surabaya)
Editor: Rara Zarary