
Tebuireng.online— Ratusan santriwati mengikuti Wisuda Bil Ghaib ke-8, Binnadhor ke-9, Juz Amma ke-9, dan Purna Santri Pondok Putri Pesantren Tebuireng yang digelar di lapangan Tebuireng, Sabtu (23/5/2026). Kegiatan berlangsung khidmat dan penuh haru dengan dihadiri wali santri, pengasuh, serta jajaran ustadz dan ustadzah.
Dalam sebuah sambutan ketua panitia yang disampaikan oleh Ustadzah Qurratul Adawiyah, dijelaskan ada sebanyak 304 santri yang mengikuti prosesi wisuda tahun ini. “Rinciannya, dua wisudawati berhasil menyelesaikan hafalan 30 juz Al-Qur’an bil ghaib, satu wisudawati hafal 15 juz, 10 wisudawati hafal 10 juz, 33 wisudawati binnadhor, 34 wisudawati juz amma, serta 224 wisudawati purna santri tingkat SLTP dan SLTA,” tuturnya di hadapan seluruh hadirin.
Baca Juga: Inspiratif! Siswa Ini Tampil Memukau di Panggung Wisuda
Perwakilan wali santri, Hasanuddin Wahid M.Hum menyampaikan rasa syukur dan kebahagiaannya dapat menjadi bagian dari keluarga besar Pesantren Tebuireng Putri.
“Kami atas nama wali santri sungguh berbahagia dan bersyukur telah berada di tahap sekarang, di wisuda ini. Ini dilakukan setiap tahunnya dan kita menjadi bagian besar dari Pesantren Tebuireng Putri,” ujarnya.
Ia juga mengucapkan terima kasih kepada seluruh pengasuh dan tenaga pendidik yang telah membimbing para santri selama mondok di Tebuireng.
“Ribuan terima kasih kami sampaikan atas segala didikan para pak yai, bu nyai, ustadz dan ustadzah di Pesantren Tebuireng. Semoga dicatat Allah menjadi amal baik. Anak kami dari Jakarta Selatan bisa mengenal kitab kuning karena Pesantren Tebuireng,” katanya.
Menurutnya, lingkungan pesantren yang ramah anak membuat para santri merasa nyaman dalam belajar dan berkembang.
“Jangan sampai bapak ibu berhenti memondokkan anaknya di Pesantren Tebuireng. Di sini semua bakat diasah dengan baik oleh ustadz dan ustadzah. Kata anak kami, pesantrennya ramah anak, tidak ada kekerasan dan kami bisa dekat dengan ustadzah,” tambahnya.
Sementara itu, Kepala Pondok Putri Tebuireng, Gus Fahmi, menyampaikan sambutan melalui sambungan video dari Tanah Suci. Ia berpesan agar para wisudawati terus mengembangkan ilmu yang telah dipelajari.
Baca Juga: Gelar Wisuda Purnasiswa, Tebuireng Lepas 879 Wisudawan Tingkat SD dan SLTP
“Agar para wisudawati mendapatkan ilmu yang bermanfaat dan barokah, jangan berhenti di tahap ini. Jangan berhenti di 30 juz bagi program tahfidz, tingkatkan kemampuan itu. Demikian juga yang mengikuti program kitab kuning, lanjutkan sampai mampu menerapkan ilmu di masyarakat,” tuturnya.

Mudir III Pembinaan Pondok, Haji Lukman, menegaskan bahwa wisuda bukan akhir dari proses belajar para santri.
“Wisuda ini bukan berarti selesai belajarnya, tapi awal keberhasilan. Keberhasilan hakiki adalah nanti setelah pulang ke kampung halaman, bagaimana menetapkan diri di masyarakat dan mengajarkan ilmu sehingga bisa diamalkan,” jelasnya.
Muhammad Riza Yusuf yang mewakili pengasuh Tebuireng turut memberikan pesan kepada para wisudawati agar menjaga nilai-nilai Al-Qur’an dan akhlak khas santri Tebuireng.
“Al-Qur’an bukan sekadar untuk dihafalkan, tetapi dijaga. Jadilah santriwati yang menebar manfaat, membawa akhlaqul karimah khas Tebuireng, menunjukkan bahwa santriwati cerdas secara intelektual namun tunduk secara spiritual,” ungkapnya.
Ia juga mengingatkan pentingnya ketakwaan dalam kehidupan sehari-hari.
Baca Juga: Tebuireng dan Warisan Keikhlasan
“Bertakwalah di mana pun kalian berada. Kata Hadratussyaikh, ilmu yang dipelajari bertahun-tahun tidak ada gunanya jika tidak dibalut rasa takut dan takwa kepada Allah,” lanjutnya.

Usai sambutan, acara dilanjutkan dengan prosesi wisuda, penyematan mahkota kepada wali santri dari dua wisudawati penghafal 30 juz bil ghaib, serta pengumuman santri berprestasi. Momen tersebut berlangsung haru dan mengundang tangis bahagia para wali santri.
Salah satu wali santri, Ibu Artisa asal Gresik, mengaku puas dengan pelaksanaan wisuda tahun ini yang dinilai lebih nyaman dibanding tahun sebelumnya.
“Wisuda tahun ini lebih bagus. Tahun kemarin anak saya wisuda juz amma, tatanan kursinya dempet banget. Sekarang lebih nyaman pengaturan kursinya dan tidak panas tempatnya,” jelas wali dari Nazura, siswi SMP AWH tersebut.
Di sisi lain, salah satu wisudawati purna santri, Syaharani Mardhatillah, mengungkapkan rasa syukur dan terima kasih kepada para ustadzah yang telah mendampingi selama mondok. Ia mengaku mengambil program kitab kuning karena ingin memperdalam ilmu agama dan berencana melanjutkan pendidikan di Krapyak.
“Saya mengambil program kitab kuning karena ingin mendalami bidang itu. Nanti insyaallah lanjut lagi di Krapyak. Terima kasih untuk ustadzah, terutama pembina kamar yang selama ini memenuhi kebutuhan kami,” ujarnya.
Pewarta: Albii
Editor: Rara Zarary


















